Cerita Rumah Ivan: Survei Rumah Lebih dari 30 Kali, Fokus ke Anggaran, Fasilitas Kawasan, dan Proyeksi Investasi

Wahyu Ardiyanto
Cerita Rumah Ivan: Survei Rumah Lebih dari 30 Kali, Fokus ke Anggaran, Fasilitas Kawasan, dan Proyeksi Investasi
“Rumah kini bukan hanya sebagai tempat tinggal, tempat istirahat, tetapi juga tempat bekerja, berkumpul, dan tentunya tempat bertumbuh bersama keluarga.” – Cerita Rumah Ivan
Rumah adalah kebutuhan utama, dan untuk memiliki rumah, apalagi rumah idaman yang sekian lama jadi impian, tentu harus diperjuangkan. Begitulah yang memotivasi Muhammad Ivan Azrian untuk bersabar mencari rumah kedua yang akan dihuni bersama keluarganya, rumah yang menurutnya harus lebih nyaman.
Dalam pencarian rumah keduanya ini Irvan tak mau terburu-buru, tetapi juga tidak mau terlalu santai. Kriteria rumah impiannya juga tidak muluk-muluk, yaitu luas tanah di atas 100m2 dengan harga tak lebih dari Rp1,5 miliar di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Meski pencarian sudah lebih dari 30 rumah, namun tak satupun yang mengena di hati Ivan dan sang istri, Putri. Di luar dugaan, sebuah rumah rujukan temannya yang sesuai kriterianya membuat Ivan tak pikir panjang lagi untuk segera membelinya. Tak peduli saat itu masa pandemi, kesempatan belum tentu datang lagi, pikirnya.
Pencarian panjang pun berakhir melegakan bagi Ivan, sebuah hunian sesuai impiannya di perumahan Banjar Wijaya, Bintaro kini telah jadi milikinya dan siap dihuni bersama istri dan buah hatinya, Ibra.
Mau punya rumah di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan yang fasilitas kawasannya lengkap dan punya banyak akses mudah ke Jakarta seperti rumah Ivan? Cek pilihan huniannya di bawah Rp1 miliar di sini!

Cerita Rumah Ivan: Baru Bekerja Beli Rumah Tetangga, Investasi yang Dicicil dari Gaji

nvestasi yang Dicicil dari Gaji
Ivan menjual kendaraan miliknya untuk dijadikan uang muka pembelian rumah pertamanya.
Rumah pertama seringkali dibeli dengan penuh pertimbangan. Lain halnya dengan Ivan yang awalnya tak punya rencana membeli rumah. Apalagi di tahun 2013 itu, ia baru mulai bekerja dan masih tinggal dengan orangtua.
“Keinginan punya rumah sendiri pasti ada karena melihat orangtua dan keluarga besar yang membeli rumah selain sebagai tempat tinggal, ada juga yang digunakan untuk investasi. Tapi saat itu saya baru bekerja dan merasa belum siap secara finansial untuk membeli rumah,” kenang Ivan.
Melihat tulisan “Rumah Dijual” terpampang di pagar rumah tetangga yang berada di sebelah rumah orangtuanya di Bekasi, ia sekadar iseng menawar harga. Siapa tahu diperbolehkan, harapnya. Tak disangka tawarannya benar disetujui oleh pemilik rumah.
Tetapi, tabungannya belum cukup kala itu. Modal nekat, Ivan menjual kendaraan miliknya untuk dijadikan uang muka pembelian rumah pertamanya. Sisanya ia mengajukan KPR yang dengan cepat disetujui oleh bank. Pikirnya, cicilan KPR anggap saja sebagai alokasi dana investasi yang disisihkan dari gaji.
Meskipun rumah pertamanya adalah bangunan lama, luas tanahnya yang 150m2 inilah yang menjadi pertimbangan kuat Ivan. Apalagi letaknya menempel rumah orangtuanya. Hingga setahun kemudian ia menikah dan langsung menempati rumah yang baru dibelinya.
Namun hanya setahun menghuninya, Ivan dan Putri memutuskan untuk pindah ke lokasi yang dekat tempat kerja mereka. Rumah mereka berada di Bekasi, sementara Ivan bekerja di kawasan Pondok Indah, dan Putri bekerja di Alam Sutera. Sehari-hari mereka harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.

Cerita Rumah Ivan: Fasilitas Kawasan Bikin Nyaman Tinggal di Tangerang Selatan

Cerita Rumah Ivan: Fasilitas Kawasan Bikin Nyaman Tinggal di Tangerang Selatan
Telanjur nyaman tinggal di kawasan Tangerang Selatan, terbesit keinginan Ivan dan istri untuk mencari rumah di area ini.
“Untuk menghemat waktu dan energi yang terbuang di perjalanan, saya mengajak istri untuk pindah menempati rumah investasi milik keluarga besar yang berada di Bintaro, sehingga lebih dekat ke kantor kami,” ujar Ivan. Ukuran rumah milik keluarga besarnya tersebut terbilang lebih kecil dibandingkan rumah miliknya di Bekasi.
Namun berkat lokasinya yang strategis, rumah keluarga itu dirasa lebih kondusif untuk mereka huni, apalagi setelah memiliki anak. Rumah pertama Ivan sejak tak ditinggali lagi sejak tahun 2014, tetap dipertahankan meski tidak disewakan atau dikontrakkan karena punya kenangan tersendiri dan ditujukannya sebagai investasi. Rumahnya pun belum direnovasi total, hanya perbaikan kecil secara bertahap.
Ada kekhawatiran rumah akan semakin cepat rusak kalau tidak ditempati. "Kami siasati dengan dibuat satu pagar dengan rumah orangtua, jadi orangtua bisa leluasa ikut mengawasi dan bantu mengurus perawatannya. Kalau menengok orangtua, kami bisa tinggal di rumah sendiri, atau kalau ada keluarga atau saudara yang datang bisa menginap di sana,” papar Ivan.
Sebelum berinvestasi properti, simak tipsnya lewat video berikut ini:
Sejak Ivan bersama istrinya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan, mereka merasa kerasan dan lebih menyukai tinggal di area ini dibandingkan di Bekasi. Pertimbangannya dari sisi perkembangan fasilitasnya yang cukup pesat, maupun dari segi akses yang memberikan kemudahan mobilitas. Telanjur nyaman tinggal di kawasan Tangerang Selatan, lantas terbesit keinginan Ivan dan istri untuk mencari rumah di area ini.
Apalagi mereka telah memiliki seorang putra. Mereka merasa rumah milik keluarga tersebut kurang leluasa untuk anak balita yang membutuhkan ruang eksplorasi. Ditambah lagi, pekerjaan Ivan di perusahaan telekomunikasi internasional di masa itu mengharuskannya untuk bekerja di luar negeri.
“Biasanya berpindah-pindah tugas di negara-negara regional. Empat minggu tugas di luar, satu minggu di rumah, seringkali seperti itu,” imbuhnya. Lantaran sering meninggalkan keluarga di rumah, Ivan termotivasi untuk membelikan rumah yang nyaman untuk keluarganya agar merasa lebih tenang ketika harus jauh dari rumah.

Cerita Rumah Ivan: Terkejut, Harga Rumah di Tangerang Selatan Lebih Tinggi Dibanding Bekasi

Cerita Rumah Ivan: Terkejut, Harga Rumah di Tangerang Selatan Lebih Tinggi Dibanding Bekasi
Selama proses pencarian rumah keduanya, Ivan cukup terkejut dengan pasaran harga rumah di Bintaro yang nilainya cukup tinggi.
Lain halnya ketika membeli rumah pertama yang bermula dari tanpa rencana, kali ini Ivan lebih cermat mempertimbangkan beberapa hal sebelum membeli rumah kedua. Kriteria rumah yang diidamkan adalah memiliki luas tanah di atas 100m2 dengan harga tak lebih dari Rp1,5 miliar.
Selama proses pencarian rumah keduanya, Ivan cukup terkejut dengan pasaran harga rumah di Bintaro yang nilainya cukup tinggi. Ia selalu memantau laman Wawasan Properti di Rumah.com untuk mengetahui kenaikan harga rumah di wilayah Tangerang Selatan, khususnya Bintaro, karena memang mengincar area itu.
Semakin hari harganya semakin tak terjangkau, pikirnya. Bila dibandingkan dengan pengalamannya membeli rumah di Bekasi, menurut Ivan, harga rumah di Bintaro lebih tinggi dengan luasan tanah yang lebih kecil. Luas tanah sekitar 60-80m2 saja, harganya telah menyentuh angka Rp1 miliar.
Lagi cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya pada laman AreaInsider
Saat proses pencarian rumah, Ivan juga memanfaatkan laman listing properti di jual di Rumah.com yang menurutnya memudahkannya untuk melakukan filterisasi berdasarkan lokasi, kondisi rumah baru atau seken, dan juga bujet yang sudah ditentukannya. Dari beberapa pilihan yang diminati barulah ia melakukan survey dengan mendatangi langsung lokasi rumahnya.
Berbagai wilayah di Tangerang Selatan telah dijelajahi Ivan, mulai dari pinggiran Bintaro, Pondok Cabe, sampai Alam Sutera. Mulai dari mendatangi kantor pemasaran perumahan baru sampai sebagai alternatif, ia juga melihat-lihat rumah seken yang dipasarkan di Rumah.com.
“Perjuangan membeli rumah kedua ini berbeda sekali dengan rumah pertama yang dalam hitungan hari, tidak sampai bertahun-tahun seperti rumah kedua ini. Tapi proses yang kami lalui ini menjadi penguat koneksi kami dengan rumah kedua ini,” ungkap Ivan.

Cerita Rumah Ivan: Pencarian Rumah Kedua Lebih dari 3 Tahun, Survei Lebih dari 30 Rumah

Cerita Rumah Ivan: Pencarian Rumah Kedua Lebih dari 3 Tahun, Survei Lebih dari 30 Rumah
Pencarian rumah kedua Ivan cukup lama, bahkan sampai lebih dari tiga tahun dan survei lebih dari 30 rumah.
Rumah di klaster atau perumahan baru di kawasan Tangerang Selatan rata-rata memiliki luas lahan agak kecil. Kalaupun ada yang luasnya di atas 100m2, harganya melebihi bujet yang telah ditetapkan oleh Ivan. Kendala itulah yang harus dihadapinya dalam proses pencarian rumah kedua. Untuk pilihan rumah seken, soal bangunannya tak menjadi masalah bagi Ivan karena dapat diatasi dengan renovasi.
Tetapi, sekalipun ada rumah seken yang memenuhi kriterianya, terkendala pada letaknya yang agak terpencil. Akses jalannya yang sempit dan jauh dari jalan raya, ataupun lingkungan sekitarnya yang kurang nyaman. Melalui pencarian yang cukup lama, bahkan sampai lebih dari tiga tahun, Ivan telah survei lebih dari 30 rumah. Namun ia belum menemukan yang benar-benar cocok.
“Butuh waktu agak lama mungkin karena kami mencari santai, tidak mengejar target harus cepat. Kami juga berhati-hati memilih rumahnya. Apalagi survey cuma bisa dilakukan kalau saya tidak kerja ke luar. Tetapi kami yakin rumah yang kami impikan nanti pasti akan ketemu,” ungkapnya.
Menemukan rumah idaman memang tak dapat diprediksi. Setelah bertahun-tahun berburu tanpa hasil, akhirnya pencarian Ivan pun menjumpai titik terang. Rumah itu justru atas rekomendasi temannya sendiri. Begitu survei ke rumah yang direkomendasikan, Ivan tak pikir panjang lagi untuk membelinya.
Ada teman dekatnya yang telah membeli rumah di Banjar Wijaya, Bintaro dan menyarankan Ivan untuk ikut bergabung sebagai warga perumahan tersebut. Diceritakan temannya bahwa perumahan tersebut dibangun oleh pengembang terpercaya, Sinar Mas Land, dan tipe rumah dengan luas serta harga sesuai yang dicarinya, Ivan tertarik untuk survey.
“Dibangun oleh pengembang sebesar Sinar Mas Land, bukan hanya kualitas bangunan yang bagus, bahkan keamanan dan fasilitas di perumahan sangat diperhatikan. Fasilitas umum disediakan di perumahan seperti taman dan tempat bermain anak. Lingkungan sekitarnya pun dibuat asri,” papar Ivan.

Cerita Rumah Ivan: Beli Rumah Harga Rp1,5 Miliar, Diskon DP Nol Persen Jadi Rp1,35 Miliar

Ivan: Beli Rumah Harga Rp1,5 Miliar Diskon DP Nol Persen Jadi Rp1,35 Miliar
Sekitar 50 unit rumah di klaster itu telah terjual, dan tersisa satu rumah yang telah di-booking oleh pembeli namun statusnya masih menunggu persetujuan KPR.
Keunggulan lainnya, kawasan ini diproyeksi nilai propertinya akan meningkat lebih pesat karena dekat pintu gerbang tol akses ke Bandara Soetta yang baru selesai dibangun, hanya berjarak 100m ke perumahannya. “Lagi ada promo DP nol persen nih!” begitu info yang disampaikan temannya. Ivan segera mendatangi perumahan tersebut. Pertimbangan untuk mengambil rumah ini bukan tanpa perhitungan yang matang.
“Justru karena ada promo DP nol persen, saya jadi benar-benar bisa menghitung berapa sisa gaji yang bisa saya sisihkan untuk cicilan KPR. Begitu dapat angkanya, saya putuskan untuk ambil,” tutur Ivan yang ketika survei mantap untuk memilih unit di klaster Viola. Rumah dua lantai dengan luas tanah 120 m2 dan luas bangunan 65m2.
Dengan promo DP nol persen berarti Ivan mendapatkan diskon Rp150 juta senilai DP. Hitungannya, dari harga normal Rp1,5 miliar dengan potongan tersebut rumahnya jadi seharga Rp1,35 miliar. Menguntungkan jika dibandingkan harga pasaran.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
“Prioritas saya mendapatkan tanah yang luas dan lingkungan yang nyaman. Persoalan bangunan nanti bisa direnovasi sesuai kebutuhan secara bertahap. Di mana lagi bisa mendapatkan rumah yang luas tanahnya di atas 100m2 dengan harga di bawah pasaran Rp1,5 miliar di Bintaro?!” ujar Ivan.
Tetapi, harapan untuk memiliki rumah di perumahan itu nyaris sirna. Rumah di klaster Viola yang ditaksirnya justru sudah habis. Sekitar 50 unit rumah di klaster itu telah terjual, dan tersisa satu rumah yang telah di-booking oleh pembeli namun statusnya masih menunggu persetujuan KPR. Ivan dapat mengambilnya jika pembelinya membatalkan atau ditolak pengajuan KPR-nya.
Meskipun staf pemasaran sudah memperkirakan KPR calon pembeli tersebut kemungkinan besar ditolak, namun Ivan tetap khawatir kehilangan rumah impiannya karena penjualan rumah di sana sangatlah cepat. “Saya baru melihat jual rumah kayak jualan kacang, apalagi pandemi begini. Waktu saya datang ke sana, ada 10 unit rumah yang sedang dipasarkan, dan itu benar-benar langsung habis semua, kayak rebutan ha ha ha,” ceritanya.

Cerita Rumah Ivan: Beli Rumah KPR di Masa Pandemi Tanpa Kendala Berarti

Cerita Rumah Ivan: Beli Rumah KPR di Masa Pandemi Tanpa Kendala Berarti
Saat pandemi melanda yang dampaknya banyak dialami berbagai sektor industri, berimbas pula pada ketatnya proses pengajuan KPR di masa itu.
Sebagai cadangan, Ivan ditawarkan unit yang masih tersedia di klaster lain, tetapi masih di perumahan Banjar Wijaya. Tipe rumahnya lebih kecil dengan luas tanah 75 m2 seharga Rp1 miliar. Akhirnya ia memberikan tanda jadi Rp10 juta untuk pengambilan rumah tersebut. Namun, Ivan masih memprioritaskan rumah yang pertama.
“Saya bikin perjanjian dengan pihak pemasaran. Kalau rumah di klaster Viola dibatalkan calon pembelinya, saya otomatis mengambil rumah tersebut dan memindahkan tanda jadinya untuk pembelian rumah pertama itu,” jelas Ivan. Belakangan Ivan menimbang, kalau ternyata tidak berjodoh dengan rumah incarannya ia berniat merelakan uang tanda jadi dan membatalkan rumah cadangan karena ragu dengan luas tanahnya yang hanya 75m2.
Kekhawatiran Ivan ternyata tak terjadi. Pihak pemasaran menyatakan ia dapat mengambil rumah yang diincarnya karena telah dibatalkan oleh calon pembelinya. Dengan cepat, Ivan langsung mengurus dokumen untuk pengajuan KPR-nya. Itu tahun 2020, saat pandemi melanda yang dampaknya banyak dialami berbagai sektor industri. Imbasnya, proses pengajuan KPR di masa itu jadi terbilang ketat.
Beruntung Ivan bekerja di bidang telekomunikasi internasional yang tidak terlalu terkena dampak di masa pandemi. Dalam beberapa hari, tak lebih dari seminggu, pengajuan KPR-nya telah disetujui. Ia bersyukur karena proses administrasi saat pengajuan KPR-nya berlangsung lancar, tanpa ada kendala yang berarti.
Setelah KPR disetujui pada Oktober 2020, proses pembangunan rumah inden itu pun mulai dilakukan. Di momen inilah baru muncul kendala. “Rumah dijanjikan akan selesai Maret 2022. Tetapi kenyataanya meleset dari yang dijanjikan dengan alasan pandemi,” ungkap Ivan.
Ivan bersikeras agar pengembang tetap memenuhi janjinya. Karena menurutnya, pandemi seharusnya tak bisa dijadikan alasan untuk mengulur proses pembangunan, apalagi untuk pengembang berpengalaman seperti Sinar Mas Land. Akhirnya Ivan ikut memantau proses pembangunan untuk memastikan agar tidak semakin berlarut-larut.

Cerita Rumah Ivan: Rencana Renovasi Rumah Bergaya Skandinavian, Target Dihuni Momen Lebaran

Sebelum dihuni bersama keluarganya, rumah tersebut akan direnovasi terlebih dulu untuk memaksimalkan luas ruangan yang targetnya bisa dihuni saat momen lebaran.
Pandemi memang mengubah pola hidup masyarakat. Bekerja, bersekolah, dan aktivitas sehari-hari menjadi lebih banyak dilakukan di rumah. Begitupula yang dialami oleh Ivan dan keluarga. Sebelumnya, pekerjaan Ivan menuntut dirinya untuk bekerja di tingkat regional Asia Tenggara dan Australia. Bahkan, waktunya lebih banyak untuk bekerja di negara lain dan membuatnya jarang berada di rumah.
Semasa pandemi, pola kerjanya diubah dengan dilakukan secara jarak jauh (remote working) dari rumah. Alhasil, rumah menjadi ruang aktivitas sepanjang hari bagi Ivan dan anggota keluarganya. Itu sebab Ivan menginginkan rumah yang nyaman agar membuat diri dan anggota keluarga betah di dalam rumah selama 24 jam, mulai dari bekerja, bermain bersama, dan tentunya beristirahat.
Akhirnya bulan Juni 2022, rumahnya rampung dibangun dan dilakukan serah terima kunci. Dari segi bangunan diakui Ivan sebenarnya pengembang telah memberikan kualitas yang cukup unggul, seperti penggunaan bata merah untuk dinding, sementara perumahan umumnya telah beralih ke batako yang lebih murah tetapi daya tahannya lebih rendah.
Sebelum dihuni bersama keluarganya, rumah tersebut akan direnovasi terlebih dulu untuk memaksimalkan luas ruangan dengan bantuan arsitek. Lahan yang tersisa di bagian belakang rumah rencananya akan digunakan untuk menambah ruangan. Ruang keluarga akan menjadi pusat aktivitas keluarga, berkumpulnya keluarga, sehingga membutuhkan ruangan yang luas dan akan dibuat tanpa sekat.
"Selain itu, saya membutuhkan ruang kerja karena sejak pandemi bisa bekerja dari rumah. Ruang lain yang kami prioritaskan juga untuk hewan peliharaan kami,” ujar Ivan yang memelihara 9 ekor kucing, ditambah kura-kura dan reptil milik anaknya.
Rumah kedua ini disepakati Ivan dan istrinya akan didesain dengan gaya minimalis ala Skandinavia dengan dibantu konsultan desainer interior. Ivan menargetkan rumah kedua yang akan dihuninya untuk jangka panjang bersama keluarga kecilnya ini paling lambat sudah dapat ditempatinya saat momen lebaran tahun 2023.
Itulah cerita perjalanan Ivan punya rumah sendiri, rumah pertama sebagai investasi, rumah kedua untuk dihuni. Meski survei rumah lebih dari 30 kali agar sesuai anggaran dan proyeksi investasi. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Siti Rahmah, Foto: Zaki Muhamad

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini