Cerita Rumah Farid: Beli Rumah di Masa Pandemi, Modal Rp3 Juta Jadi Punya Rumah Sendiri

Wahyu Ardiyanto
Cerita Rumah Farid: Beli Rumah di Masa Pandemi, Modal Rp3 Juta Jadi Punya Rumah Sendiri
“Rumah adalah tempat untuk selalu kembali. Tempat melepas lelah dan penat dari segala kesibukan di luar sana.” – Cerita Rumah Farid
Menemukan hunian yang sesuai kriteria, yang untuk ditempati jangka panjang, memang tidak gampang. Ditambah pemikiran bahwa menggelontorkan sejumlah uang besar harus dengan perencanaan yang matang. Apalagi jika menimbang dari sisi proyeksi investasi properti, harus berhati-hati.
Berdasarkan pengalaman beberapa narasumber Cerita Rumah, proses panjang dalam menemukan rumah idaman adalah pada tahap pencarian lokasi. Namun berdasarkan pengalaman yang lainnya ada juga pada proses mengumpulkan dananya karena memerlukan jalan panjang. Tetapi tak dipungkiri, ada juga yang berhasil menemukan hunian masa depannya tanpa disengaja.
Seperti Cerita Rumah Farid ini. Jika biasanya pembelian rumah membutuhkan proses yang panjang, dari mulai menumbuhkan niat, menabung DP, mencari, hingga memutuskan, Farid justru kebalikannya. Farid mendapatkan rumah masa depannya tanpa pernah direncanakannya,. Sebuah hunian mungil dengan luas tanah 60m2 dengan bangunan asli 32m2 di Perumahan Grand Sutera Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat.
Mau punya rumah di area yang masih asri dan segar, harganya terjangkau, namun potensial seperti rumah Farid di Bogor, Jawa Barat? Temukan pilihan rumahnya dengan harga di bawah Rp500 jutaan di sini!

Cerita Rumah Farid: Orang Tua Pindah ke Bogor yang Tenang dan Rindang

erita Rumah Farid: Orang Tua Pindah ke Bogor yang Tenang dan Rindang
Selain alasan ingin punya rumah untuk hari tua, lingkungan perumahan di Bogor yang masih asri dirasa cocok untuk jadi hunian di masa pensiun orang tua Farid.
Farid, pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi swasta yang berkantor di Jakarta Selatan, selama ini memiliki aktivitas bolak-balik antara Mampang, kamar sewaan dekat tempat kerjanya, hingga Bekasi, rumah orang tuanya. Namun tahun 2019, sebelum pandemi terjadi, kedua orang tua Farid memutuskan pindah ke Bogor. Beli rumah di kompleks perumahan yang sama dengan adik Farid.
“Jadi yang pertama pindah ke Bogor itu adik saya, sekitar lima tahun lalu, tahun 2017. Dua tahun kemudian, orang tua saya ikutan membeli rumah dekat adik saya. Mungkin setelah ibu pensiun ingin suasana yang lebih tenang seperti di Bogor,” jelas Farid.
Selain alasan ingin punya rumah untuk hari tua, lingkungan yang masih asri pun dirasa cocok sebagai hunian di masa pensiun. Berbeda dengan rumah mereka di Bekasi yang banyak nyamuk. “Ibu saya happy, Ayah apalagi. Rumah masa pensiun ini lingkungan sekelilingnya masih rindang. Bahkan di perumahan itu juga masih bisa melihat sawah,” jelas Farid.
Manusia memang sejatinya tidak bisa dipisahkan dari alam, sekalipun segala aspek kehidupan masa kini dikepung gempuran teknologi. Dan ketika jenuh melanda, melihat pemandangan yang hijau biasanya akan jadi pilihan karena dapat merelaksasi mata dan jiwa. Ya, warna hijau memang relatif lebih nyaman bagi mata.
Dilansir dari Rumah.com, warna hijau juga mampu menimbulkan kesan damai. Cocok untuk penggemar aktivitas luar ruang karena warna ini mengingatkan selalu pada alam. Ini juga yang dirasakan Farid yang punya hobi bersepeda, gemar traveling sambil bersepeda.

Cerita Rumah Farid: Pandemi Ingin Lebih Dekat Keluarga, Cari Rumah Tanpa Persiapan Dana

Cerita Rumah Farid: Pandemi Ingin Lebih Dekat Keluarga, Cari Rumah Tanpa Persiapan Dana
Di tengah kuatnya rasa ingin lebih dekat dengan keluarga, Farid berpikir bahwa pandemi saat yang tepat untuk punya rumah.
Ketika bicara tentang rumah idaman, sesuatu yang dekat dengan alam memang yang dicari oleh Farid. “Saya ingin punya rumah yang membawa ketenangan dan keamanan untuk diri saya,” ujarnya lugas. Bayangannya tentang hunian adalah rumah dengan konsep terbuka dengan jendela-jendela besar sehingga sinar matahari dapat bebas masuk.
Selain itu, juga terdapat taman kecil sekadar untuk mengistirahatkan matanya. Mimpinya cukup beralasan mengingat profesinya yang seorang video editor, krusial untuk kesehatannya jangka panjang. Meski begitu, Farid sebenarnya tidak berniat untuk membeli rumah. Farid yang hidup sendiri merasa tidak terlalu butuh sebuah rumah. Toh, banyak pilihan lain seperti rumah kos atau apartemen.
“Tapi sejak pandemi COVID-19 melanda, keinginan saya untuk lebih dekat dengan keluarga kok semakin kuat. Terlebih pembatasan jarak sosial serta protokol kesehatan saat itu membuat saya tidak berani sering-sering pulang ke rumah orang tua. Mereka sudah lansia, risiko tinggi jika terpapar virus,” jelas Farid.
Di tengah kuatnya rasa ingin lebih dekat dengan keluarga, ia pun berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk punya rumah. Dengan catatan: rumahnya harus dekat dengan keluarganya, dekat rumah orang tua dan adiknya. Karena rencana mencari rumah timbul tiba-tiba, jadi tidak ada persiapan dan kriteria khusus dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Farid tidak melakukan survei ke perumahan-perumahan lain di luar area perumahan tempat orang tua dan adiknya tinggal, bahkan juga tidak ada dana khusus yang dipersiapkan. “Saya memang mencari rumah yang dekat dengan rumah orang tua, jadi harus di perumahan itu,” ujar Farid yang tak pakai mikir lama-lama.

Cerita Rumah Farid: Bekal Informasi Bikin Percaya Diri Beli Rumah Subsidi

Cerita Rumah Farid: Bekal Informasi Bikin Percaya Diri Beli Rumah Subsidi
Hitung punya hitung, Farid yakin jika ke depannya akan dapat mencicil pembelian rumah dengan lancar menggunakan KPR.
Farid hanya mencari tahu tentang rekam jejak pengembang perumahan tersebut, mencari tahu kisaran harga terbaru rumah di kawasan tersebut melalui internet, salah satunya melalui lewat listing properti di jual di Rumah.com. Setelah memiliki waktu libur, Farid pun ke Bogor, menengok orang tua sekaligus mulai menjalani rencananya: berburu rumah!
Seperti informasi yang berhasil didapatkan melalui laman listing properti di jual di Rumah.com, Farid menemukan jika Grand Sutera Leuwiliang ini didirikan di tanah seluas 20 hektar, dengan rencana kurang lebih 1.350 unit rumah yang akan dipasarkan. Perumahan ini menyediakan tipe rumah subsidi dan perumahan komersial yang perbedaannya hanya pada materialnya saja, tipe-tipe luas bangunannya serupa.
Bekal informasi ini cukup membuat Farid percaya diri, apalagi ia juga telah mengetahui kisaran harga rumah yang ditawarkan di sana. Hitung punya hitung, ia yakin jika ke depannya akan dapat mencicil pembelian rumah dengan lancar menggunakan KPR. Jadi setiap ke Bogor, ia sempatkan berkeliling dan mencari informasi rumah dijual ke bagian pemasaran perumahan tersebut.
Kita semua pasti sering mendengar istilah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Namun untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang seluk-beluk KPR, temukan infonya lewat video panduan berikut ini.
Awalnya ia mengincar sebuah rumah yang lokasinya di tengah perumahan, kiri kanan depan belakang nempel rumah tetangga. Sempat pula mengincar rumah lainnya yang dirasa cocok. Sayang, hanya selang sehari sebelum Farid bayar uang tanda jadi (UTJ), rumah tersebut keburu dibeli orang lain. Namun karena Farid memang hanya mencari di perumahan tersebut, bagian pemasaran pun menawarkan rumah yang berada di ujung kompleks.
“Saat lihat lokasi rumah di ujung kompleks, udaranya enak banget. Depannya bukit-bukit, hijau-hijau gitu,” cerita Farid. Tanpa berpikir terlalu lama, Farid langsung sreg dan memutuskan membeli rumah subsidi di perumahan Grand Sutera Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat tersebut. Tepatnya Juni 2021.

Cerita Rumah Farid: Beli Rumah Harga Rp180 Juta, Cicilan Per Bulan Rp1,4 Juta Saja

Cerita Rumah Farid: Beli Rumah Harga Rp180 Juta, Cicilan Per Bulan Rp1,4 Juta Saja
Dengan dua pekerjaan, pengajuan kredit rumah Farid ke Bank pun langsung disetujui, cicilan per bulannya sebesar Rp1,4 juta saja.
Beruntung bagi Farid, “Kebetulan saat melihat rumah ada penawaran menarik, rumah seharga Rp180 juta tersebut bisa dibeli dengan uang muka Rp3 juta saja!" Ya, di kala pandemi banyak sekali penawaran ataupun kemudahan bagi masyarakat yang sedang berburu properti. Karena itu pula keputusan Farid tambah mantap.
“Wah, beruntung banget! Rumah yang saya pilih ini punya pemandangan yang luas, depannya itu bukan rumah tetangga,” ujar Farid. Proses pembelian rumah Farid juga terbilang sangat lancar. Sekitar tiga bulan ia mempersiapkan segala dokumen yang dibutuhkan sebagai persyaratan, setelah itu langsung masuk proses pengajuan KPR tanpa ada hambatan.
Untuk pembelian rumah subsidi, Farid wajib menambahkan surat keterangan belum punya rumah yang dikeluarkan oleh kecamatan setempat, sesuai alamat domisili yang tertera di KTP. Setelah semua dokumen siap, termasuk cetak rekening koran Farid selama tiga bulan ke belakang, maka pengajuan KPR pun sudah bisa diproses. Kekhawatiran sulitnya proses KPR hanya karena Farid telah memasuki usia kepala empat.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
Berbekal keyakinan, Farid tetap maju, ditambah saat itu ia juga menjalani profesi ganda. Saat membeli rumah, Farid kerja paruh waktu di sebuah showroom mobil, sekaligus menjadi pekerja lepas sebagai video editor. Dengan dua pekerjaan, pengajuan kredit rumah Farid ke Bank BTN pun langsung disetujui, cicilan per bulannya sebesar Rp1,4 juta dengan tenor 15 tahun.
Dalam prosesnya, Farid juga harus mengeluarkan biaya-biaya tambahan beli rumah lainnya, termasuk biaya notaris sebesar kurang lebih Rp5 juta. Bagi para pekerja lepas, KPR pun tetap bisa diajukan dan disetujui selama memenuhi persyaratan yang diminta pihak bank. Farid memiliki beberapa kiat soal hal ini.

Cash flow Wajib Sehat

Kebanyakan orang menganggap pendapatan pekerja lepas itu selalu tidak pasti, padahal pekerjaan lepas yang Farid kerjakan bersifat rutin; setiap tahun, setiap tiga bulan, setiap enam bulan. Dengan demikian, pendapatan dan pengeluaran akan lebih mudah diprediksi, sehingga dapat mengira-ngira batas kredit yang aman untuknya.

Jeli Melihat Promosi

Ini adalah salah satu alasan Farid membeli rumah. Jika tidak ada penawaran uang muka yang rendah, mungkin hingga kini ia belum memikirkan untuk membeli rumah. Tak ada salahnya bertanya-tanya, meski Anda belum terpikir untuk membeli hunian. Mana tahu dapat penawaran terbaik.

Siap Sedia

Yang berarti siap menyediakan seluruh dokumen yang diminta pihak bank. Menjadi pekerja lepas juga harus memahami dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, seperti membayar dan melaporkan pajak, serta mendokumentasikannya. Hal ini juga akan memudahkan jika diperlukan sewaktu-waktu.

Cerita Rumah Farid: Kenaikan Harga Properti Mantapkan Hati untuk Punya Rumah Sendiri

Punya Rumah Sendiri
Sesuai salah satu syarat kepemilikan rumah subsidi yang harus langsung dihuni, Farid memanfaatkannya sebagai rumah akhir pekan saja. Rumah sebagai bentuk investasi sekaligus tempat istirahat.
Hingga kini, rumah dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi yang telah menjadi milik Farid tersebut masih kosong, belum ditempati karena Farid masih tinggal di rumah kos yang selangkah dari tempat kerjanya. Selain belum memiliki perabot, rumah tersebut memang jauh dari tempat kerjanya, sekitar 70 kilometer atau tiga jam perjalanan menggunakan transportasi umum.
Sesuai salah satu syarat kepemilikan rumah subsidi yang harus langsung dihuni, Farid memanfaatkannya sebagai rumah akhir pekan saja. Ia mensyukuri pembelian rumahnya ini sebagai bentuk investasi sekaligus tempat istirahat. “Dalam waktu dekat jadi rumah akhir pekan saja dulu. Mungkin akan direnovasi dulu karena sekarang belum ada dapur,” ujar Farid.
Lagi cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya pada laman AreaInsider.
“Udaranya bagus, nggak ada nyamuk, kompleksnya nyaman, jarak dengan pasar juga lumayan,” Farid merinci beberapa hal yang ia sukai dari rumahnya. Tak hanya itu, ia juga jadi bisa langsung merasakan kenaikan harga properti yang terus meningkat. “Saya ingat lima tahun lalu adik saya beli harganya sekitar Rp125 juta. Ketika saya beli tahun 2021, nilainya sudah Rp180 juta," jelas Farid yang jadi tambah mantap untuk punya rumah sendiri.
Yang menarik lagi, orang tua Farid ternyata membeli sebidang tanah di luar kompleks yang mereka tempati untuk dipakai berkebun. Di sana juga terdapat empang kecil untuk memancing. “Ini untuk keluarga saja, tetapi enaklah. Lengkap,” ujarnya menutup perbincangan.
Itulah cerita pengalaman Farid, beli rumah tanpa rencana karena ingin lebih dekat keluarga. Punya rumah sendiri menimbang kenaikan harga properti dan promo di masa pandemi. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Nofi Firman, Foto: Zaki Muhammad

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini