Cerita Rumah Dinda: 30 Persen Penghasilan Auto Debet ke Tabungan, Bisa Punya Rumah Tanpa Cicilan

Wahyu Ardiyanto
Cerita Rumah Dinda: 30 Persen Penghasilan Auto Debet ke Tabungan, Bisa Punya Rumah Tanpa Cicilan
"Rumah adalah tempat me-recharge diri. Setelah lelah beraktivitas di luar, pulang ke rumah rasanya seperti mengisi daya kembali. Rumah tempat untuk healing, juga tempat bertumbuh kembang bersama keluarga." – Cerita Rumah Dinda
Membeli rumah siap huni dengan skema KPR bisa dibilang jadi opsi yang paling banyak dipilih para pejuang rumah masa kini. Namun Adinda Tiara dan suaminya, Arief Dwijanarko, memilih jalan lain. Sejak awal, mereka bertekad untuk membeli tanah dan membangun rumah secara tunai, tanpa KPR, hanya mengandalkan tabungan.
Dinda dan suami punya beberapa pertimbangan. Paling utama, mereka tidak suka berutang dan lebih suka mengumpulkan dana sampai bisa membeli apa yang mereka inginkan. Tambah lagi, Arief punya latar belakang dan pengalaman sebagai arsitek.
Namun mencari tanah di lokasi strategis dengan harga yang terjangkau memang tidak semudah yang dibayangkan. Proses menabung demi membangun rumah impian juga butuh kesabaran, disiplin dalam mengelola keuangan. Kesabaran mereka pun terbayar ketika akhirnya berdiri sebuah rumah dengan bangunan seluas 80m2 di Ciputat, Tangerang Selatan.
Mau punya rumah yang nempel Jakarta, dekat Stasiun MRT, segala fasilitas lengkap tersedia seperti rumah Dinda? Temukan pilihan rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan harga di bawah Rp1 miliar di sini!

Cerita Rumah Dinda: Harus Punya Rumah Sendiri Meski Rumah Ibu Nyaman Ditinggali

Cerita Rumah Dinda: Harus Punya Rumah Sendiri Meski Rumah Ibu Nyaman Ditinggali
Lahan di rumah ibu Dinda cukup luas, sehingga bisa dibangun paviliun seukuran 6x5 meter untuk ditinggali. Nyaman, sehingga tidak terburu-buru untuk punya rumah sendiri.
Dinda dan Arief bertemu di negeri tetangga, Singapura. Saat itu, Dinda bekerja sebagai pramugari yang berbasis di Singapura. Sementara Arief, tengah menempuh pendidikan master di Singapura, yang kemudian bekerja di sana sebagai arsitek dan manajer proyek. Mereka menikah pada tahun 2011.
Dinda baru berhenti bekerja saat tahu dirinya hamil. Mereka lalu kembali ke Indonesia tahun 2013. Karena belum memiliki rumah sendiri, mereka tinggal di rumah ibu Dinda di area Ciputat. Kebetulan lahan di rumah ibu Dinda cukup luas, sehingga Dinda bisa membangun paviliun seukuran 6x5 meter untuk ditinggali.
“Saya sebenarnya nyaman sekali tinggal di rumah ibu. Kami kan tidak mengontrak, jadi saya santai saja. Tidak mau terburu-buru atau ngoyo mencari rumah. Namun suami mengingatkan, kami tetap harus punya rumah sendiri. Tidak bisa tinggal menumpang di rumah orang tua terus,” tutur Dinda.
Dinda tidak punya kriteria macam-macam mengenai rumah idealnya. Pokoknya punya rumah, begitu pikirnya. Ia juga tak mempermasalahkan luas rumahnya. Ia hanya mendambakan rumah yang banyak jendela. Karena mengidap asma, berada di ruangan yang minim jendela membuatnya merasa sesak.
“Pertimbangan utama kami memilih membangun rumah sendiri adalah bujet, bukan desain. Apalagi harga rumah jadi memang sudah mahal. Kami ingin punya rumah dekat tempat tinggal ibu di Ciputat. Tapi harga rumah di area itu tahun 2014 aja sudah Rp800 jutaan, bahkan ada yang mencapai miliaran. Wah, mana cukup uang kami?” urai Dinda.

Cerita Rumah Dinda: Khawatir Suku Bunga Tinggi, Beli Tanah Teman Ibu yang Ingin Naik Haji

Cerita Rumah Dinda: Khawatir Suku Bunga Tinggi, Beli Tanah Teman Ibu yang Ingin Naik Haji
Tanah yang ditawarkan pada Dinda berada dalam kompleks yang luas dan juga masih asri. Di tepi jalan banyak pepohonan, jalanan kompleks besar, bisa dilewati dua mobil.
“Karena itulah, saya dan suami berniat membeli tanah dan membangun rumah sendiri saja. Kami pikir, suami bisa menekan bujet pembangunan rumah karena dia arsitek yang sudah pernah menggarap proyek rumah. Dia mengerti harga bahan bangunan, serta biasa berkomunikasi dengan mandor dan tukang,” jelas Dinda.
Namun ada hal lain juga yang jadi pertimbangan Dinda, ia menghindari cicilan karena mengkhawatirkan suku bunga kredit yang tinggi. Apalagi ia juga sudah tidak bekerja lagi. Dinda sendiri mengaku orang yang tak terbiasa berutang. Sejak Dinda kecil, orang tuanya mendidik untuk hidup semampunya.
Proses pencarian tanah pun dimulai. Dinda dan suaminya berburu tanah di sejumlah area, antara lain sekitar Pamulang dan Bintaro. Sayangnya, belum ada yang nyangkut di hati karena harganya melebihi bujet yang mereka punya. Pencarian mereka baru berakhir setelah ibu Dinda memberikan info, ada temannya yang menjual tanah.
Lagi cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya pada laman AreaInsider
“Kebetulan, teman ibu saya sedang butuh uang karena ingin naik haji. Tanah yang dijual berada dalam kompleks lama di Ciputat, tapi berbeda kompleks dengan ibu saya. Begitu mengunjungi kompleksnya, kami langsung jatuh hati,” papar Dinda.
Tanah yang ditawarkan pada Dinda berada dalam kompleks yang luas dan juga masih asri. Di tepi jalan banyak pepohonan, jalanan kompleks besar, bisa dilewati dua mobil. Luas tanah yang dijual juga relatif besar, 168m2 dan sudah dipagari. Suami Dinda langsung merasa cocok sejak pertama kali melihatnya.

Cerita Rumah Dinda: Nama di Sertifikat Berbeda dari Pemilik Asli, Jasa Notaris Jadi Solusi

Cerita Rumah Dinda: Nama di Sertifikat Berbeda dari Pemilik Asli, Pakai Jasa Notaris Jadi Solusi
Agar aman dan guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, Dinda dan Arief menggunakan jasa notaris sepanjang proses pembelian tanah dan pengurusan legalitasnya.
“Sebenarnya, saya segan karena kompleks itu dekat dari Pasar Ciputat, area yang terkenal macet. Apalagi, jika ingin pergi ke Jakarta, kami harus melewati jalan utama, Jl. Ir. H. Juanda yang juga padat. Namun saya pikir, daripada dapat tanah di Pamulang atau Sawangan yang lebih jauh, lebih baik di sini. Toh di mana-mana juga macet,” cerita Dinda yang mengaku sempat bimbang.
Dinda dan Arief akhirnya membeli tanah tersebut seharga Rp350 juta. Proses pembelian tanah berjalan cukup lancar, tapi awalnya mereka heran karena nama pemilik tanah di sertifikat berbeda dari nama pemilik sebenarnya.
“Pemilik tanah sebenarnya adalah Pak A, tapi sertifikat itu atas nama teman beliau, yakni Pak X. Bingung sih…. Mungkin pada zaman Orde Baru, ini lumrah ya?! Untung Pak X waktu itu masih hidup dan bersedia membantu prosesnya. Jadi kami seolah bertransaksi dengan Pak X. Andai Pak X sudah tiada dan kami harus berurusan dengan ahli warisnya, tentu lebih rumit,” jelas Dinda.
Bila tidak ingin repot, Anda bisa membuat sertifikat tanah lewat notaris dengan biaya yang terjangkau. Yuk, simak langsung informasinya di video ini
Agar aman dan guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, Dinda dan Arief menggunakan jasa notaris sepanjang proses pembelian tanah dan pengurusan legalitasnya. Untuk biaya notaris mereka tanggung. Transfer uang pembelian tanah juga dilakukan di depan notaris. Namun setelah tanah tersebut resmi menjadi milik mereka, mereka tak langsung membangun rumah. Mereka kembali menabung untuk mengumpulkan dana dahulu.
Bagi Dinda, hal paling penting dalam proses mewujudkan rumahnya memang menabung. Ia sudah mulai giat menabung sejak sebelum menikah. Sewaktu masih bekerja sebagai pramugari, setiap gajian, ia langsung menyisihkan 30 persen dari penghasilannya untung ditabung. Tabungan itu di-autodebet ke rekening khusus yang tak bisa diambil.

Cerita Rumah Dinda: Hidup Sederhana di Singapura Bisa Beli Apartemen di Jakarta

li Apartemen di Jakarta
Selain menekan biaya tempat tinggal, Dinda juga makan seadanya dan tidak sering belanja barang bermerek. Karena itu, saat masih di Singapura, ia sudah mampu membeli unit apartemen di Jakarta.
Dinda memang terbiasa hidup hemat dan cermat, “Biaya hidup di Singapura sebenarnya mahal. Dulu, banyak rekan kerja saya yang menyewa apartemen sampai 2 ribu dolar per bulan. Sementara, saya menyewa sebuah kamar 500 dolar per bulan di rumah satu keluarga. Setelah menikah, saya dan suami tetap di sana, tapi kami menyewa kamar yang lebih besar seharga 800 dolar saja.”
Selain menekan biaya tempat tinggal, Dinda juga makan seadanya dan tidak sering belanja barang bermerek. Karena itu, saat masih di Singapura, ia sudah mampu membeli unit apartemen di Jakarta. Unit itu sengaja dibeli Dinda sebagai investasi yang kemudian disewakan. Ibunya membantu proses pembeliannya saat Dinda masih di Singapura.
“Sekarang instrumen investasi banyak sekali, tapi saya masih konvensional. Saya lebih suka berinvestasi properti karena aman. Harga properti cenderung stabil, malah semakin meningkat. Dulu, saya mencari properti melalui berbagai situs, antara lain lewat laman listing properti di jual di Rumah.com,” jelas Dinda.

Tips Rumah.com

Agar cepat punya rumah, sebaiknya buka rekening baru khusus untuk tabungan rumah. Dengan memisahkan rekening tabungan untuk membeli rumah dengan rekening yang biasa digunakan, maka Anda bisa memantau perkembangan tabungan dengan lebih jelas tanpa bercampur pemasukan atau pengeluaran dari rekening biasa.

Walaupun sebenarnya memiliki properti, Dinda dan suami tidak mau menjual aset mereka hanya demi membeli tanah dan membangun rumah di Ciputat. Mereka benar-benar ingin berpegang pada bujet yang ada saja. Prinsip mereka, semua harus disesuaikan dengan kantong dan kemampuan saat itu.
Satu setengah tahun setelah membeli tanah di Ciputat, Dinda dan suami akhirnya memulai pembangunan rumah mereka. Bujet awal ditetapkan sebesar Rp200 juta, walaupun sudah bersiap dengan kemungkinan bujet membengkak.

Cerita Rumah Dinda: Punya Rumah Tanpa Mencicil, Bercita-cita Jadi Pengembang Kecil

Cerita Rumah Dinda: Punya Rumah Tanpa Mencicil, Bercita-cita Jadi Pengembang Kecil
Dinda dan suami bercita-cita menjadi pengembang kecil-kecilan. Apalagi, Arief punya potensi dan pengalaman membangun properti.
Ketika proses pembangunan rumahnya, Arief sengaja memakai jasa delapan orang tukang sekaligus untuk membangun rumah seluas 65m2. Tujuannya, agar rumah cepat selesai dan bisa menekan bujet. Tentu saja, Arief dan Dinda selalu mengontrol proses pembangunannya. Hebatnya, dalam kurun waktu 1,5 bulan rumah mereka pun selesai.
Saat itu, biaya pembangunan rumah mereka sudah mencapai angka Rp300 juta. Karena tak ingin biayanya lebih membengkak lagi, Dinda dan Arief memutuskan untuk menghentikan pembangunan. Bangunan awal rumah mereka sudah bisa ditempati, walau finishing-nya belum sempurna. Terpenting sudah ada toilet, dapur, dan jalur listrik.
Hingga kini, Dinda sudah dua kali merenovasi rumahnya. Ia memperluas dapur dan membuat dak di atas dapur. Luas rumahnya bertambah menjadi 80m2. Dinda masih berencana menambah kamar tidur lagi. Saat ini, kamarnya hanya dua, sementara ia punya dua anak. Tentu kelak mereka membutuhkan tambahan kamar.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
Kelak, Dinda dan suami bercita-cita menjadi pengembang kecil-kecilan. Apalagi, Arief punya potensi dan pengalaman membangun properti. Mereka ingin membangun dan menjual rumah-rumah kecil, sesuai minat pasar saat ini. Menurut Dinda, banyak orang kurang berminat pada rumah besar, karena harga, perawatan, dan pajak yang tinggi.
“Itu mungkin impian jangka panjang. Saat ini kami sudah bersyukur atas apa yang ada. Rumah yang punya ventilasi udara bagus dan tanpa cicilan. Apalagi, nilai rumah di kompleks kami semakin meningkat. Rumah seluas 80m2 sudah bisa dijual senilai Rp1,5 miliar. Bagi kami, upaya mewujudkan rumah ini sudah benar-benar optimal,” ujar Dinda penuh syukur diujung percakapan.
Itulah cerita perjuangan Dinda wujudkan rumah impian tanpa terbebani cicilan. Terwujud berkat pola hidup sesuai kemampuan dan disiplin menyisihkan penghasilan. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Eyi Puspita, Foto: Lufthi Hamdi

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini