Cerita Rumah Eunike: Generasi Milenial yang Beli Rumah Modal Nekat

“Rumah adalah tempat untuk berlindung dan berkarya. Hal yang harus diperjuangkan. Jangan pernah merasa bahwa punya rumah itu jauh dari jangkauan kemampuan. Kita semua pasti bisa punya rumah sendiri.”
Cerita Rumah Eunike: Generasi Milenial yang Beli Rumah Modal Nekat
Eunika ingin berbagi kepada anak-anak muda seusianya, generasi milenial, bahwa selama mau mencari, pasti ada rumah yang sesuai dan bisa dibeli.

Eunike Louis Gracia, gadis yang kini menginjak usia 25 tahun ini kini telah satu tahun menempati sebuah rumah mungil yang berhasil dibeli dari jerih payahnya sendiri. Beberapa kali ia bertemu teman dan ditanya sekarang tinggal di mana, dengan bangga ia bisa menjawab, “Di Bogor, sudah tidak di rumah orang tua lagi.”

“Rata-rata ketika saya bilang sekarang di Bogor, teman mengira keluarga kami pindah rumah ke Bogor. Setelah saya beritahu bahwa saya tinggal di rumah milik sendiri, teman-teman saya spontan berteriak ‘waah hebat sekali’, cerita Eunike sambil tertawa.

Ya, gambaran gadis muda yang masih lajang namun berhasil memiliki sebuah rumah mungkin jarang terjadi sehingga di antara rekan sebayanya hal tersebut membuat Eunike tampak berbeda. Namun perjalanan hidup yang dialami orangtua Eunike, Andriyaningsih, membuatnya terusik untuk menjadikan kehidupan yang dijalaninya harus lebih baik.

Mau punya rumah di kawasan Cilebut, Bogor, dengan harga di bawah Rp500 jutaan? Cek aneka pilihan huniannya di sini!

Sebuah rumah subsidi dengan luas tanah 60 m2 di Cinnamon Hills, Cilebut, Bogor kini telah dimilikinya. Rumah yang dibeli dengan modal nekad dan semangat muda serta pikiran yang positif. Walaupun masih belum lengkap isinya, namun Eunike pelan-pelan ingin mewujudkan rumah impian sesuai dengan yang ada dalam bayangannya.   

Cerita Hidup Susah Sampai Kerja Sampingan Saat Kuliah di Bandung

Cerita Hidup Susah Sampai Kerja Sampingan Saat Kuliah di Bandung

Ia sering diajak oleh teman-teman kampusnya yang koki dan dari jurusan F&B menjadi kru katering pada acara pesta pernikahan. Dan hampir setiap akhir pekan Eunike kerja sampingan.

Eunike adalah anak sulung dari seorang ibu bernama Andriyaningsih yang kisahnya lebih dulu dimuat di Cerita Rumah. Pelajaran dari sebuah kisah pergulatan hidup yang dialami maminya membuat Eunike tumbuh menjadi pribadi mandiri dan ulet.

Baca juga Cerita Rumah Andriyaningsih, orangtua Eunike yang perjuangan punya rumahnya penuh drama di sini!

Demi menginginkan agar sang anak memiliki kehidupan yang mapan di masa depan, ia meloloskan permintaan Eunike saat mendaftar dan pada akhirnya berhasil masuk kuliah perhotelan di National Hotel Institute (NHI) Bandung.

“Jadi ingat masa kuliah di Bandung dulu, saat itu adalah masa-masa prihatin. Saya kuliah benar-benar berat, beda deh kalau melihat kehidupan teman-teman di sana,” kenang Eunike.

“Agar tidak merepotkan orangtua, saya merasa harus mencari kerja sampingan sambil kuliah. Kalau weekend saya ikut casual,” cerita Eunike. Kerja casual, atau kerja harian kemudian dilakoni Eunike pada saat akhir pekan.

Ia sering diajak oleh teman-teman kampusnya yang koki dan dari jurusan F&B menjadi kru katering pada acara pesta pernikahan. Dan hampir setiap akhir pekan Eunike mendapatkan kesempatan itu karena kebetulan ia memang butuh kerja sampingan.

Karena kuliah di jurusan Perjalanan, dengan prodi Studi Industri Perjalanan, setiap semester Eunike harus melakukan field trip. Mulai dari Bandung, Jogja, Bali, hingga Bangkok. Penelitian selama 2 minggu di Toraja, dan praktek kerja di Bali selama 2 bulan. Semua dilalui Eunike dengan dana yang sangat minim.

100 Rumah Dijual Terpopuler di Indonesia

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

100 Rumah Dijual Terpopuler di Indonesia

Akhirnya Eunike berhasil menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2015. Ia langsung kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan walau pada saat itu ia belum diwisuda. Sebuah perusahaan travel kecil kemudian menerima Eunike sebagai karyawannya.

Cerita Motivasi dan Dukungan Sang Mami Yakinkan Eunike Buat Punya Rumah Sendiri

Cerita Motivasi dan Dukungan Mami Yakinkan Eunike Buat Punya Rumah Sendiri

Kedekatan hubungan antara Eunike dan maminya menjadi tonggak bagi perjalanan pencarian rumahnya. Tambah lagi sang mami tak pernah merasa lelah mendampingi setiap proses pencarian rumahnya.

“Waktu itu kira-kira saya sudah tiga bulan bekerja, wah gaji saya saat itu masih Rp1,8 juta,” jelas Eunike sambil tersenyum mengenang masa itu. “Saya ingat, mami (Andriyaningsih - red) pernah ngomong ke saya; Kamu enggak ingin punya-punya nih?! Mumpung belum ada tanggungan loh!” kenang Eunike.

Meski saat itu Eunike baru benar-benar lulus dan baru bekerja di perusahaan travel kecil, tapi dengan gaji tetap yang setiap bulan diterimanya, ia mulai memikirkan kata-kata ibunya.

“Kata mami, daripada uangnya kemana-mana atau beli barang yang nilainya bisa habis, lebih baik berpikir beli rumah. Kan kalau properti nilainya akan terus naik dan sekaligus bisa jadi investasi,” jelas Eunike mengingat nasihat sang mami. Eunika sependapat dan mulai berpikir untuk bergerak mewujudkannya.

Kedekatan hubungan antara Eunike dan maminya menjadi tonggak bagi perjalanan pencarian rumahnya. Tambah lagi sang mami tak pernah merasa lelah mendampingi setiap proses pencarian rumahnya. Sore pulang kantor naik motor berdua lihat pameran properti, hingga meluangkan waktu akhir pekan survei rumah berdua.

“Mami paling semangat bantu saya. Browsing di Rumah.com, lihat-lihat iklan perumahan, dan ke pameran properti di JCC. Target saya mencari rumah di suburb, bukan di Jakarta,” jelas Eunike.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Semua peluang dibuka, berbagai konsep perumahan mulai dari rumah subsidi hingga perumahan komersil yang dirasa terjangkau dijajakinya. Eunike tidak ingin tinggal di Jakarta karena dirasa sudah semakin panas. Dalam perjalanan surveinya, akses transportasi serta fasilitas yang diberikan perumahan tersebut juga menjadi perhatiannya.

Proses pencarian rumah juga dilakukan dengan santai, sehingga menghabiskan waktu 2 tahun hingga mendapatkan rumah yang saat ini sudah jadi miliknya. Waktu yang panjang ini sekaligus digunakan oleh Eunike untuk menyisihkan sebagian dari gajinya untuk keperluan uang muka (DP) rumahnya nanti.

Cerita Tidak Punya Uang Muka DP Rumah Tapi Nekat Beli Rumah

Cerita Tidak Punya Uang Muka DP Rumah Tapi Nekat Beli Rumah

Eunike sempat merasa cocok pada sebuah rumah di Cileungsi, Bogor. Terletak di seberang Mekar Sari, dengan akses jalan yang sedang dibangun dan suasana yang sejuk.

“Jadi mulai gencar survei dan serius mencari rumah itu baru sekitar tahun 2017. Tabungan sudah mulai ada, dan dari situ saya mulai bisa membidik mana yang sesuai kemampuan. Sambil khawatir juga sih, kalau mundur lagi nanti harga tanahnya tambah naik,” cerita Eunike.

Dengan gaji fresh graduated diawal ia mulai setuju untuk membeli rumah, Eunike mengaku saat itu belum tahu harus mengumpulkan DP berapa. Ia berpikir untuk mencari saja dulu rumahnya, lihat-lihat dulu siapa tahu ada yang sesuai.

“Aku orangnya tidak ter-planning, jauh ke depan pengen apa pengen apa itu tidak. Cenderung spontan,” papar Eunike. Sebagai anak muda, Eunike mengaku ia tidak pernah tergiur membeli sesuatu yang mahal atau sedang digemari, misalnya seperti iPhone seri terbaru yang selalu jadi must have item anak muda saat ini.

“Dari kecil kita memang dididik untuk prihatin. Saya selalu teringat ajaran mami, dalam sebulan harus keep uang karena kita enggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Apalagi yang kerja kan baru aku, mau nggak mau aku juga merasa bertanggung jawab dengan kedua adekku. Jadi sebisa mungkin aku selalu sisihkan untuk hal-hal yang emergency,” jelas Eunike.

Diaku oleh Eunike, hingga saat ini ia masih merasa nekat sekali. Jika dulu nekat mencari rumah tanpa memiliki tabungan diawal, saat ini ia merasa nekat dengan tinggal sendiri tanpa sebelumnya mengetahui lingkungannya seperti apa, bagaimana tetangga-tetangganya.

Tips Tepis Hambatan Beli Rumah Pertama

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Tips Tepis Hambatan Beli Rumah Pertama

Jadi ceritanya pada tahun 2017 Eunike merasa cocok pada sebuah rumah di CileungsiBogor. Proses pembelian rumah seharga Rp350 juta ini kemudian dilakukan oleh Eunike. Terletak di seberang Mekar Sari, dengan akses jalan yang sedang dibangun dan suasana yang sejuk membuatnya merasa klop.

“Awalnya semua surat sudah masuk, sudah di-approved. Tapi saat dihitung lagi, dengan posisi gaji saat itu Rp3 juta dan jumlah DP rumah atau uang muka yang saya inginkan, ternyata tidak cukup. Kalau mau diteruskan saya harus menaikkan plafonnya, harus bayar Rp80 juta di muka. Saya menyerah saat itu,” cerita Eunike.

Cerita Uang Booking Fee Hangus dan Belajar Proses Pembelian Rumah

Cerita Uang Booking Fee Hangus dan Belajar Proses Pembelian Rumah

Jika umumnya setelah mengalami kegagalan saat proses membeli rumah membuat seseorang merasa drop dan kapok mencari rumah, tapi tidak dengan Eunike. Ia justru membekali dirinya dengan informasi penting seperti panduan membeli rumah yang ada di Rumah.com.

Tapi dari cerita beli rumahnya itu menyisakan masalah. Saat itu Eunike sudah membayar uang sejumlah Rp8 juta, yaitu Rp3 juta booking fee dan Rp5 juta cicilan DP uang muka rumah.

“Kata pengembangnya saat itu, kalau tidak jadi diteruskan nanti uangnya enggak balik. Saat itu aku mikir, daripada aku maksa cari uang Rp80 juta dari mana dapatnya? Mau aku relakan saja uang Rp8 juta itu,. Pasrah, sudah males mikir,” kenang Eunike.

Namun saat ini sang mami yang menemani tidak rela. Dengan gigih sang mami terus maju dan menjelaskan ke pengembang bahwa proses ini tidak jadi bukan karena Eunike yang membatalkan, melainkan tidak sanggup jika plafon dinaikkan.

Buku tabungan pun menjadi bukti yang ditunjukkan ke bank, bahwa tidak ada uang sejumlah Rp80 juta di sana. Sang mami yang terus maju untuk meminta hak Eunike dikembalikan merasa tidak rela dan merasa hal ini tidak adil. Hingga akhirnya pihak pengembang mau mengembalikan uang cicilan DP sejumlah Rp5 juta, sementara Rp3 juta uang booking fee hangus.

“Ada rasa lega juga sih rumah itu batal. Saya sempat bingung sebenarnya, bagaimana cara ke kantor jika saya tinggal di sana karena macetnya setengah mati hahaha,” cerita Eunike. Eunike memang pernah mencoba akses dari perumhan itu menuju kantor yang menghabiskan waktu hampir 3 jam. Hanya saat itu ia berpikir mungkin macetnya hanya saat akhir pekan saja.

Membeli Rumah untuk Pertama Kali

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Membeli Rumah untuk Pertama Kali

Dan jika umumnya setelah mengalami kegagalan saat proses membeli rumah membuat seseorang merasa drop dan kapok mencari rumah, tapi tidak dengan Eunike. Ia memang tidak langsung giat mencari-cari rumah lainnya, namun justru membekali dirinya dengan informasi penting seperti  panduan membeli rumah yang ada di Rumah.com.

“Saya mencari info bagaimana proses surat-surat rumah, proses KPR, agar lebih yakin apa yang harus diteliti. Saya melakukannya dengan cara browsing di situs Rumah.com dan langsung tanya-tanya ke bank juga,” jelas Eunike.

Cerita Pertimbangan Membeli Rumah Subsidi dan Naik Gaji

Cerita Pertimbangan Membeli Rumah Subsidi dan Naik Gaji

Alasan Eunike pilih membeli rumah subsidi selain harganya juga tergolong murah, lokasinya pun masih termasuk di kota. Tambah lagi akan dibangun jalan tol juga.

“Tahun 2017 itu aku belum umur 25, dan ternyata dalam proses KPR ada sedikit perbedaan. Dijelaskan saat itu, kalau sudah masuk umur 25 sudah beda lagi prosesnya. Yang pasti lebih diuntungkan jika umur kita belum 25 dalam proses KPR ini,” jelas Eunike lagi.

Tak lama kemudian tiba-tiba sang mami memberikan pamflet tentang sebuah perumahan yang menjual  rumah subsidi. Merasa sudah mendapat bekal informasi yang cukup perihal proses pembelian rumah, Eunike pun mengajak sang mami untuk melihat langsung perumahan tersebut.

“Waktu pertama kali datang ke sana, bayangan saya buyar semua. Saat itu aksesnya jelek dan jalannya sempit, dari Stasiun Cilebut juga agak jauh,” jelas Eunike. Ia berpikir masak-masak selama satu bulan, akan mengambil rumah tersebut atau tidak. Dan akhirnya pada tahun 2018 ia memutuskan membelinya.

“Alasan saya yakin mengambil rumah subsidi itu karena ada rumor bahwa perumahan ini adalah perumahan subsidi terakhir yang dibangun di sana. Selain harganya juga tergolong murah, lokasinya pun masih termasuk di kota. Sebentar lagi akan dibangun jalan tol sehingga saya yakin akses masuk ke perumahan Cinnamon Hills ini pun akan diperbaiki,” papar Eunike.

Alasan lain yang memperkuat Eunike tidak lain karena keinginan utamanya menjadikan tabungannya berguna, dan bisa membeli rumah. Suasana kota Bogor yang sejuk juga membuat Eunike merasa cocok.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Walaupun saat itu masih banyak rumah yang belum dibangun, tapi pembangunannya ternyata cepat. Dari proses beli di akhir tahun 2018 hingga akad pada bulan Februari 2019, rumah-rumahnya sudah jadi semua.

Keberuntungan Eunike di tahun 2018 tak hanya di situ saja, di tahun tersebut ia pindah bekerja ke perusahaan yang lebih besar. Gajinya pun meningkat cukup banyak sehingga ditambah uang di tabungan, bisa menutupi DP yang harus dibayarkan. 

Cerita Rumah Subsidi Eunike yang Butuh Banyak Renovasi

Cerita Rumah Subsidi Eunike yang Butuh Banyak Renovasi

Eunike tidak bisa langsung menempati rumah tersebut karena hanya ada kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi. Secara bertahap ia mencicil renovasi mulai dari membangun bagian belakang.

Sejalan dengan perjalanan orangtuanya mencari rumah, Eunike sependapat bahwa punya rumah memang penting. "Pertama kali yang terbesit dalam bayanganku itu ya punya rumah seperti di Pinterest-lah hahaha. " ujar Eunika mengenang perjalanan cerita pembelian rumahnya.

"Kebayang punya rumah enggak hanya sekedar berfungsi sebagai naungan seperti rumah mami, tapi harus cakeplah hahaha. Eh, dapetnya rumah subsidi, yang bisa dibilang semua kiri kanan bentuknya sama,” kata Eunike seraya bercanda.

Rumah subsidi memang tidak boleh diubah bentuknya selama lima tahun pertama, sehingga tidak ada renovasi besar yang dilakukan. Namun, kondisi rumah subsidi yang fasilitasnya sangat sederhana ini tetap memerlukan renovasi yang membuat Eunike harus mengeluarkana dana.

Eunike tidak bisa langsung menempati rumah tersebut karena hanya ada kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi. Secara bertahap ia mencicil renovasi mulai dari membangun bagian belakang. Sebidang tanah kosong di belakang ia tutup dan dijadikan dapur serta tempat cuci baju.

Tip Rumah
Jangan mudah menyerah jika mengalami kegagalan atau terbentur masalah saat proses membeli rumah. Bekali diri dengan informasi penting terkait proses pembelian rumah, persyarat dan cara pengajuan KPR seperti pada panduan membeli rumah yang ada di Rumah.com.

Kemudian dilanjut dengan instalasi listrik dan air. Di sana airnya sulit keluar sehingga Eunike harus membuat sumur bor. Septic tank yang hanya sedalam 1,5 meter juga digali lebih dalam lagi. Untuk bagian depan ia membuat garasi dan pagar. Seluruh tahapan renovasi ini menghabiskan dana sekitar 30 jutaan.

“Untungnya kontraktornya paham dengan kondisi saya yang tidak bisa kontan memberikan uang, jadi perbaikan sana sini ini tidak dilakukan secara bersamaan. Ia mau menunggu hingga uang saya terkumpul lagi setiap bulannya,” jelas Eunike.

Cerita Nasihat Sang Mami akan Pentingnya Beli Rumah Sebagai Investasi

Cerita Nasihat Mami akan Pentingnya Beli Rumah Sebagai Investasi

“Mami memperkuat mental saya. Katanya, kita sebagai perempuan harus punya pegangan. Entah di mana nantinya setelah menikah, tinggal di mana, yang penting masih ada rumah sendiri sebagai investasi,” jelas Eunike.

Tanpa ada dukungan dari kedua orangtuanya, Eunike merasa tidak mungkin bisa berhasil memiliki rumah sendiri seperti sekarang ini. Sang mami yang rajin menyabarkannya akan kondisi akses rumah yang masih kurang bagus kalau nantinya juga akan mudah.

“Mami memperkuat mental saya. Katanya, kita sebagai perempuan harus punya pegangan. Entah di mana nantinya setelah menikah, tinggal di mana, yang penting masih ada rumah sendiri sebagai investasi,” jelas Eunike.

Namun sebagai anak perempuan pertama di keluarga, Eunike mengakui bahwa papinya sulit memberikan izin saat awal-awal ia ingin mulai pindah ke rumah barunya.

“Sampai hari ini papi masih khawatir dan kurang setuju aku pindah ke sini sendiri. Kata papi, kamu harus sadar punya tanggungjawab besar, harus bisa jaga keamanan sendiri. Dan sama tetangga harus kenal, enggak boleh cuek,” papar Eunike menceritakan kekhawatiran papinya.

Eunike memaparkan beragam alasan agar ia diizinkan untuk pindah, mengisi rumah barunya. Mulai dari takut rumah rusak jika tidak ditinggali, hingga mengingatkan sang papi jika dahulu ia pun tinggal di Bandung sendiri saat kuliah selama 4 tahun.

Cerita Sukses Beli Rumah di Usia Muda Berkat Didikan Orangtua

Cerita Sukses Beli Rumah di Usia Muda Berkat Didikan Orangtua

“Di halaman mungil ini tanahnya sangat subur, saya sering lempar biji buah yang saya makan dan tumbuh. Biji jeruk, sirsak saya lempar saja hahaha,” jelas Eunike.

Kini Eunike sudah menempati rumah mungilnya, walau belum sempurna namun ia merasa lega di usia muda sudah memiliki rumah sendiri. Jarak yang ditempuh ke kantor yang berada di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat tidak menjadi masalah. Apalagi jam kerjanya tergolong unik, yaitu mengikuti jam kerja di Inggris, yaitu baru masuk pukul 15.00 WIB.

Dalam masa pandemi, segala pekerjaan bisa dilakukan dari rumah. Selama WFH ia jadi rajin masak dan membuat kue, walaupun diakuinya masih jauh lebih enak buatan maminya.

“Di halaman mungil ini tanahnya sangat subur, saya sering lempar biji buah yang saya makan dan tumbuh. Biji jeruk, sirsak saya lempar saja hahaha,” jelas Eunike. Ia senang karena sang mami pun jadi bisa menyalurkan hobinya yang tidak bisa dilakukan di rumah maminya karena tidak ada lahan, yaitu menanam pohon.

Papinya yang awalnya berat melepas anak kesayangannya tinggal sendiri, setiap datang ke rumah Eunike juga rajin memotong rumput di halaman. Malahan sang papi yang selalu mengingatkan Eunike agar membenahi beberapa bagian rumahnya agar semakin rapih dan memberi ide-ide seputar rumah.

“Kalau mami sama sekali tidak khawatir. Sebenarnya saya tuh beda jauh sama mami, saya spontan dan perfeksionis sementara mami lebih banyak compassion-nya. Banyak pelajaran yang saya ambil dari mami. Dia kan bisa dibilang hidup sendiri sebelum menikah. Dalam menjalani kehidupan harus tabah dan punya tujuan ke depannya. Jangan nyaman di satu titik saja. Itu yang saya lihat dari mami,” papar Eunike panjang.

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Bagi Eunike yang saat ini merasa lega, keberhasilannya membeli rumah di usia muda menurutnya juga sangat bisa dilakukan oleh semua orang. Anggapan bahwa membeli rumah itu adalah sesuatu yang sangat hebat membuat banyak orang jadi takut tidak mampu untuk beli rumah.

Eunika ingin berbagi kepada anak-anak muda seusianya, generasi milenial, bahwa selama mau mencari, pasti ada rumah yang sesuai dan bisa dibeli.

“Bagi saya rumah itu adalah tempat untuk berlindung, berkarya, dan sesuatu yang harus kita perjuangkan. Saya memang belum ada rencana muluk untuk terus merenovasi saat ini. Yang saya pikirkan saat ini, ingin mengumpulkan uang untuk kedua adik saya dulu. Saya ingin mereka ke depannya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari saya. Saya merasa mereka juga merupakan tanggungjawab saya juga,” kata Eunike dengan suara sedikit bergetar.

Kesan Sang Mami tentang Cerita Rumah Eunike

Kesan Sang Mami tentang Cerita Rumah Eunike

Sang mami mengaku masih sering menitikkan airmata jika mengingat bagaimana Eunike dulu berjuang di Bandung untuk hidup. Dimana putrinya ini bisa mengatasi rasa lapar hanya dengan minum air saja.

Tak ada yang lebih membanggakan orangtua saat melihat anaknya bisa melangkah maju. Dalam hal ini Andriyaningsih melihat putri sulungnya berhasil memiliki rumah sendiri dengan segala daya dan upaya yang berliku.

“Saya melihat Eunike punya pikiran yang sama dengan saya, dia ngotot apa yang dia mau dan berusaha mewujudkannya dengan gigh,” cerita Andriyaningsih kepada Rumah.com di kesempatan yang berbeda.

“Dia anak yang survive, struggle, dan sangat-sangat kuat. Saya teringat saat dulu Eunike kuliah, saat itu adalah masa-masa yang sangat prihatin bagi keluarga kami. Uang tidak ada, suami kena PHK, anak ada tiga, cicilan yang harus dibayar juga banyak. Bayangkan, saya hanya bisa memberinya 300 ribu setiap bulannya!” cerita Andriyaningsih.

Ia mengaku masih sering menitikkan airmata jika mengingat bagaimana Eunike dulu berjuang di Bandung untuk hidup. Dimana putrinya ini bisa mengatasi rasa lapar hanya dengan minum air saja. Setiap pulang menengok ke Bandung, Andriyaningsih selalu menahan tangis sambil tak putus berdoa untuk anaknya.

“Jujur saat itu saya ingin menyerah, tapi Tuhan menolong kami melewati masa-masa sulit itu. Saya tahu Eunike melakukan pekerjaan tambahan hingga jari-jari kakinya gatal dan bengkak saking capeknya. Upah hariannya Rp60 ribu bisa menambah pegangannya saat itu di Bandung,” ungkap Andriyaningsih.

Melihat Eunike belajar dewasa, dengan mengatasi berbagai permasalahan pada saat membeli rumah membuat Andriyaningsih sangat bersyukur kepada Tuhan. Dan kini dengan semangat ia dan suami rutin datang di akhir pekan menengok Eunike.

“Anak ini mengajari saya untuk survive setengah mati. Dia anugerah Tuhan yang luar biasa besar bagi kami. Harapan saya, ia segera punya pendamping yang setia dan baik sama dia. Terutama takut akan Tuhan,” kata Andriyaningsih.

Itulah kisah Eunike yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk punya rumah sendiri berkat motivasi dari sang mami. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Teks: Meta Oepadi, Foto: Zaki Muhamad

Baca Selanjutnya

Kalkulator Properti
Repayment Calculator Icon
Ketahui prakiraan uang muka dan cicilan rumah impian Anda dengan Kalkulator KPR Rumah.com.
Rp
Affordability Calculator Icon
Hitung perkiraan besar pinjaman dan cicilan maksimal yang bisa diajukan berdasarkan penghasilan Anda lewat Kalkulator Keterjangkauan Rumah.com
Refinancing Calculator Icon
Ringankan cicilan KPR Anda lewat refinancing. Hitung seberapa besar manfaatnya bagi Anda dengan Kalkulator Refinancing Rumah.com

Rumah Baru untuk Keluarga Muda di Bogor Harga di Bawah Rp500 jutaan

Masukan