Cerita Rumah Kartika: Pernah Konsumtif Bukan Berarti Tidak Bisa Punya Rumah yang Aestetik

Wahyu Ardiyanto
Cerita Rumah Kartika: Pernah Konsumtif Bukan Berarti Tidak Bisa Punya Rumah yang Aestetik
“Rumah adalah tempat pulang. Kemana pun pergi, pergi sejauh apapun, pulangnya pasti ke rumah. Karena itu rumah harus nyaman.” – Cerita Rumah Kartika
Sebagai wanita karier di ibu kota Jakarta dengan posisi yang cukup lumayan, pendapatan Kartika yang ketika itu masih lajang sebenarnya cukup untuk mencicil rumah. Namun, di masa itu rumah tak ada dalam daftar keinginan Kartika. “Dulu saya work hard, play harder. Nggak kepikir untuk beli rumah,” ujar Kartika.
Namun sebuah peristiwa mengetuk hatinya, yang membuatnya mulai memikirkan arti pentingnya sebuah tempat tinggal bagi dirinya. Walaupun belum menikah, dan tak tahu kapan dan dengan siapa kelak ia akan menikah, Kartika memutuskan membeli rumah dari hasil jerih payahnya sendiri.
Setelah lama mencari, akhirnya ia pun jatuh cinta pada sebuah rumah yang berlokasi di Perumahan Bukit Golf Riverside, Cimanggis, Depok. Rumah dengan luas tanah 105 meter persegi dan luas bangunan 45 meter persegi yang ia beli saat masih lajang itu akhirnya menjadi tempat keluarganya bernaung, sampai sekarang.
Bahkan kini rumah tersebut , yang dibuat akun @rumah.BG menjadi favorit tempat nongkrong anak-anaknya beserta teman-teman mereka. Hunian mungil itu telah bertransformasi menjadi rumah sekaligus ‘cafe’ yang cozy. Membuat siapapun betah untuk berlama-lama dan bercengkrama di dalamnya.
Lagi cari rumah di area Cimanggis, Depok, seperti rumah Kartika yang fasilitas kawasannya lengkap, vibes-nya seperti di Puncak, selangkah ke Jakarta, aksesnya juga mudah? Cek pilihan rumahnya dengan harga mulai dari Rp300 jutaan di sini!

Cerita Rumah Kartika: Saran Keluarga Diabaikan, Beli Rumah Karena Cerita Teman

Cerita Rumah Kartika: Saran Keluarga Diabaikan, Beli Rumah Karena Cerita Teman
Meski sedang menjalin hubungan pacaran, Kartika masih belum memikirkan rencana jangka panjang. Cerita temannya itu menjadi semacam ‘pengingat’ bagi Kartika.
Muda, punya uang, senang-senang. Itulah gaya hidup Kartika sebelum terpikir untuk memiliki hunian. Uang yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya dengan cepat berubah bentuk menjadi benda-benda konsumtif, seperti tas, baju, sepatu, dan berburu aneka kuliner lezat.
Hingga suatu ketika salah seorang temannya menikah. “Temanku cerita bagaimana ia membutuhkan rumah. Kebutuhan utama orang hidup, apalagi ketika sudah berkeluarga, adalah rumah. Sejak itulah aku mulai kepikiran. ‘Iya ya, kenapa aku nggak mulai aja cari rumah,’” pikir Kartika. Saat itu ia memang tengah menjalin hubungan dengan seorang pria.
Meski sedang menjalin hubungan pacaran, Kartika masih belum memikirkan rencana jangka panjang. Cerita temannya itu menjadi semacam ‘pengingat’ bagi Kartika. “Dengan membeli rumah, setidaknya uang yang selama ini habis entah ke mana, paling tidak akan kelihatan wujudnya. Hasil dari kerja kerasku ada hasilnya.”
Padahal diakui Kartika, keluarganya selama ini telah menyarankan ia untuk membeli rumah. Bahkan adiknya yang laki-laki pun telah membeli rumah. “Itulah, kalau keluarga yang ngomong sering nggak didengerin. Apalagi kalau adik yang ngomong. Tapi begitu teman yang ngomong, langsung dipikirin,” ujar Kartika sambil terkekeh.
Sejak memutuskan untuk membeli rumah, Kartika pun mulai mencari-cari rumah yang sesuai kriterianya. Saat itu yang jadi pertimbangan utama membeli rumah adalah besarnya cicilan per bulan. “Jadi tiap cari rumah, langsung yang aku lihat besarnya cicilan sebulan. Biar sesuai dengan kemampuan aku,” tutur Kartika.

Cerita Rumah Kartika: Cari Rumah Harus dalam Kompleks Perumahan dan Fokus ke Cicilan

Cerita Rumah Kartika: Cari Rumah Harus dalam Kompleks Perumahan dan Fokus ke Cicilan
Area pencarian rumah Kartika juga cukup luas, bahkan sampai daerah Bekasi. Lalu daerah Cibubur atau Jakarta Timur.
Strategi Kartika dalam mencari rumah adalah dengan menanyakan ke teman-temannya. Tinggal di daerah mana, enak tidak tinggal di area itu. Kemudian mencari lewat internet, salah satunya laman listing properti di jual di Rumah.com. Kalau tertarik, ia akan berkunjung ke daerah tempat tinggal temannya tersebut. “Minta dianter papa untuk lihat-lihat.”
Berbagai lokasi ia datangi, teman-temannya pun ia ‘interogasi’. Area pencarian rumah Kartika juga cukup luas, bahkan sampai daerah Bekasi. Lalu daerah Cibubur atau Jakarta Timur. Biasanya ia akan melihat langsung ke lokasi saat akhir pekan.
Untuk cicilan per bulan, saat itu Kartika menganggarkan sekitar Rp1,5 juta. “Karena aku kan baru kerja beberapa tahun. Jadi ambil cicilan yang sesuai. Aku pikir, karena masih tinggal dengan orang tua, tidak ada tanggungan, makanya aku memberanikan diri dengan cicilan sebesar itu,” jelas Kartika.
Mau beli rumah? Manfaatkan saja jasa agen properti. Simak video untungnya beli rumah pakai agen properti berikut ini:
Sedangkan untuk down payment (DP), Kartika menganggarkan dari tabungannya. “Jadi bujet cicilan aku utak-atik di DP. Berapa cicilannya kalau DP-nya sekian. Semakin besar DP berarti semakin kecil cicilan per bulan. Jadi gimana caranya agar biaya cicilan tidak terlalu besar,” ujar Kartika.
Selain besar cicilan yang sesuai bujet, ada dua faktor lain yang menjadi penentu Kartika dalam memutuskan membeli rumah. “Pertama adalah rumah di dalam kompleks. Dari dulu aku tinggal bersama orang tua yang selalu tinggal di kompleks perumahan. Jadi mindset aku, seperti orang tua, tinggal di kompleks lebih nyaman,” tutur Kartika.

Cerita Rumah Kartika: Perumahan Rasa Puncak di Cimanggis yang Nyaman Abis

Cerita Rumah Kartika: Perumahan Rasa Puncak di Cimanggis yang Nyaman Abis
Saat sedang mengunjungi rumah adiknya di Cibubur, Kartika sempatkan diri untuk berkeliling ke daerah-daerah sekitar situ.
Menurut Kartika, rumah di kompleks lebih terjamin keamanannya. Selain itu tersedia fasilitas umum maupun fasilitas sosial. “Nggak pernah terpikir mencari rumah yang di luar kompleks.” Pertimbangan kedua adalah lingkungannya. Baru setelah itu apakah semua itu sesuai dengan bujetnya.
“Kalau lingkungannya bagus, bujetnya nggak cocok juga nggak jadi. Tapi kalau lingkungannya jelek, bujetnya cocok, saya juga nggak mau.” Itulah tiga faktor penentu Kartika dalam memilih rumah. Setelah mencari ke mana-mana, pencariannya justru bermuara pada rumah yang terletak tak jauh dari rumah adiknya.
Saat sedang mengunjungi rumah adiknya di Cibubur, Kartika sempatkan diri untuk berkeliling ke daerah-daerah sekitar situ. “Istilahnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu masuk gerbang Bukit Golf langsung terpesona. Kayak di mana gitu. Vibes-nya seperti di puncak, seperti ada kabut,” ujar Kartika.
Lagi cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya pada laman AreaInsider
Tanpa membuang waktu ia pun langsung mengarahkan kendaraan ke kantor marketing. “Ternyata di sana terlihat kolam renang yang asik banget. Makin jatuh cinta. Sampai sekarang sering jadi tempat resepsi perkawinan.” Seperti jodoh, ternyata jumlah cicilan per bulan sesuai dengan bujet Kartika.
Akhirnya mantaplah ia membeli rumah di Bukit Golf Cimanggis, Depok. “Saat itu untuk DP, selain aku menggunakan tabungan juga dibantu dengan meminjam uang ke orang tua. Jadi DP lumayan besar, sehingga cicilan jadi tidak terlalu berat,” jelas Kartika.

Cerita Rumah Kartika: Serah Terima Kunci Rumah Tepat Sebulan Sebelum Menikah

Sebulan Sebelum Menikah
Rumah mungil itu sudah cukup memenuhi kebutuhan mereka sebagai pasangan yang baru menikah.
Dengan DP sekitar 25% dari harga rumah, Kartika pun melanjutkan cicilan rumah menggunakan KPR dengan tenor 15 tahun. Dalam prosesnya, terjadi kenaikan suku bunga cicilan ketika memasuki tahun kedua yaitu sekitar 0,77%, lalu pada tahun ketiga turun sedikit yaitu sekitar 0,25% dari cicilan di tahun kedua. Dan kemudian terakhir naik sebesar 14,2% dari harga cicilan di tahun pertama.
Perlu waktu setahun bagi developer untuk membangun rumah tersebut. Untungnya waktu tersebut pas dengan momen pernikahan Kartika. Rumah itu akhirnya selesai dibangun dan serah terima kunci sebulan sebelum ia menikah. “Jadi begitu aku menikah langsung pindah dan menempati rumah ini,” kenang Kartika.
Rumah dengan dua kamar tersebut masih sangat minimalis. Saat itu uangnya memang tidak tersisa banyak, terkuras untuk biaya membeli rumah dan biaya perkawinan. “Yang diprioritaskan hanya yang diperlukan, seperti tempat tidur, televisi, kompor, meja kursi, dan lain-lain,” ujar Kartika.
Untuk menyiasati kebutuhan furnitur, Kartika memanfaatkan bahan-bahan bekas. Seperti meja untuk kompor ia menggunakan kayu-kayu bekas tukang bangunan. Ia juga memanfaatkan bekas peti kayu kemas sebagai rak TV. “Dana kita waktu itu udah banyak tersedot untuk cicilan-cicilan, seperti rumah, TV, dan lain-lain,” ujar Kartika seraya merinci pengeluarannya saat itu.
Selama satu tahun perkawinan, Kartika dan suami cukup puas dengan keadaan rumah mereka. Rumah mungil itu sudah cukup memenuhi kebutuhan mereka sebagai pasangan yang baru menikah. Pasangan muda itu pun mulai kembali menata keuangan keluarga mereka.

Cerita Rumah Kartika: Jelang Melahirkan Renovasi, Lunasi KPR Karena Tidak Bekerja Lagi

Cerita Rumah Kartika: Jelang Melahirkan Renovasi, Lunasi KPR Karena Tidak Bekerja Lagi
Anggaran untuk renovasi ini ia sisihkan dari penghasilan tambahan, seperti bonus dan Tunjangan Hari Raya (THR).
“Ternyata Allah memberi waktu aku dan suami untuk menyelesaikan semua cicilan, seperti cicilan TV, kulkas, kompor, mesin cuci. Baru setelah semua lunas, Allah memberi kami rezeki lain, yaitu calon anak,” jelas Kartika yang akhirnya mengandung anak pertamanya sekitar setahun setelah mereka menikah.
“Setelah hamil, kami mulai planning lagi. Kalau aku melahirkan aku butuh orang buat bantu. Mulailah aku dan suami memikirkan lahan yang di belakang yang masih tanah untuk kami bangun tingkat sebagai kamar pembantu,” terang Kartika yang juga memperluas teras dan membuat carport sebagai tempat parkir mobil.
Bukan hanya satu, Kartika sudah merencanakan akan menambah dua asisten rumah tangga (ART). “Karena pengennya satu fokus buat anak, satu fokus membereskan rumah. Karena kalau satu orang khawatirnya nanti bayi saya kenapa-kenapa. Takutnya dia terlalu capek. Ini demi kesejahteraan anak dan ART juga,” timbang Kartika
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
Jadi Kartika membangun dak untuk kamar ART dan area servis untuk mesin cuci dan menjemur pakaian, plus area buat mereka duduk-duduk. Anggaran untuk renovasi ini ia sisihkan dari penghasilan tambahan, seperti bonus dan Tunjangan Hari Raya (THR). “Aku mengurus sendiri renovasi ini. Saat hamil besar aku juga pergi buat beli keramik dan lain-lain,” tambahnya lagi.
Namun kehidupan Kartika berubah 180 derajat ketika ia akan melahirkan anak kedua, empat tahun setelah anak pertamanya lahir. “Begitu anak aku mau lahir, ART minta berhenti karena mau nikah. Di situlah kesulitan mulai muncul. Aku sulit menemukan ART yang amanah,” yang menurutnya sebagai hal penting saat merekrut ART.
Akhirnya Kartika memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai product manager di sebuah perusahaan farmasi. Dari uang ‘pesangon’ ketika ia berhenti itulah Kartika akhirnya bisa melunasi cicilan KPR rumahnya lebih cepat. Pertimbangannya waktu itu, lebih baik dilunasi agar terbebas dari cicilan karena sudah tidak bekerja lagi.

Cerita Rumah Kartika: Sempat Depresi Hingga Sukses Bisnis Bahan Pembuat Roti

Cerita Rumah Kartika: Sempat Depresi Hingga Sukses Bisnis Bahan Pembuat Roti
Seiring berjalannya waktu, rumah Kartika mulai berulah. Rayap-rayap mulai menggerogoti kusen-kusen dan rangka-rangka atap berbahan kayu
Meski cicilan rumah sudah beres, namun ternyata pikirannya tidak makin enteng. “Aku sempat mengalami depresi. Bayangin dari orang bekerja yang biasanya sering ke luar kota. Sekarang harus di rumah saja,” ujar Kartika yang akhirnya memilih mengisi waktu luangnya dengan mengikuti komunitas cooking di media sosial facebook.
“Aku belajar buat roti. Pada perjalanannya akhirnya berkembang, tapi bukan membuat roti, melainkan menjual bahan-bahan pembuat roti. Prinsipku, menjual apa yang aku makan. Kalau nggak laku minimal bisa aku makan. Aku berhasil menjual produk coklat lokal yang waktu itu lagi booming. Dalam 6 bulan aku berhasil menjual 1 ton produk cokelat,” ujarnya mantap.
Berkat pengetahuan marketing dari tempatnya dulu bekerja, bisnis rumahan tersebut pun berkembang pesat menjadi menjual berbagai macam bahan kue dan frozen food. Oleh karena itu Kartika menyewa ruko untuk Toko Bahan Kue Sokolati, tak jauh dari tempat tinggalnya, yaitu di daerah Leuwinanggung.
Seiring dengan berjalannya waktu, rumah yang ia lunasi pada tahun 2016 tersebut mulai berulah. Rayap-rayap mulai menggerogoti kusen-kusen dan rangka-rangka atap berbahan kayu. “Kusen-kusen banyak yang bolong-bolong. Kelihatan utuh tapi ketika ditusuk pake jari keropos,” ujar Kartika.
Rayap memang menjadi masalah di sekitar area tempat tinggalnya. Beberapa tetangganya telah mengganti atap mereka dengan atap berbahan baja ringan. “Aku pikir aku masih aman, karena kalau pun bocor paling kecil-kecil.” Hingga pada suatu hari, plafon kamar dan ruang tamunya ambrol.

Cerita Rumah Kartika: Sadar Diri, Pilih Gunakan Jasa Arsitek dan Kontraktor untuk Renovasi

Cerita Rumah Kartika: Sadar Diri, Pilih Gunakan Jasa Arsitek dan Kontraktor untuk Renovasi
Berkaca dari pengalamannya ketika renovasi ruang servis untuk ART, kali ini Kartika memilih menggunakan jasa kontraktor dan arsitek untuk merenovasi total rumahnya.
“Waktu itu sedang masa awal pandemi COVID-19, di mana anak belajar dari rumah. Untung anak-anak tidak kenapa-kenapa.” Itulah titik balik di mana akhirnya Kartika dan suami mulai memikirkan untuk merenovasi kembali rumah mereka.
“Rumah itu memang benar-benar apa adanya. Selain kusen mulai bolong-bolong, cat tembok pun sudah penuh coretan anak-anak. Kita memang nahan-nahan untuk tidak renovasi. Tapi rumah itu memang sudah nggak nyaman, sih,” jelas Kartika yang saat itu mulai sedikit demi sedikit menabung.
Berkaca dari pengalamannya ketika renovasi ruang servis untuk ART, kali ini Kartika memilih menggunakan jasa kontraktor dan arsitek untuk merenovasi total rumahnya. “Kita pakai jasa arsitek karena kita tahu kemampuan sendiri. Kita nggak punya kemampuan mendesain, tak punya pula pengetahuan mengenai bahan bangunan.”

Tips Rumah.com

Ulasan atau testimoni dari klien sebelumnya bisa Anda jadikan salah satu indikator apakah jasa arsitek tersebut cocok untuk Anda. Apakah hasil akhirnya bagus atau kurang, apakah durasi pengerjaan tepat waktu, hingga tarif arsitek rumah adalah beberapa informasi yang bisa Anda ketahui dari testimoni klien sebelumnya.

Dengan menggunakan jasa kontraktor dan arsitek Kartika justru bisa menghindari pembengkakan dana renovasi. Sebagai gambaran Kartika menjelaskan, “Dana aku sekian, bisa dibantu tidak. Mereka membantu kami untuk mengatur bujet. Kemampuan kami sekian, berarti bahan bakunya seperti ini.”
Arsitek juga membantu Kartika merealisasikan ide-idenya. “Ide tetap dari aku.” Ia mencari ide-ide lewat internet, seperti laman tips rumah dan apartemen di Rumah.com. “Kayak teras jadi seperti itu, dapur seperti itu, aku yang minta.” Kartika menerapkan tema open space untuk rumah ‘barunya’. Minimalis namun nyaman.

Cerita Rumah Kartika: Renovasi Rumah yang Dukung Hobi Pasangan Suami Istri

Mengakomodir Hobi Pasutri
Renovasi ini mendukung hobi Kartika berkebun di lantai dua, juga menyediakan tempat bagi suami Kartika untuk memelihara ikan cupang di lantai tiga
Agar renovasi berjalan lancar, Kartika menyewa dua rumah, satu untuk mereka tinggal, satu lagi untuk menaruh barang-barang. Untungnya kedua rumah tersebut terletak persis di depan rumahnya, sehingga ia masih bisa mengawasi proses renovasi.
Untuk renovasi total ini, Kartika menyediakan bujet lumayan besar. “Sebagian besar tabungan dan bonus dari suami. Ada pula yang kami pinjam ke orang tua, tapi sedikit,” terang Kartika. Namun ternyata biaya renovasi sedikit membengkak karena ada beberapa penambahan.
Setelah hampir setahun renovasi, rumah yang lahir dari ide-ide Kartika pun berwujud. Rumah dengan konsep fungsional, sesuai dengan kebutuhan para penghuninya. Rumah yang didesain sedemikian rupa sehingga dengan luas tanah yang sama mampu mengakomodir hobi Kartika dan suami.
Hunian yang kini seluas 160 meter persegi itu memiliki tempat bagi Kartika untuk menyalurkan hobi berkebun di lantai dua. Juga menyediakan tempat bagi suami Kartika untuk memelihara ikan cupang di lantai tiga, termasuk tempat ngopi. Semuanya bisa diakses tanpa perlu masuk ke rumah.
“Di samping teras ada tangga ke lantai dua, langsung ke tempat tanaman aku. Dari situ ada lagi tangga ke lantai tiga tanpa harus masuk ke dalam rumah. Karena teman-teman suamiku dari komunitas cupang sering kumpul di rumah. Makanya sekalian didesain sebagai tempat nongkrong,” urai Kartika.

Cerita Rumah Kartika: Rumah Jadi Tempat Nongkrong Nyaman, Punya Ruko Jadi Impian

Cerita Rumah Kartika: Rumah Jadi Tempat Nongkrong Nyaman, Punya Ruko Jadi Impian
Kini rumah 2,5 lantai itu telah menjadi hunian idaman bagi Kartika. Tak ada lagi yang ingin ia ubah.
“Kita memaksimalkan setiap ruang. Teras kita jadikan ruang tamu yang aku buat ala cafe. Modelnya industrial. Ada jendela yang dibuka langsung ke dapur. Jadi ketika menyuguhkan kopi atau yang lain tak perlu keluar, cukup menyodorkan dari jendela tersebut. Tinggal ditagih deh,” ujar Kartika sambil tergelak.
Kartika sengaja memperbanyak tempat untuk nongkrong, seperti di teras, balkon, dan dapur, agar kedua anaknya betah di rumah. Bila perlu bersama teman-temannya. “Aku tahu sebentar lagi mereka akan remaja, punya teman. Jadi aku sengaja bikin tempat yang banyak buat mereka, mereka mau main, ya udah ke rumah aja.”
Kini rumah 2,5 lantai itu telah menjadi hunian idaman bagi Kartika. Tak ada lagi yang ingin ia ubah. Home sweet home. “Sekarang fokusnya pindah. Fokus nabung untuk memiliki ruko. Saat ini toko masih ngontrak. Padahal kalau dihitung-hitung duitnya bisa buat nyicil ruko. Harapannya ke depannya kita bisa punya ruko,” ujar Kartika menutup ceritanya.
Itulah cerita pengalaman Kartika yang konsumtif hingga berhasil punya rumah aestetik. Tergerak ounya rumah karena cerita teman, kini rumahnya jadi tempat nongkrong yang nyaman. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Yudhanti Aris Hendrawan, Foto: Adiansa Rachman

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini