Cerita Rumah Edo: Tabungan Habis Buat Traveling ke Luar Negeri, Beli Rumah Buat Aset Properti Modal Negosiasi

Wahyu Ardiyanto
Muda, dinamis, dan kreatif. Begitulah sosok Edo Oktorano Erhan, pria 34 tahun dengan perjalanan karir yang terus melesat. Karir yang memberikannya banyak pengalaman dan perjalanan liburan ke berbagai tempat yang ia inginkan.
Hingga suatu ketika, ia tersadar bahwa hidup konsumtif tidak akan meninggalkan sebuah aset apa pun. Ditambah ia punya niatan yang mulia, ingin memberikan fasilitas kepada kedua orang tuanya yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun.
Sayangnya, saat ia merasa harus segera menemukan rumah sebelum jatuh masa pensiun sang ayah, tabungan yang dimilikinya bisa dibilang tak seberapa. Padahal ia menemukan sebuah rumah yang dirasanya cocok, di daerah incarannya pula, Serpong, Tangerang Selatan.
Berbekal tekad kuat plus niat mulia demi membahagiakan orang tua, Edo mampu mengatasi kendala pembelian rumahnya dan berhasil mewujudkan rumah impiannya di tanah seluas 56 meter persegi dengan bangunan dua lantai seluas 75 meter persegi.
Mau punya rumah di Serpong, Tangerang Selatan, yang fasilitas kawasannya berlimpah dan hanya selangkah dari Jakarta seperti rumah Edo? Temukan pilihan rumahnya dengan harga di bawah Rp1 M di sini!

Cerita Rumah Edo: Beli Rumah Bukan Hanya Sebagai Aset, Tapi Juga Pembuktian Diri

Cerita Rumah Edo: Beli Rumah Bukan Hanya Sebagai Aset, Tapi Juga Pembuktian Diri
Menurut Edo, beli rumah otomatis jadi punya tabungan aset. Cicilan KPR juga memaksa dirinya agar lebih bertanggungjawab secara keuangan, mengingat kebiasaannya dulu yang suka staycation ke luar negeri.
Tahun 2012 Edo pamit kepada orang tuanya untuk mencari pengalaman di Jakarta selama dua tahun, baru kemudian melanjutkan pendidikan S2-nya. Beralih dari bidang kenotariatan sebagai gelar S1-nya, ia lebih memilih melanjutkan ke bidang ekonomi manajemen.
Karier Edo pun menanjak, dari perusahaan finansial di tahun 2016 ia lompat ke agensi Gushcloud Indonesia di mana ia bisa menerapkan ilmu marketing kreatifnya untuk hasil revenue yang signifikan. Mulai dari kenaikan gaji hingga bonusnya, banyak dikeluarkan untuk ‘membeli’ pengalaman baru, traveling.
“Sebanyak-banyaknya tabungan, kalau buat traveling nggak akan pernah cukup. Karena saat senang itu kita mengeluarkan uang tidak dibarengi dengan tanggung jawab, jadi melewati medio 2018 kerasa tuh saya nggak punya tabungan,” ujar Edo.
Kenaikan pendapatan yang melesat sayangnya tidak secara signifikan mengubah aset Edo. Di sisi lain Edo sadar bahwa segala hal yang berbau konsumtif jika dibiarkan memang akan berbahaya. Berangkat dari sini ia memutuskan untuk memindahkan sebagian pendapatannya menjadi aset properti.
Tak hanya itu, Edo juga sadar bahwa bulan Februari 2019 ayahnya akan memasuki masa pensiun. Ia ingin memberi pembuktian diri atas argumentasinya yang cukup kuat karena dahulu sang ayah menginginkan ia melanjutkan S2 kenotariatan.
“Orang tua saya di Lampung, kita rajin liburan bersama. Saya merasa penting menyiapkan fasilitas pribadi untuk keluarga ketika mereka datang ke Jakarta. Selain itu, tujuan jangka panjangnya ya sebagai tempat mereka istirahat juga setelah pensiun,” ujar Edo.
Ia tambahkan, “Dengan beli rumah, otomatis saya punya tabungan aset. Dan dengan mencicil secara KPR, itu memaksa diri saya supaya tidak menghamburkan uang dengan cara tak bertanggungjawab seperti kebiasaan sebelumnya traveling ke luar negeri.”

Cerita Rumah Edo: Incar Kawasan Serpong, Tangerang Selatan yang Prospektif untuk jangka Panjang

Cerita Rumah Edo: Incar Kawasan Serpong, Tangerang Selatan yang Prospektif untuk jangka Panjang
Sejak mulai berpikir harus membeli rumah, langkah pertama yang dilakukan Edo fokus mencari lokasi yang tidak dekat dengan kantor. Pertimbangannya adalah potensi area yang prospektif untuk jangka panjang.
Saat itu Edo yang kost di Kemanggisan Raya, Jakarta Barat, yang aksesnya dirasanya mudah. Selama empat tahun kost, kantor yang berpindah-pindah mulai dari Mampang Prapatan, Mayestik, hingga Radio Dalam semua mudah dicapai.
Menariknya, sejak mulai berpikir harus membeli rumah, langkah pertama yang dilakukan adalah fokus mencari lokasi yang tidak dekat dengan kantor. Pertimbangan lokasinya adalah yang potensi areanya prospektif untuk jangka panjang.
“Rumah itu untuk jangka panjang. Bukan untuk saya saja tapi juga buat keluarga. Saya melirik Tangerang Selatan khususnya Serpong, karena area tersebut adalah segitiga emas,” jelas Edo yang merasa pengembangan area di Tangerang Selatan cukup banyak.
Ia mencoba memetakan wilayah dengan cara browsing melalui internet, kemudian survei langsung ke lokasi dan perumahannya. Walau sering ke rumah saudaranya di Pamulang, tetapi Edo kurang menyukai areanya yang dinilainya sudah ‘matang’. Menurutnya tidak ada pengembangan lagi.
Kata kunci yang dimasukkan Edo saat browsing pada listing properti dijual di Rumah.com adalah Tangerang Selatan. Dari hasilnya, Edo fokus pada harga, apakah sesuai dengan propertinya, serta reputasi pengembangnya. Jika dirasa masuk akal, baru kemudian Edo mengukur bujet.
“Ketika browsing di Rumah.com itulah saya baru sadar ada opsi selain beli rumah baru, yaitu rumah seken yang selanjutnya tinggal direnovasi. Menarik sih, beli rumah seken dulu baru dibangun sesuai keinginan. Kendalanya, saya nggak punya cash money. Rumah bisa di-KPR-in, lalu dana renovasinya?” papar Edo.

Cerita Rumah Edo: Tertarik Rumah Klaster, Bujet Harga Rumah Tidak Lebih dari Rp1 Miliar

Cerita Rumah Edo: Tertarik Rumah Klaster, Bujet Harga Rumah Tidak Lebih dari Rp1 Miliar
Edo tidak terlalu mementingkan bentuk fasad rumah karena baginya bisa diakali dengan pemilihan furnitur. Ia merasa sreg dan nyaman dengan rumah ini karena memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang bagus.
Sejak awal Edo sudah menakar kemampuannya hanya bisa beli rumah secara KPR. Untuk perhitungan kasar ia menggunakan kalkulator KPR Rumah.com, sehingga bisa terlihat harga yang ia sanggup serta cicilan per bulannya berapa.
“Dengan hitungan kalkulator KPR, pikiran jadi terbuka. Target beli rumah tidak boleh lebih dari Rp1 miliar,” hitung Edo. Dalam dua bulan, lebih dari lima perumahan ia datangi hingga menemukan yang dirasa paling cocok.
Hingga akhirnya Edo beranikan diri masuk ke sebuah perumahan baru yang sering ia lewati karena merupakan jalan pintas dari BSD ke Pamulang. Tidak terpikir masuk ke area tersebut karena kesan dari luar harga rumahnya sangat mahal.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
“Saya berani karena suatu hari saya lihat postingan salah satu teman baru membeli rumah di perumahan ini. Saya hapal, rasanya familiar. Lalu saya kontak dan langsung minta nomor telpon sales-nya. Nggak lama saya janjian dan langsung datang ke lokasi,” kata Edo.
Masih ada sisa tujuh kavling rumah indent yang dijual di perumahan tersebut. Perumahan berkonsep klaster di kawasan Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, dengan luas tanah 56 meter persegi dan bangunan dua lantai sekitar 75 meter persegi.
Edo tidak terlalu mementingkan bentuk fasad rumah karena baginya bisa diakali dengan pemilihan furnitur. Ia merasa sreg dan nyaman dengan rumah ini karena memiliki sirkulasi udara dan pencahayaannya bagus, lingkungan pun sangat asri.

Cerita Rumah Edo: Harga Rumah Rp890 Juta, DP Dicicil Tiga Kali, Negosiasi Jadi Solusi

Cerita Rumah Edo: Harga Rumah Rp890 Juta, DP Cicil Tiga Kali, Negosiasi Jadi Solusi
Rumah sudah klik, tapi kemampuan belum ada. Apalagi saat itu Edo sudah suka dengan rumahnya. Bahkan ia sempat mencoba airnya dan menurutnya air mentahnya enak. Edo pun meminta waktu untuk berpikir.
“Harga rumahnya Rp890 juta. Tapi ini belum termasuk biaya-biaya tambahan lainnya yang harus disiapkan di awal secara cash sekitar Rp80 juta hingga Rp90 juta,” ujar Edo.
Ia tambahkan, “Yang enak sih DP rumahnya hanya 10%, sebenarnya ringan. Sales-nya minta uang tanda jadi (UTJ) Rp10 juta untuk pengurusan berkas awal dan sisanya akan mengurangi DP rumah yang boleh dicicil tiga kali. Tapi saat itu uang saya habis, hanya sisa untuk pegangan hidup sehari-hari.”
Rumah sudah klik, tapi kemampuan belum ada. Apalagi saat itu Edo sudah suka dengan rumahnya. Bahkan ia sempat mencoba airnya dan menurutnya air mentahnya enak. Edo pun meminta waktu untuk berpikir.
Edo merasa jika suka sama rumah itu maka ia harus percaya diri dulu. Berbekal pengalaman sebagai sales juga, ia percaya fungsi sales itu memberi solusi. Maka ia ajak agen tersebut bertemu esoknya di tempat yang netral, untuk melancarkan negosiasi.
“Saya pikir saya akan coba untuk terbuka dulu soal kondisi saat ini, tunjukkan gaji saya dengan kenaikannya di 2019 nanti, lalu solusi dia apa. Saya sudah niat dengan rumah ini, tapi kemampuan mencicil DP setiap bulan sangat terbatas. Saya bilang jangan khawatir soal cicilan KPR, karena nanti gaji akan naik,” jelas Edo.
Dipikiran Edo saat itu: jika kendala tak ada jalan keluarnya, maka ikhlaskan saja. Kalau hitungannya masuk tanpa dipaksakan, berarti rumah itu rejekinya. Agen tersebut kemudian mencoba membantu dengan mengutak-utik perhitungannya.

Cerita Rumah Edo: Biaya-biaya Tambahan Beli Rumah Rp90 Juta, Dinegosiasi Lagi Jadi Rp35 Juta

Cerita Rumah Edo: Biaya-biaya Tambahan Beli Rumah Rp90 Juta, Dinegosiasi Lagi Jadi Rp35 Juta
Awalnya sales mau memberikan bonus AC dan kitchen set buat Edo, tapi Edo minta potongan harga saja. Bahkan Edo sampai browsing mencari tahu apakah biaya notaris dan pajak memungkinkan untuk dinegosiasi.
Keluarlah solusi, DP rumah bisa dicicil enam kali. Tapi di bulan keenam Edo harus siap dengan dana untuk biaya-biaya tambahan beli rumah sebesar Rp90 juta. Edo melakukan negosiasi lagi, karena nantinya seluruh pengurusan legalitas ke notaris dibantu oleh pihak pengembang.
“Awalnya sales mau kasih bonus AC dan kitchen set, saya bilang kurangin saja karena butuhnya dana likuid. Semalaman itu saya browsing apakah biaya notaris dan pajak bisa dinego atau tidak. Fair enough, dia minta UTJ Rp10 juta, DP dibagi enam, dan untuk biaya tambahan akhirnya mentok Rp35 juta,” papar Edo.
Sudah mendapat potongan harga dan solusi dari agen pemasaran, tetapi masih ada kendala yang dihadapi. Saat itu uang di tabungan pas Rp10 juta, kalau membayar UTJ langsung, masih ada sisa tiga minggu ke depan hingga ia gajian lagi.
“Di waktu genting, saya coba cari pinjaman ke teman-teman terdekat, yang akan saya bayar saat gajian. Sengaja nggak bilang ke orang tua karena nanti jadi khawatir, nggak punya uang kok nekat beli rumah,” kata anak kedua dan satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini.
Ia tambahkan, “Sampai ngomong ke tiga teman, dua nggak bisa pinjamkan dan satu orang jawabnya ‘nanti dikabari’. Saya ikhlas deh, kalau sampai tiga orang nggak bisa pinjamkan, artinya rumah ini belum milik, curhat saya ke seorang sahabat.”
Sang sahabat tempat Edo curhat menyambar, kalau misalkan dia kasih Rp10 juta uangnya ke Edo, ditabungannya hanya tersisa Rp800 ribu. Tanpa ekspektasi, Edo bilang kalau ia hanya melontarkan curhatan saja.

Cerita Rumah Edo: Pinjam Uang Teman untuk Uang Tanda Jadi, Pilih Bank KPR dengan Teliti

Cerita Rumah Edo: Pinjam Uang Teman untuk Uang Tanda Jadi, Pilih Bank KPR dengan Teliti
Selesai permasalahan UTJ dan skema perhitungan DP rumah, maka proses berikutnya menentukan KPR. Pengembang perumahan memberikan beberapa pilihan KPR dari bank rekanan.
Esok paginya sahabat ini mengontak Edo sambil berkata, “Sepuluh jutanya sudah gue kirim ya. Gue dengan delapan ratus ribu masih bisa hidup kok, yang sepuluh juta lo bayar buat rumah dulu, kalau sudah niat jangan sampai itu rumah hilang!”
“Jujur nggak nyangka, karena saya nggak mau ngerepotin dia juga. Cuma dia bilang ingat dulu pernah saya beliin HP waktu sedang butuh. Padahal dia kembalikan juga uang beli HP-nya. Akhirnya karena jadi amanat, saya langsung masukin uangnya jadi UTJ rumah,” cerita Edo mengenang momen emosionalnya.
Di hari selanjutnya salah satu teman yang Edo niat pinjam uangnya mengirimi uang, yang langsung Edo bayarkan kepada sahabat yang meminjamkannya tersebut. “Hukum tabur tuai ternyata nyata, ya,” ujarnya.
Selesai permasalahan UTJ dan skema perhitungan DP rumah, maka proses berikutnya menentukan KPR. Pengembang perumahan memberikan beberapa pilihan KPR dari bank rekanan. Dari seluruhnya Edo hanya fokus di dua bank, BTN dan BNI Syariah.
“Keduanya ada untung ruginya. KPR Syariah flat rate atau cicilannya tetap, tetapi kalau di tengah jalan mau dilunasin itu nggak bisa. Kalau KPR konvensional memang suku bunganya fluktuatif tapi lebih fleksibel kalau mau dilunasi atau pindah KPR ke bank lain,” jelas Edo.

Cerita Rumah Edo: Dapat Tenor KPR 10 Tahun, Ambil Tenor 15 Tahun

Cerita Rumah Edo: Dapat Tenor KPR 10 Tahun, Ambil Tenor 15 Tahun
KPR Edo akhirnya disetujui bank. Seluruh data, berkas-berkas lengkap dan aman, tidak ada cicilan hutang lainnya selain cicilan mobil. Walau bisa dapat tenor KPR 10 tahun, tapi ia tetap mengambil 15 tahun.
Dari kakak yang kerja di bank yang menangani manajemen risiko, Edo banyak mendapatkan pemahaman. Kakak Edo juga pernah pilih KPR konvensional dan berhasil melunasi cicilan sebelum tenor yang ditentukan. Sang kakak menenangkan Edo agar tidak terlalu khawatir dengan floating rate karena batas atasnya di Indonesia bagus.
KPR Edo pun berhasil disetujui. Seluruh data, berkas-berkas lengkap dan aman, tidak ada cicilan hutang lainnya selain cicilan mobil. Edo sudah melampirkan gaji barunya di 2019, walau bisa dapat tenor KPR 10 tahun, tapi ia tetap mengambil 15 tahun.
“Alasan ambil tenor panjang karena 15 tahun nilai asetnya pasti tinggi, sementara cicilannya segitu-gitu saja. Dari seluruh penghasilan, terpenting itu bisa bayar cicilan rumah dan asuransi kesehatan. Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, misal pendapatan turun paling tidak dua hal ini harus bisa saya bayar,” ujar Edo.
Seluruh proses pembelian rumah selesai di Desember 2018, rumah akan selesai dibangun pada Juli 2019. Selama proses tersebut Edo sama sekali tidak memberitahu orang tuanya. Tepat saat rumah mulai dibangun, keluarganya ke Jakarta.
“Saya bikin surprise. Setelah jemput ke bandara, saya langsung bawa mereka ke Serpong. Ayah tanya ‘ke rumah siapa, bang?’ Saya jawab, ini rumah pensiun papa mama, nggak apa ya kecil,” cerita Edo.
Waktu lihat calon rumah yang sedang dibangun kebetulan agen yang membantu Edo lewat, dan sempat mengobrol. "Ayah yang sempat bertanya harga rumah dan tidak saya jawab, langsung menanyakannya ke agen tersebut saat itu," ujar Edo, seraya tersenyum mengingat momen itu .

Cerita Rumah Edo: Rumah Sebagai Pembuktian, Bahagia Punya Rumah di Kawasan yang Menjanjikan

Cerita Rumah Edo: Rumah Sebagai Pembuktian, Bahagia Punya Rumah di Kawasan yang Menjanjikan
Edo merasa happy dengan rumahnya karena segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Ia pun semangat menunggu pertumbuhan kawasan perumahannya.
“Sayang ayah nggak lama menikmatinya. Februari 2019 beliau pensiun, Agustus saya pindah ke rumah ini, Oktober 2019 ayah divonis kanker paru-paru stadium empat, dan akhirnya meninggal Juni 2020. Sempat beberapa kali ke Jakarta dan menginap di rumah baru. Urusan duniawinya setelah pensiun langsung selesai,” kenang Edo.
Edo bersyukur dan menganggap rumah tersebut adalah berkat yang luar biasa karena berhasil melunasi pembuktian ke sang ayah. Apalagi waktu Edo bersikeras mengambil S2 ekonomi ia sempat berkata bahwa ia tidak butuh materi karena itu bisa tergantikan, yang dibutuhkan adalah doanya. Ayahnya pun merestui.
Edo merasa happy dengan rumahnya karena segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Ia pun semangat menunggu pertumbuhan kawasan perumahannya. Dari hasil pantauannya, rumah seken di kawasannya kini harganya sudah mencapai Rp1,2 miliar.

Tanya Rumah.com

Jelajahi Tanya Rumah.com, ambil keputusan dengan percaya diri bersama para pakar kami

Sekarang, setiap ada teman yang mau beli rumah, dengan semangat Edo memberikan tips dan pandangannya agar tidak gegabah membeli rumah tanpa perhitungan matang. Seperti yang dijelaskannya berikut ini:
Pertama, cari tahu potensi jangka panjangnya. Beberapa kali Edo sempat bantu mencarikan temannya rumah berdasarkan proyeksi area yang prospektif. Kedua, ingatlah rumah itu area privat. Rumah adalah tempat membangun tanggung jawab dan beristirahat. Jadi carilah yang ternyaman, tidak harus cari yang dekat kantor.
Dan ketiga, pantau fasilitas umum pendukungnya. Pikirkan apakah mudah mencari makanan, atau seberapa jauh jarak ke rumah sakit jika ada keadaan darurat, apakah dekat dengan sekolah-sekolah yang bagus, dan area publiknya nyaman.

Cerita Rumah Edo: Hidupkan Seluruh Area Rumah, Rumah dengan Sirkulasi Udara dan Cahaya Berlimpah

Cerita Rumah Edo: Hidupkan Seluruh Area Rumah, Rumah dengan Sirkulasi Udara dan Cahaya Berlimpah
Agar sirkulasi udara tetap segar dan cahaya tetap masuk, Edo menggunakan kanopi kaca yang bisa dibuka tutup.
Walau tinggal sendirian, tetapi Edo berusaha menciptakan seluruh area rumahnya ‘hidup’. Kebiasaan keluarga berbincang di meja makan membuatnya selalu menyempatkan untuk beraktivitas di meja makan.
Tak hanya itu, kamarnya juga tanpa TV agar ruang keluarga difungsikan untuk menonton. Dua kamar berada di atas, untuk dapur ada di area luar. Agar sirkulasi udara tetap segar dan cahaya tetap masuk, Edo menggunakan kanopi kaca yang bisa dibuka tutup.
“Kalau saya egois, dengan pendapatan saya sekarang bisa saja nggak perlu punya rumah, tinggal sewa apartemen saja sendirian.,Tapi karena saya berpikiran my family is my priority jadi akhirnya beli rumah deh, walau ditempatinya sendirian juga,” tutup Edo.
Itulah cerita Edo yang berhasil punya rumah sendiri berkat keandalannya bernegosiasi. Bisa memiliki aset properti setelah meninggalkan kebiasaannya traveling ke luar negeri. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Erin Metasari, Foto: Zaki Muhamad

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini