Cerita Rumah Kess: Pengajuan KPR Ditolak Berkali-kali, Disetujui Gara-gara Menikah Lagi

Wahyu Ardiyanto
Kresna Nowandoko yang biasa dipanggil Kess, punya target memiliki rumah sebelum usia 40. “Selain ingin punya tempat berlindung, saya juga gengsi. A man without land is nothing,” katanya setengah berkelakar.
Impiannya pada akhirnya berhasil terwujud, tepat di umur 40 tahun! Namun perjuangan Kess cukup panjang sampai bisa membeli dan menempati rumahnya. Perjuangan mencari rumah, membayar DP rumah, mengajukan KPR, hingga kendala lain yang muncul.
Namun bagaimana pun sepak terjang serta kesulitannya sejak awal, Kess tetap bersyukur karena telah memberanikan diri membeli rumah pada 2013 lalu. Sebuah rumah dengan luas tanah 72 m2 dan luas bangunan 36 m2 di Citayam, yang bersebelahan dengan Depok.
Mau punya rumah di area di Citayam yang nempel Depok, mudah ke Jakarta ataupun Bogor karena dekat dengan stasiun kereta? Temukan pilihan rumahnya dengan harga di bawah Rp500 jutaan di sini!
“Kalau mau punya rumah, nekat saja. Beli saja, walaupun belum ada uangnya. Apalagi kalau kita masih muda dan rumah itu demi keluarga. Masa sih tidak ada rezeki buat anak istri kita?” ujarnya.

Cerita Rumah Kess: Bertekad Punya Rumah Sendiri Setelah Berpisah dengan Mantan Istri

Cerita Rumah Kess: Bertekad Punya Rumah Sendiri Setelah Berpisah dengan Mantan Istri
Sejak pertama mencari rumah, target Kess jelas: Rumah seharga kurang dari Rp200 juta. Ia berkeliling ke berbagai perumahan dan klaster di Depok.
Kess tidak main-main ketika berkata “nekat saja”. Pada tahun 2013 itu ia memang benar-benar tidak punya dana untuk membeli rumah. Ketika itu ia sedang hidup melajang, masih indekos dari satu tempat ke tempat lain.
Setahun sebelumnya, Kess berpisah dari (mantan) istrinya. Ia harus meninggalkan rumah yang selama ini mereka huni, karena rumah itu adalah pemberian mertua. Selama tiga hari pertama ia tidur di kantor, sampai akhirnya seorang teman menawari Kess untuk indekos di tempatnya. Pembayarannya boleh menunggu sampai Kess gajian.
“Sejak itulah, saya bertekad punya rumah sendiri. Secepat mungkin. Mantan istri saja tidak pernah percaya kalau saya memiliki impian untuk membeli rumah. Tapi masa sih, saya nggak bisa? Masa sih, saya hidup ngekos terus? Dengan modal nekad, saya mulai mencari-cari rumah. Padahal waktu itu saya tidak pegang uang sama sekali,” tutur Kess.
Sejak pertama mencari rumah, target Kess jelas: Rumah seharga kurang dari Rp200 juta. Ia berkeliling ke berbagai perumahan dan klaster di Depok. Sebagian besar lokasi yang dilihatnya masih dalam proses pembangunan, bahkan tak ada rumah contoh. Ia hanya mendatangi kantor pemasaran, bertanya-tanya dan mengambil brosur.
Saat itu Kess bekerja di showroom mobil milik temannya. Sambil menjalankan tugas utamanya sebagai pengemudi, ia memasarkan mobil dagangan. Tak disangka, Kess mendapat tawaran menarik dari seorang pelanggan. Kebetulan, lahan milik si pelanggan akan dijadikan perumahan oleh satu pengembang.
Karena si pelanggan kenal dekat dengan Kess dan pernah dua kali membeli mobil dengan bantuannya, Kess dibolehkan membeli rumah tanpa uang muka. Ia cukup datang, memilih lokasi yang diinginkan, dan membayar angsuran Rp900 ribu hingga satu juta rupiah per bulan. Bagai mendapat durian runtuh, Kess kegirangan.

Cerita Rumah Kess: Sadar Kemampuan, Tolak Tawaran Gadaikan SK Pengangkatan

Cerita Rumah Kess: Sadar Kemampuan, Tolak Tawaran Gadaikan SK Pengangkatan
Ibu Kess sempat menawarkan untuk menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan PNS-nya. SK itu bisa dijadikan jaminan pengajuan kredit ke bank.
Sayang, orang tuanya keberatan karena lokasi perumahan tersebut di Citereup, Cileungsi, dianggap terlalu jauh, “Keluarga kamu kan di Depok, kerja di Depok, teman-teman juga banyak di Depok. Buat apa sih, tinggal jauh-jauh? Memang di Depok sudah nggak ada rumah yang dijual?”
Tak mendapat restu dari orang tua, Kess kembali mencari rumah lainnya. Kali ini ia memanfaatkan fitur pencarian pada listing properti di jual di Rumah.com untuk mengetahui harga kisaran rumah baru di Depok, namun ternyata rata-rata sudah lebih dari Rp200 juta. Karena itu ia pun mulai menyasar ke daerah pinggiran Depok.
Ibu Kess bahkan sempat menawarkan untuk menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan PNS-nya. SK itu bisa dijadikan jaminan pengajuan kredit ke bank yang nilainya hingga Rp200 juta. Dengan begitu Kess bisa membeli rumah seken, lalu mengangsur tiap bulan pada ibunya.
“Saya menolak karena takkan mampu mencicil pinjaman ratusan juta hanya dalam setahun atau dua tahun. Pasti saya butuh waktu puluhan tahun. Bagaimana kalau nanti ibu saya punya keperluan mendesak? SK-nya sudah telanjur dipakai buat saya dan tidak bisa diajukan ke bank lagi,” kenangnya.
Tak berhasil menemukan rumah seharga kurang dari Rp200 juta di Kota Depok, Kess mulai melihat-lihat perumahan lama di Pondok Rajeg dan Citayam. Harganya memang cocok, tapi ia ragu karena penghuninya kebanyakan lansia.
Ketika sedang keliling Citayam, ia menemukan lahan perumahan Pesona Citayam yang sedang dibangun. Lahan itu masih berupa kebun, tapi sudah ada rumah contoh yang tampilannya cukup modern di mata Kess. Harga rumah indent tersebut Rp150 juta. Menurut staf pemasarannya, perumahan itu akan selesai dalam waktu enam bulan.

Cerita Rumah Kess: Demi DP Rumah ‘Sekolahkan’ Motor, Pinjam dari Kantor

Cerita Rumah Kess: Demi DP Rumah 'Sekolahkan' Motor, Pinjam dari Kantor
Kess mengaku sudah kebelet punya rumah hingga tak mematok banyak kriteria. Ia cuma menginginkan rumah di sekitar Depok seharga kurang dari Rp200 juta.
Kess tidak langsung membuat keputusan. Ia masih berusaha mencari perumahan yang lebih dekat ke Depok, namun tidak berhasil. Dua minggu kemudian, saat ia kembali ke Pesona Citayam, ia sangat kaget karena harga rumah yang diincar sudah berubah.
Harga rumah yang awalnya Rp150 juta sudah naik jadi Rp167 juta. Hampir 12% kenaikannya. Bila Kess menunggu seminggu atau dua minggu lagi, besar kemungkinan harganya bertambah tinggi.
“Karena takut harganya naik lagi, saya langsung bayar booking fee satu juta rupiah. Waktu itu saya pinjam ke bapak yang sedang menemani saya. Setelah membayar, saya diminta memilih lokasi. Saya pilih blok yang posisinya paling tinggi. Ada blok di bawah, pinggir kali. Saya tak mau di sana karena pasti ada risiko kebanjiran kelak,” jelasnya.
Kess mengaku sudah kebelet punya rumah hingga tak mematok banyak kriteria. Ia cuma menginginkan rumah di sekitar Depok seharga kurang dari Rp200 juta, dan yang penting tidak banjir. Itu saja, katanya. Belakangan, ia baru sadar kalau perumahan itu cukup strategis, hanya berjarak satu kilometer dekat Stasiun KRL Citayam.
Dua minggu setelah menyerahkan booking fee, pihak pengembang meminta Kess melunasi DP rumah. Menurut ketentuan, pembayaran DP pertama sebesar Rp8,1 juta dan selanjutnya Rp3 juta. Namun Kess ingin menggenapi DP-nya sebesar Rp17 juta. Lalu kekurangan Rp150 juta rencananya ia bayar melalui skema KPR.
“Untuk mengumpulkan DP saya ‘sekolahin’ motor selama setahun. Sisanya pinjam dari kantor. Dapatlah Rp16 juta,” jelas Kess. Setelah DP rumah dibayarkan pada April 2013, ia tinggal menunggu enam bulan hingga rumah selesai dibangun. Namun hingga nyaris setahun kemudian, rumahnya belum juga terwujud.

Cerita Rumah Kess: Pembangunan Rumah Setahun Baru Berdiri, KPR Ditolak Empat Kali

Cerita Rumah Kess: Pembangunan Rumah Setahun Baru Berdiri, KPR Ditolak Empat Kali
Di perumahan ini, setelah rumah berdiri baru pembeli diminta untuk proses selanjutnya, yakni mengajukan KPR.
“Terus terang, saya pasrah. Saya tidak pernah bertanya, protes, atau mendesak pengembang agar segera menepati janjinya. Kalau memang belum jadi, ya mau bagaimana? Yang penting saya pegang kuitansi. Saya percaya saja. Saya lihat, rumah blok bawah di pinggir kali yang dibangun lebih dulu,” urai Kess santai.
Tepat setahun setelah membayar DP rumah, Kess dikabari bahwa rumahnya sudah selesai dibangun. Rumah satu lantai dengan luas tanah 72 m2 dan luas bangunan 36 m2. Di perumahan ini, setelah rumah berdiri baru pembeli diminta untuk proses selanjutnya, yakni mengajukan KPR.
“Di perumahan itu ketika rumah jadi baru proses KPR, kalau tidak disetujui bank uang DP rumah bisa dikembalikan,” jelas Kess. Menurut agen pemasaran yang menanganinya, hal ini adalah cara paling aman untuk pembeli.
Yang Kess dengar, sempat ada beberapa kasus yang terjadi, agen pemasarannya ‘nakal’. Bahkan beberapa sudah tertangkap, makanya harga rumah di perumahan itu tidak sama. Di waktu bersamaan sangat bervariasi. Ada yang Rp150 juta bahkan Rp250 juta!
Ketika saatnya proses mencari KPR, Kess sudah bertekad mengambil KPR Syariah. Pikirnya, bank syariah pasti lebih transparan. Namun sayang, pengajuan KPR Kess pada tiga bank syariah ditolak semua.
Pihak pengembang lalu menawarkan Kess mengambil KPR di salah satu bank BUMN. Walaupun awalnya enggan mengajukan KPR pada bank konvensional, tapi Kess menurut. Hasilnya? Ia ditolak lagi!

Cerita Rumah Kess: Pengajuan KPR Berdua Istri Disetujui, DP Rumah Mesti Ditambah

Cerita Rumah Kess: Pengajuan KPR Berdua Istri Disetujui, DP Rumah Mesti Ditambah
Karena sudah menikah lagi dan istrinya juga bekerja, Kess pun mengajukan KPR berdua dengan sang istri. Ternyata besoknya langsung disetujui.
Kali ini, ada bocoran kenapa permohonan itu ditolak. Rupanya Kess masih punya pinjaman di bank lain yang belum lunas. “Saya sedang nyekolahin BPKB mobil untuk modal menikah lagi. Sepertinya tanggungan ini yang membuat KPR saya tersendat.”
Namun semangat Kess belum surut. Ia kembali mencoba untuk kelima kalinya. Karena sudah menikah lagi dan istrinya juga bekerja, kali ini ia mengajukan KPR berdua dengan istri, join income, – masih pada bank BUMN yang sama. Kess menyiapkan dokumen tambahan seperti buku nikah, kartu keluarga baru dan slip gaji istri. Besoknya langsung disetujui!
Kess yang sudah gembira karena permohonan KPR-nya diterima ternyata masih harus menghadapi tantangan baru lagi. Pihak bank mewajibkan Kess membayar DP rumah sebesar 20 persen dari harga rumah, tepatnya Rp33,4 juta. Setahun lalu, Kess baru membayar Rp17 juta, berarti kekurangannya masih Rp16,4 juta.
“Saya pusing karena mendadak harus mengumpulkan uang sebesar itu. Belum lagi biaya tambahan lainnya seperti notaris, asuransi, dan BPHTB sebesar Rp8 juta. Dan saya harus mengejar waktu akad kredit. Jujur sempat terpikir untuk menarik saja DP rumah yang sudah diserahkan, tapi saya ingin sekali punya rumah,” kenang Kess.
Ia pun terpaksa menjual motornya – motor yang pernah ia gadaikan setahun lalu untuk mengumpulkan DP rumah. Namun hasil penjualan motor belum cukup. Kess masih harus meminjam sisanya dari orang tua. Tiap bulan ia mengangsur pinjamannya pada mereka. Akhirnya pada November 2014, Kess menandatangani akad kredit.
Meskipun rumahnya sudah berdiri, Kess dan istrinya –Yuli- tidak langsung pindah. Pasalnya, listrik dan air belum ada. Kess masih harus memasang pompa dan mengebor tanah untuk mendapatkan sumber air bersih. Bagian dapur di belakang rumah pun masih terbuka. Jalanan di depan rumahnya juga belum dicor.

Cerita Rumah Kess: Join Income Jadi Solusi, Semua Pendapatan Setor Istri

Cerita Rumah Kess: Join Income Jadi Solusi, Semua Pendapatan Setor Istri
Kess mengakui, mencicil rumah secara join income dengan pasangan bikin cicilan jadi lebih ringan.
“Setelah akad kredit, kami menengok rumah dua minggu sekali. Kalau ada rezeki, kami beli kasur atau tanaman. Pokoknya diisi dulu saja rumahnya. Mengebor tanah juga perlu biaya tak sedikit, sekitar Rp8 juta. Karena dananya belum siap, untuk sementara kami tinggal di rumah orang tua istri,” jelasnya.
Namun angsuran KPR tentu sudah berjalan. Kess dan istri bahu-membahu mengangsur kredit. “Semua pendapatan saya setor pada istri. Dia yang atur untuk pembayaran ini itu. Bahaya kalau saya yang pegang. Ha ha ha…,” ujar Kess seraya tergelak.
Kess menambahkan, “Jujur harus saya akui, mencicil rumah secara join income dengan pasangan tentu lebih ringan. Tapi yang pertama, kita harus mengetahui berapa besar penghasilan gabungan berdua. Besarnya rasio cicilan KPR tidak boleh lebih dari 30 persen penghasilan total. Hitung juga pengeluaran bulanan karena biasanya jumlah ini tidak bisa berubah.”
Kess mengambil KPR dengan tenor 15 tahun. Pertama kali mengangsur pada 2014, ia membayar Rp1,4 juta per bulan. Kini setelah hampir tujuh tahun, cicilannya menjadi Rp1,8 juta per bulan.
“Dulu saya ditawari mengambil KPR dengan suku bunga tetap selama lima tahun. Angkanya Rp2,7 juta per bulan, tapi saya tolak. Cicilan saya sekarang saja sudah Rp1,8 juta per bulan, mungkin kelak bisa sampai Rp2,5 juta. Tapi separah-parahnya kenaikan suku bunga rasanya cicilan saya takkan melonjak sampai Rp2,7 juta,” ungkapnya.
Namun Kess juga mengeluhkan suku bunga KPR-nya. “Kalau suku bunga acuan BI naik, bank saya ikut naik. Tapi kalau bunga acuan BI turun, bank saya tidak turun. Tetangga saya yang mengambil KPR di bank lain punya cicilan yang lebih kecil dari saya. Ketika cicilan dia turun, cicilan saya tidak turun,” tutur Kess.

Cerita Rumah Kess: Renovasi dan Strategi Sunatan Demi Rumah yang Nyaman

Cerita Rumah Kess: Renovasi dan Strategi Sunatan Demi Rumah yang Nyaman
Kini sudah enam tahun Kess, Yuli, dan anak mereka –Kafi- tinggal di rumah milik mereka sendiri.
Walaupun mengeluhkan soal suku bunga KPR yang tidak turun-turun, Kess tak pernah menyesal membeli rumah. Apalagi nilai rumah yang dulu dibeli seharga Rp167 juta kini harga pasarannya sudah lebih dari Rp350 juta. “Seharusnya dulu saya bela-belain beli dua rumah sekaligus. Ha ha ha…” kelakarnya.
Kini sudah enam tahun Kess, Yuli, dan anak mereka –Kafi- tinggal di rumah milik mereka sendiri. Mereka resmi menempati rumah itu pada Maret 2015. Kess sendiri sekarang juga sudah beralih profesi, menjadi pekerja seni di sanggar Griya Seni Ekayana.
Namun dibalik semua cerita ternyata tersimpan sebuah cerita lagi. Jadi sebelum mereka bisa menempati rumahnya, Kess harus memutar otak. Ia perlu dana Rp8 juta untuk mengebor air tanah karena di perumahannya belum ada saluran PAM. Tidak mungkin pindah rumah jika belum ada air mengalir, kan?
Cara yang ditempuhnya cukup lucu, cerdik, dan… nekat. Ia sengaja merayakan sunatan Kafi dan mengundang banyak tamu – termasuk saudara-saudara yang berada. Sesuai harapannya, angpao yang terkumpul dari acara itu cukup banyak. Akhirnya ia mampu mengebor air tanah. “Jadi deh, kami pindahan,” kata Kess, jenaka.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
Dan sejak dibeli 2013 silam, baru Februari 2021 lalu Kess merenovasi rumahnya. Berbekal mencari informasi mengenai harga bahan bangunan terbaru di laman Panduan Properti di Rumah.com, ia pun tak ragu untuk melakukan renovasi.
Dapur di bagian belakang rumah yang dulu hanya beratapkan fiber kini sudah ditutup rapat dan lantai bawahnya dilapisi keramik. Ia tak terpikir untuk memperbesar atau merenovasi rumah lagi. Ia merasa cukup dan bersyukur dengan kondisi rumahnya. Ia bahkan membuat sendiri berbagai perlengkapan rumah, dari ambalan sampai pagar.
“Dulu sewaktu uang muka mendadak naik, istri saya marah. Katanya, ‘makanya kalau nggak punya uang, jangan beli rumah’. Tapi sekarang dia senang dan rajin menghias rumah kami. Sampai pernah dia pulang dengan membawa wallpaper, padahal kami tidak tahu bagaimana cara memasangnya. Harus berguru pada YouTube dulu,” urai Kess.

Cerita Rumah Kess: Punya Rumah Bikin Bangga, Bikin Bahagia

Cerita Rumah Kess: Punya Rumah Bikin Bangga, Bikin Bahagia
Kess merasa bangga bisa punya rumah hasil jerih payah sendiri, walaupun tidak besar. Sekarang ia tidak betah pergi lama dari rumah.
Lingkungan sekitar yang guyub dan akrab juga semakin memperkuat rasa cinta Kess pada rumahnya. Dulu, sebenarnya ia ragu tinggal di perumahan karena khawatir penghuninya individualis. Ia malah memimpikan hidup di dalam kampung.
“Syukurlah, suasana lingkungan rumah saya seperti kampung. Sebelum pandemi, saya dan tetangga sering ngumpul. Malam kita biasanya keluar, main pingpong atau gaple. Sering juga buka puasa bersama, kerja bakti, maulid-an atau tujuh belasan. Guyub sekali,” ujarnya.
Kess merasa bangga bisa punya rumah hasil jerih payah sendiri, walaupun tidak besar. Sekarang ia tidak betah pergi lama dari rumah. Bahkan kalau dapat pekerjaan ke luar kota dan mendapat fasilitas menginap di hotel bagus, ia tetap ingin buru-buru pulang karena lebih enak di rumah sendiri.

Tanya Rumah.com

Jelajahi Tanya Rumah.com, ambil keputusan dengan percaya diri bersama para pakar kami

“Rumah ini nikmat yang besar sekali, saya sangat bersyukur, hidup pun merasa tenang, damai, nyaman. Nggak ada keinginan untuk berbuat negatif, mencari masalah, apalagi berbuat yang melanggar hukum ha ha ha,” ujarnya sambil tertawa.
Kess menganggap semua ini adalah berkah dari Allah SWT. Asal sabar, ia percaya bisa berhasil beli rumah walau dana di awal belum ada. Rumus Kess: optimis dan nekat!
“Syukurlah, dulu saya nekat beli rumah walau tak punya bujet. Kalau saya tunda, pasti sampai sekarang saya tak mampu beli rumah. Kalau pun bisa, pasti rumahnya jauuuh… di puncak gunung. Susah sinyal dan tak ada ojek online. Mau beli nasi goreng saja, harus touring dulu. Ha ha ha…” tutupnya.
Itulah cerita perjuangan Kess untuk punya rumah sendiri meski dalam kondisi tertatih-tatih. Rumah yang didapat berbekal tekad dan modal nekat, rumah yang bikin bangga, bikin bahagia. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Sherly Puspita, Foto: Hadi Barong

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini