Cerita Rumah Emita: Pilihan Lokasi dan Skema Pembiayaan Cermat, Punya Rumah Lebih Cepat

Wahyu Ardiyanto
Sebagai pejuang Long Distance Marriage (LDM), Emita Ika Imaniar dan suami, Titis Prastowo, menargetkan untuk membeli rumah di suatu kota yang akan menjadi homebase mereka. Risiko pekerjaan sebagai PNS menuntut mereka untuk bersedia ditugaskan di luar kota. Bukan hanya beberapa hari atau bulan, bahkan bisa hitungan tahun.
Keberuntungan berpihak pada pasangan ini yang dalam waktu cepat berhasil menemukan rumah sesuai impian mereka, yaitu hunian yang dikelola oleh pengembang besar yang terpercaya dan berada di lokasi yang penuh kenangan semasa mereka kuliah.
Mau punya rumah di kawasan Tangerang Selatan? Seperti di area Bintaro, Pondok Aren yang mudah menjangkau Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan harga mulai dari Rp350 jutaaan? Temukan pilihan rumahnya di sini!
Rumah dengan luas bangunan 41m2 dan luas tanah 72m2 tersebut berada di U-House, klaster di area Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan, yang dibangun oleh pengembang ternama di Bintaro.

Cerita Rumah Emita: Tinggal di Apartemen Kurang Nyaman, Cari Rumah di Pinggiran

Cerita Rumah Emita: Tinggal di Apartemen Kurang Nyaman, Cari Rumah di Pinggiran
“Apartemen yang kami tempati ukurannya kecil sehingga membatasi ruang gerak. Lebih leluasa tinggal di rumah, apalagi kalau nanti ada anak,” ujar Emita.
Meski pasang target untuk punya rumah sendiri, tapi belajar dari pengalaman temannya yang menyesal karena membeli rumah tanpa pikir panjang, Emita tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Bersama suami, ia berencana membeli rumah setelah menikah pada Desember 2018, tetapi tak mau tergesa-gesa juga.
Untuk itulah, Emita tidak menentukan target dalam waktu cepat. Selain masih mengumpulkan dana, ia belum punya bekal pengetahuan yang cukup tentang persiapan membeli rumah sehingga masih mengumpulkan banyak informasi.
“Membeli rumah terbilang keputusan yang besar. Jangan sampai tergesa-gesa ambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Nanti malah berujung menyesal karena rumah yang dibeli tidak sesuai keinginan atau kebutuhan,” pesan perempuan kelahiran 1995 ini.
Pasangan ini tidak dituntut untuk segera punya rumah karena telah tinggal di apartemen di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dibeli oleh sang suami saat masih melajang dulu.
“Apartemen yang kami tempati ukurannya kecil sehingga membatasi ruang gerak. Lebih leluasa tinggal di rumah, apalagi kalau nanti ada anak. Kami juga punya keluarga besar, nah kalau kumpul kurang nyaman di apartemen,” imbuh Emita.
Pertimbangan lain, Emita dan pasangan telah terbiasa menjalani LDR semasa pacaran, dan berlanjut LDM setelah menikah. Sadar akan risiko pekerjaan yang menuntut mereka akan tinggal terpisah, berbeda kota, maka mereka membutuhkan rumah yang menjadi tempat tujuan untuk pulang usai menjalani tugas di luar kota.
Teman mereka, sesama pasangan LDM, sering bingung menentukan kota yang menjadi homebase untuk keluarganya. Sebagai antisipasi agar terhindar masalah serupa, sebelum menikah, pasangan ini telah memutuskan kota yang akan menjadi pelabuhan mereka.
“Karena kantor berada di Jakarta, kami setuju ambil rumah di sekitar Jakarta sebagai homebase keluarga kami. Tapi beli rumah di Jakarta sudah tidak terjangkau oleh keuangan kami, jadi pilihan lokasi rumah kami alihkan ke pingiran Jakarta saja,” ujar Emita.

Cerita Rumah Emita: Cari Rumah di Bintaro, Lokasi Kenangan Jaman Kuliah

Cerita Rumah Emita: Cari Rumah di Bintaro, Lokasi Kenangan Jaman Kuliah
Bagi mereka berdua, Bintaro memang tak hanya menciptakan kenangan berkesan selama kuliah, namun juga membentuk gambaran rumah impian bagi Emita.
Sebagai perantau dari Surabaya, Emita pernah kos di Bintaro sewaktu kuliah di STAN yang kampusnya berada di Bintaro Sektor V. Begitu pula sang suami yang juga alumni STAN. Tentu mereka tak asing dengan kawasan ini. Itu sebabnya mereka sepakat bahwa Bintaro adalah pilihan yang tepat untuk lokasi rumah mereka.
Pengalaman tinggal di Bintaro selama kuliah tiga tahun, mereka merasakan perkembangan kawasannya yang sangat pesat sebagai kota mandiri. Berbagai fasilitas lengkap tersedia mulai dari fasilitas kesehatan, pendidikan, perbelanjaan, hingga urusan kulineran.
Meskipun masuk wilayah Tangerang Selatan, namun berkat lokasinya yang berbatasan dengan Jakarta Selatan, akses ke kantor mereka pun juga mudah. Lokasinya memungkinkan mereka menggunakan kendaraan pribadi melalui jalan tol, ataupun transportasi umum dengan kereta komuter atau memanfaatkan feeder TransJakarta.
Bagi mereka berdua, Bintaro memang tak hanya menciptakan kenangan berkesan selama kuliah, namun juga membentuk gambaran rumah impian bagi Emita. Pamor dan nama besar pengembang yang membangun kawasan ini juga semakin memantik impian mereka untuk punya rumah di kawasan ini.
Keamanan dan kenyamanan pasti menjadi pertimbangan penting dalam membeli rumah untuk ditinggali bersama keluarga. Daripada berisiko, lebih baik percayakan pada pengembang besar yang berpengalaman. Begitu yang diyakini pasangan ini.
Punya acuan lokasi yang diincar membuat langkah Emita lebih mudah dalam pencarian rumah yang dimulai awal tahun 2019. Kala itu, sang suami masih terikat dinas di Palembang selama dua tahun sejak enam bulan sebelum mereka menikah, sedangkan Emita menetap di Jakarta.
“Saya kepo cari-cari rumah yang sedang dipasarkan pengembang di Bintaro secara online, lewat aplikasi dan situs pencarian rumah Rumah.com. Saya follow Instagram beberapa agen properti dan Bintaro Jaya. Dari listing rumah yang kami taksir, kemudian kami survey,” cerita Emita.
Saat ada kesempatan, Emita dan suami kadang sekalian putar-putar daerah Bintaro mencari langsung perumahan yang baru dibuka, tapi itu juga cuma bisa di akhir pekan dan menunggu suami pulang ke Jakarta. “Menentukan rumah yang mau dibeli untuk keluarga memang harus ada persetujuan kedua pihak, jadi kami cari dan survei bersama,” papar Emita.

Cerita Rumah Emita: Beli Rumah dari Pengembang Besar yang Cuma Modal Brosur

Cerita Rumah Emita: Beli Rumah dari Pengembang Besar yang Cuma Modal Brosur
“Kami antusias datang hari pertama launching. Sampai sana unit tipe paling kecil dan besar sudah sold out. Padahal pengembang cuma kasih brosur dan tunjukin lokasi klasternya, tidak ada maket, apalagi rumah contoh,” ungkap Emita.
Mereka sempat survei ke lima rumah, hasilnya ada yang lokasinya tidak seperti yang diharapkan, ada pula yang komitmen pengembangnya diragukan. Saat scrolling Instagram, Emita melihat postingan klaster yang baru dibuka di akun Instagram Bintaro Jaya.
Klaster bernama U-House ini menyediakan tipe rumah lebih kecil dari klaster lainnya yang dibangun [pengembang besr ini. Harga yang ditawarkan juga lebih terjangkau dari biasanya, mulai dari Rp800 jutaan. Tak mau buang kesempatan langka itu, pasangan ini tak mau lewatkan acara launching klaster tersebut.
“Kami antusias datang hari pertama launching. Sampai sana sekitar jam 12 siang, dan unit tipe paling kecil dan besar sudah sold out. Tersisa tipe sedang, tinggal beberapa unit lagi. Padahal pengembang cuma kasih brosur dan tunjukin lokasi klasternya, tidak ada maket, apalagi rumah contoh,” ungkap Emita.
Konsep rumahnya pun sesuai minat Emita, yaitu minimalis modern dengan open living space yang memaksimalkan pencahayaan alami dan mengoptimalisasi sirkulasi udara. Begitupun lokasi klasternya di kawasan baru University Town atau U-Town yang prospektif.
Selain dekat Gedung Olah Raga Jaya Raya dan kampus Universitas Pembangunan Jaya, akses transportasinya pun mudah. Dekat dengan Stasiun KRL Jurang Mangu, ada feeder bus menuju stasiun MRT dan TransJakarta, juga dekat dengan Gerbang Tol Pondok Aren.
Klaster ini bisa dibilang merupakan hunian yang sesuai untuk kaum urban dengan mobilitas tinggi, bekerja di ibukota dan tinggal di kawasan penyangga, seperti pasangan ini. Praktis dan efisien dari segi waktu, biaya transportasi, serta tenaga.
Meskipun awalnya tak mau terburu-buru saat membeli rumah, namun Emita dan suami merasa harus segera ambil keputusan, sebelum kehabisan stok dan akhirnya menyesal. Apalagi melihat animo pemburu hunian di momen launching yang mereka datangi.
“Kami benar-benar sreg dengan U-House. Sesuai kriteria yang kami inginkan. Tapi dana kami belum cukup buat DP dan biaya lainnya. Ketika merasa hilang harapan, pihak marketing bilang ada penawaran cicilan DP. Kami lega banget dikasih solusi,” kenangnya.

Cerita Rumah Emita: Berani Ambil Angsuran DP Rumah, Optimis Harga Rumah Naik

Cerita Rumah Emita: Berani Ambil Angsuran DP Rumah, Optimis Harga Rumah Naik
Mereka berani ambil keputusan tersebut karena optimis harga pasar rumah di lokasi tersebut berpotensi naik melebihi harga beli dalam jangka waktu mereka menyicil uang muka.
Akibat kurang informasi tentang apa saja yang perlu disiapkan untuk membeli rumah, pasangan ini tidak mengetahui harus menyediakan dana tambahan. Padahal sedikitnya harus menyediakan dana sebesar 10% dari harga rumah untuk biaya BPHTB, AJB, dan akad kredit dengan bank.
Itu sebabnya dana yang mereka siapkan tidak mencukupi. Solusinya, mereka mengambil opsi dengan angsuran DP rumah. Dana yang mereka punya, yang rencananya awalnya untuk uang muka, digunakan untuk biaya lainnya.
Harga rumahnya sendiri sebenarnya Rp980 jutaan, namun dengan menyicil uang muka atau mengangsur DP sebanyak 12 kali, tentu harganya menjadi lebih tinggi, yaitu Rp1,1 milyar. Mereka berani ambil keputusan tersebut karena optimis harga pasar rumah di lokasi tersebut berpotensi naik melebihi harga beli dalam jangka waktu mereka menyicil uang muka.
Benar saja, dalam waktu singkat yaitu kurang lebih satu setengah tahun kemudian, harga pasar rumah di lokasi yang sama dengan luas tanah yang sama sudah di atas Rp1,3 milyar. Dan bagi Anda yang ingin mengetahui pergerakan harga properti terkini bisa simak artikel panduan tentang Property market Index Rumah.com.
Setelah cicilan uang muka selesai, barulah mereka mengajukan KPR ke bank sehingga lebih ringan buat mereka karena pembayarannya tidak bersamaan. Sebelum mengambil KPR, mereka bergerilya mencari informasi produk KPR syariah yang bebas riba. Mereka bercita-cita kalau ada rejeki mau mempercepat pelunasan KPR agar bekerja tidak cuma buat cicilan rumah sampai 15 tahun.
“Kami pertimbangkan KPR yang bisa support tujuan kami, bisa mengurangi pokok pinjaman dan bisa dilunasi lebih cepat tanpa merugikan. Kami mencari informasi dari nol tentang produk KPR syariah, jenis-jenisnya, perbedaannya, termasuk kelebihan dan kekurangannya,” papar Emita.
Ia melanjutkan, “Selain telepon atau WA ke call center bank dan datang langsung ke bank, bahkan kami pakai aplikasi simulasi kredit atau KPR juga buat bantu membandingkan suku bunga KPR, salah satunya juga lewat fitur simulasi KPR di Rumah.com.”

Cerita Rumah Emita: Pilih KPR Syariah, Bangun Rumah Seperti Gambar di Brosur

Cerita Rumah Emita: Pilih KPR Syariah, Bangun Rumah Seperti Gambar di Brosur
Beruntung, Emita menemukan bank syariah yang melayani KPR Syariah MMQ dan sedang promo ulang tahun.
Hasil penelusuran terkait pembiayaan syariah, Emita menemukan dua pilihan KPR syariah yaitu skema Syariah Murabahah dengan akad Jual-Beli yang memberlakukan keuntungan atau margin sebagai pengganti bunga, dan skema Syariah Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) dengan akad Sewa-Beli yang memberlakukan ujroh atau uang sewa sebagai pengganti bunga.
Dari segi biaya akad kredit, KPR syariah lebih murah sampai setengahnya dari KPR konvensional. Kemudian dari sisi pembayaran angsuran, Syariah Murabahah menerapkan nominal cicilan yang flat. Sedangkan Syariah MMQ menerapkan kombinasi nominal cicilan yang flat dan float, seperti KPR konvensional.
Misal lima tahun pertama nilai angsuran flat, selanjutnya float atau berjenjang selama tenor KPR. Sementara dari sisi percepatan pelunasan KPR, Syariah MMQ seperti konvensional yang memberlakukan bayar pokok pinjaman saja, tapi dikenai penalti sekitar 2-3%.
Berbeda dengan Syariah Murabahah yang harus membayarkan pinjaman pokok dan perhitungan keuntungan sebagai pengganti bunga. Maka Emita mengambil tenor KPR 15 tahun dengan nominal angsuran tak lebih dari 30% gabungan gaji mereka.
Tak semua bank syariah telah menyediakan KPR syariah MMQ karena produk baru. Beruntung, Emita menemukan bank syariah yang melayani KPR Syariah MMQ dan sedang promo ulang tahun.
“Saya baru tahu kalau bank yang sedang berulang tahun menawarkan promo yang cukup menguntungkan seperti penurunan suku bunga atau pengganti bunga. Alhamdulillah kami dapat keuntungan itu,” ujarnya.
Ketika pembayaran uang muka dimulai pada Februari 2020, rumah pun mulai dibangun pengembang. Setiap dua pekan sekali, mereka sempatkan untuk melihat proses pembangunan untuk memperkuat bonding dengan hunian tersebut. Sampai akhirnya serah terima kunci rumah dari pengembang pada Februari 2021.
“Meskipun hanya mengandalkan brosur, namun yang dijanjikan pengembang tidak mengecewakan. Kami happy, bangunan rumah jadinya benar-benar persis seperti gambar di brosur. Ada sedikit yang tidak sesuai, tapi masih bisa disiasati, dan pengembang kasih garansi kalau ada yang perlu diperbaiki,” ujar Emita.

Cerita Rumah Emita: Tips Cepat dan Tepat Beli Rumah Ala Emita

Cerita Rumah Emita: Tips Cepat dan Tepat Beli Rumah Ala Emita
Emita menyarankan, membeli rumah sebaiknya disegerakan, jangan ditunda. Baik untuk tempat tinggal ataupun aset investasi.
Dengan penuh antusias Emita juga menambahkan, “Alasan kuat kami memilih pengembang besar adalah lebih terjamin, dan terbukti. Apalagi sekarang banyak pengembang bodong, jadi harus hati-hati. Untuk itu ada baiknya mengecek track-record pengembangnya dulu.”
Dan berikut adalah
  1. Supaya memudahkan pencarian rumah, pertama tentukan kemampuan finansial untuk membeli rumah, berapa total dana yang dialokasikan untuk rumah, berapa angsuran yang mampu dibayarkan per bulan jika mengambil KPR.
  2. Selanjutnya, tentukan lokasi rumah yang diinginkan berdasarkan alokasi dana. Jika tinggal di pinggiran kota, sementara bekerja di pusat kota, pastikan lokasinya cukup strategis, gampang diakses oleh kendaraan pribadi maupun transportasi publik.
  3. Jika dana masih terbatas dan mampu membeli rumah ukuran kecil, sebaiknya ukuran tanah tetap diupayakan yang luas. Agar dapat dihuni untuk jangka panjang dan bisa memperluas bangunan.
  4. Perbanyak informasi tentang apa saja yang harus dipersiapkan ketika membeli rumah. Mulai dari nilai uang muka yang harus dibayarkan, syarat pengajuan KPR ke bank, sampai biaya-biaya tambahan yang diperlukan.
  5. Jika mau ambil KPR, kenali dulu jenis KPR dan sesuaikan dengan tujuan serta kemampuan keuangan. Ada yang cocok dengan KPR syariah, ada juga yang cocok dengan KPR konvensional.

Tanya Rumah.com

Jelajahi Tanya Rumah.com, ambil keputusan dengan percaya diri bersama para pakar kami

Misal, jika merasa tak bisa menyisihkan dana buat mempercepat KPR dan ingin cicilan yang flat supaya tenang, lebih tepat ambil KPR syariah. Ada juga yang punya tujuan dan kondisi keuangan berbeda sehingga lebih cocok yang KPR konvensional.
  1. Membeli rumah sebaiknya disegerakan, jangan ditunda. Baik untuk tempat tinggal ataupun aset investasi. Karena harga rumah naik terus, seperti saat pandemi pun tidak pengaruhi harga rumah menjadi turun.

Cerita Rumah Emita: Menata Rumah Baru Mendukung Hobi Masak dan Makan

Cerita Rumah Emita: Menata Rumah Baru Mendukung Hobi Masak dan Makan
“Kami renovasi hanya perluas bagian dapur dengan mengambil area taman belakang. Karena hobi masak dan makan, aktivitas kami memang berpusat di dapur dan kamar,” urai Emita.
Berdasarkan pengalaman Emita ketika menjalani proses membeli rumah termasuk menentukan rumah yang akan dibeli, ia tidak mau gegabah dan mengikuti emosi. "Saya benar-benar mempertimbangkan dengan matang, tidak mau terburu-buru agar tak menyesal di kemudian hari," ujarnya.
Kini, Emita bersama suami yang sudah kembali dari dinas di Palembang dan sedang menempuh tugas belajar di Jakarta, tengah menikmati momen kebersamaan dengan menata rumah yang baru dihuni pertengahan April 2021 lalu.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.
Di rumah barunya ini Emita memilih interior yang didominasi warna putih dan warna kayu supaya terkesan luas. Furnitur juga dibuat custom supaya bisa memaksimalkan fungsi ruang.
“Kami renovasi hanya perluas bagian dapur dengan mengambil area taman belakang. Karena hobi masak dan makan, aktivitas kami memang berpusat di dapur dan kamar, ha ha ha,” urainya sambil mengambarkan kebahagiaan telah berhasil memiliki rumah yang diimpikan.
Itulah cerita pengalaman Emita membeli rumah. Dengan strategi yang tepat, pemilihan lokasi dan skema pembiayaan rumah yang cermat, Ia berhasil punya rumah lebih cepat. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Siti Rahmah, Foto: Tody Harianto

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini