Cerita Rumah Komang: Hobi Traveling Terganjal Pandemi, Jadi Bisa Punya Rumah Sendiri

Wahyu Ardiyanto
Pandemi COVID 19 sejak awal tahun 2020 merupakan bencana global. Namun, bagi Komang Tri Santi Pande, ada hikmah di balik bencana tersebut. Sejak pandemi, ia justru bisa lebih berhemat dan berhasil membeli rumah impiannya.
“Jujur, saya dari dulu jarang menabung. Dulu saya sangat boros. Saya sangat suka traveling. Akibat tidak bisa traveling di masa pandemi ini, akhirnya saya justru bisa menabung. Jadi, bisa dikatakan saya baru mulai menabung sejak pandemi, semacam blessing in disguise,” ujar Komang.
Jika sebelumnya Komang menyisihkan pendapatannya untuk traveling, kali ini motivasinya berubah, yaitu untuk memiliki rumah sendiri. Di usianya yang memasuki awal 30-an ini, Komang merasa sudah saatnya dia memiliki rumah sendiri.
Beberapa alasan membuat Komang merasa penting untuk memiliki rumah, apalagi selama dua tahun ini ia menyewa sebuah apartemen yang tak jauh dari lokasi kantornya, di daerah Sudirman, Jakarta Pusat.
Apalagi, Komang dan pasangannya berencana menikah dalam waktu dekat, memiliki rumah sendiri adalah langkah awal ideal menuju jenjang kehidupan yang baru. Kini, sebuah rumah di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan telah berhasil dimilikinya.
Mau punya rumah di kawasan Cirendeu yang meskipun masuk wilayah Tangerang Selatan, tapi nempel banget dengan wilayah Jakarta Selatan? Ke MRT Lebak Bulus pun sekitar 10 menitan. Temukan pilihan rumahnya dengan harga mulai dari Rp500 jutaan di sini!
Sebuah rumah di kawasan yang ‘menempel’ dengan DKI Jakarta, aksesnya mudah, serta fasilitasnya pun lengkap. Dibanding area lainnya di Tangerang Selatan, kawasan Cirendeu merupakan pilihan yang bagus.

Cerita Rumah Komang: Berawal dari Trauma Masa Kecil dan Punya 5 Kucing Peliharaan

Cerita Rumah Komang: Berawal dari Trauma Masa Kecil dan Punya 5 Kucing Peliharaan
Komang sangat mengingat momen di mana pernah ia sekeluarga dua kali diusir dari rumah kontrakannya.
Setiap orang memiliki alasan tertentu saat memutuskan untuk membeli rumah. Begitu juga dengan wanita berdarah Bali-Jawa ini. Komang menceritakan bahwa sedari kecil keluarganya selalu mengontrak rumah.
Bahkan Komang sangat mengingat momen di mana pernah ia sekeluarga dua kali diusir dari rumah kontrakannya. Yang pertama ada keputusan tiba-tiba dari sang pemilik rumah yang disewa, dan kali kedua tiba-tiba rumah yang keluarga Komang sewa mau dijual oleh pemiliknya.
“Punya rumah memang ngeluarin uang banyak banget, tapi menurut saya kalau memang punya uangnya dan memang butuh, ya harus punya rumah sih,” jelasnya. Rumah, seperti apa pun kondisinya, pada akhirnya memang menjadi kebutuhan primer bagi setiap keluarga.
Sebelum berhasil membeli rumah Komang menyewa apartemen selama 2 tahun lamanya. Memang berbeda benefit yang didapat antara tinggal di apartemen dengan rumah tapak. Pasangan Komang pun pada awalnya lebih memilih untuk membeli apartemen saja. Namun harga unit apartemen dua kamar di tengah kota Jakarta sangatlah tinggi.
Apalagi kecintaan Komang pada 5 ekor kucing peliharaannya membuat ia merasa harus memilih rumah tapak sebagai tujuan hunian impiannya, karena tentu ia tidak akan diizinkan untuk memelihara hewan oleh manajemen apartemen di mana pun itu.
“Menurut saya kalau rumah tapak jika kita butuh area tambahan bisa ngebangun lagi, jadi rumah tumbuh. Selain itu, kalau rumah kan misalnya saya order makanan secara online sampainya langsung di depan pintu kita ha ha ha,” papar Komang.
Baik rumah tapak mau pun apartemen sebenarnya sama-sama memiliki keuntungan bagi pemiliknya. Namun semua kembali lagi pada kebutuhan masing-masing. Keduanya sama-sama bisa jadi hunian yang memiliki nilai investasi di mana kita tinggal memilih yang mana yang sesuai dengan kebutuhan dan juga kemampuan keuangan.

Cerita Rumah Komang: Cari Rumah Dekat Stasiun MRT Sesuai Bujet

Cerita Rumah Komang: Cari Rumah Dekat Stasiun MRT Sesuai Bujet
Syarat utama rumah yang ia cari adalah yang dekat dari stasiun MRT agar mudah pulang pergi ke kantornya yang berhadapan persis dengan stasiun MRT.
Dalam impian mewujudkan masa depannya, Komang memiliki tabungan bersama yang dikumpulkan bersama pasangannya. Dan di akhir tahun 2020, Komang merasa tabungan bersama mereka sudah cukup untuk memenuhi target DP rumah yang sesuai bujet mereka.
Komang sendiri telah menganggarkan kisaran bujet untuk pembelian rumahnya nanti, jika ditotal secara keseluruhan, termasuk dengan perhitungan rencana KPR, tidak lebih dari Rp1,5milyar.
Dalam masa pandemi tersebut Komang mulai mencari rumah dan riset melalui internet, salah satunya melalui listing properti di jual di Rumah.com. Syarat utama rumah yang ia cari adalah yang dekat dari stasiun MRT agar mudah pulang pergi ke kantornya yang berhadapan persis dengan stasiun MRT.
Selain itu, ia mencari perumahan dari pengembang besar, untuk mengurangi risiko muncul permasalahan dalam dokumen-dokumen nantinya. Komang mulai survei langsung ke beberapa lokasi, seperti ke daerah BSD, Bintaro, Gading Serpong, sampai ke Andara, tapi, belum ada yang sesuai dengan keinginannya.
“Pernah saya iseng lihat rumah contoh di BSD karena sedang berada di sekitar sana. Saat itu saya suka sekali dengan rumahnya, sayangnya rumah itu harus inden 2 tahun. Setelah dipikir-pikir, lebih baik cari yang ready stock agar pembayaran cicilan dan sewa apartemen tidak tumpang tindih,” kata Komang.
Bagi Anda yang sedang mencari rumah dan tidak terburu-buru untuk menempatinya, membeli rumah indent bisa menjadi solusi untuk membeli rumah dengan harga yang lebih terjangkau. Untuk panduan membeli rumah indent selengkapnya bisa dilihat di sini.
Beberapa rumah yang dia survei secara langsung ternyata cukup jauh dari stasiun MRT. Merasa kesulitan mencari rumah yang sesuai keinginannya, Komang lalu mengunggah status melalui akun Twitter-nya @komangtrisanthy yang memiliki jumlah followers 18,4k dan cukup banyak mendapatkan respon dari followers-nya.
“Ternyata susah cari rumah yang sesuai dengan bujet dan lokasi yang diinginkan,” unggahnya saat itu. Dari beberapa respon yang masuk, salah satu follower-nya merekomendasikan sebuah perumahan baru yang berlokasi di daerah Cirendeu, Tangerang Selatan. Menurut follower-nya, perumahan itu tak jauh dari stasiun MRT Lebak Bulus.

Cerita Rumah Komang: Lokasi Cocok, Harga Sesuai Bujet, Langsung Booking Fee

Cerita Rumah Komang: Lokasi Cocok, Harga Sesuai Bujet, Langsung Booking Fee
Sebagai pasangan muda penyuka kepraktisan dan gaya hidup urban, apa yang dihadirkan pada rumah tersebut mampu menjawab impiannya akan wujud hunian idaman yang nyaman.
Setelah mendapatkan respon di twitter dan mendapat rekomendasi sebuah perumahan baru yang berlokasi di daerah Cirendeu, Tangerang Selatan yang tak jauh dari stasiun MRT Lebak Bulus, Komang dan pasangannya yang tertarik pun langsung menelusurinya secara online dan setelahnya melakukan survei langsung ke lokasi.
“Berdasarkan Google Map, hanya 10 menit dari stasiun MRT, jadi saya perlu mengeceknya secara langsung,” ujar Komang. Ternyata, perumahan itu memang dekat dengan stasiun MRT, tapi sayangnya rumah yang ready stock alias siap huni sudah habis.
Padahal, Komang sudah merasa cocok baik dengan lokasi dan harganya pun dirasanya sesuai dengan kisaran bujet yang ia anggarkan. Saat itu Komang hanya meninggalkan nomor teleponnya pada bagian marketing perumahan.
Tak disangka, beberapa hari kemudian marketing perumahan tersebut mengabarkan ada rumah siap huni yang batal dibeli. Komang pun tanpa pikir panjang bergegas mengirimkan booking fee atau tanda jadi sebesar Rp10 juta untuk tanda jadi rumah tersebut. Bukan hanya lokasi dan harganya yang sesuai bujet, Komang juga menyukai lingkungan perumahannya.
Site Plan yang mereka buat bagus. Ada banyak ruang terbuka, taman, ada beberapa taman tematik. Kompleksnya tidak terlalu besar, tapi, fasilitasnya cukup bagus, ada clubhouse-nya,” papar Komang.
Selain itu, desain rumahnya yang modern minimalis juga sesuai dengan selera Komang dan pasangan. Sebagai pasangan muda penyuka kepraktisan dan gaya hidup urban, apa yang dihadirkan pada rumah tersebut mampu menjawab impiannya akan wujud hunian idaman yang nyaman.
Komang juga menambahkan, “Meskipun tanahnya tidak terlalu luas, yaitu 60 m2, tetapi luas bangunannya 73 m2 dan punya tiga kamar, sesuai dengan keinginan saya. Menurut saya itu sangat cukup untuk tinggal berdua ditambah 5 ekor kucing peliharaan kami.”

Cerita Rumah Komang: Proses Pengajuan KPR Lancar, Dapat Promo DP

Cerita Rumah Komang: Proses Pengajuan KPR Lancar, Dapat Promo DP
"Kami bayar DP dan mengajukan KPR di awal Febuari dan disetujui akhir Febuari, lalu akad kredit akhir Maret. Dari situ semua sudah beres, dan serah terima kunci di bulan Juni ini,” cerita Komang.
Setelah membayar DP sebesar 5% dari harga rumahnya, Komang pun langsung mengajukan proses KPR. Ia mengajukan KPR ke dua bank rekanan perumahan tersebut. Salah satu pengajuan di salah satu bank tersebut gagal karena ia terlambat memasukkan surat keterangan gaji.
Namun di bank yang satunya lagi pengajuan KPR-nya malah disetujui dengan cukup cepat, bahkan ada promo DP 5%. Yang Komang ketahui dari hasil pencarian informasi perihal KPR melalui internet, rata-rata bank pemberi KPR memberi syarat pembayaran DP sebesar 10% hingga 20%. Jadi Promo DP 5% tersebut benar-benar membuatnya gembira.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
“Semuanya sangat lancar, seolah-olah rumah ini memang sengaja dibangun untuk kami. Kami bayar DP dan mengajukan KPR di awal Febuari dan disetujui akhir Febuari, lalu akad kredit akhir Maret. Dari situ semua sudah beres, dan serah terima kunci di bulan Juni ini,” cerita Komang.
Namun baru diketahui belakangan, ternyata proses serah terima kunci baru bisa dilakukan bulan Juli, karena pihak perumahan tersebut masih melakukan pengurusan surat-surat pembatalan dari pembeli rumah sebelumnya.

Tips dari Cerita Rumah Komang: Strategi Agar Proses Pengajuan KPR Lancar Jaya

Tips dari Cerita Rumah Komang: Strategi Agar Proses Pengajuan KPR Lancar Jaya
Menurut Komang, bagian yang menantang dalam pembelian rumah ini lebih banyak di proses menabungnya.
  1. Pastikan pilih bank yang bekerjasama dengan pengembang perumahan, karena akan sangat membantu prosesnya.
  2. Siapkan dana untuk DP, biaya KPR dan pengurusan surat-surat. Karena untuk pembelian rumah dengan KPR, ada biaya-biaya lain, misalnya:
  3. Biaya proses KPR sekitar 5 – 10% dari plafon.
  4. Untuk surat-surat seperti BPHTB, dananya bisa 5 – 8 % dari harga rumah.
  5. Dokumen sangat penting. Persiapkan semua dokumen dengan lengkap.
  6. Usahakan jangan ada cicilan apa pun, karena hal itu akan mempengaruhi besarnya plafon KPR yang akan disetujui oleh bank. Termasuk juga cicilan kartu kredit. Sebaiknya dilunasi terlebih dahulu saat mengajukan KPR.
Menurut Komang, bagian yang menantang dalam pembelian rumah ini lebih banyak di proses menabungnya. Berbekal dari pengalaman sebelumnya di mana ia lebih banyak mengeluarkan dana untuk hal lain, seperti traveling.
Ada hal penting yang baru disadari Komang, setelah dipikir lebih lanjut ternyata pengeluarannya setiap bulan untuk sewa unit apartemen dua kamar itu sama dengan 50% cicilan rumah barunya ini per bulannya. Apalagi rumah ini dicicil Komang berdua dengan pasangannya. Dan meskipun rumah barunya bukan di pusat kota, tapi aksesnya mudah karena memang nempel Jakarta Selatan, dekat stasiun MRT.

Cerita Rumah Komang: Bayar Cicilan KPR dari Penghasilan Tambahan

Cerita Rumah Komang: Bayar Cicilan KPR dari Penghasilan Tambahan
"Penghasilan tiap bulan yang kami dapat dari sidejob ini dimasukkan dalam rekening bersama sebagai tabungan untuk rumah,” ujar Komang.
Jika sebagian orang menyisihkan dana untuk mencicil KPR dari pendapatan gaji tetap setiap bulannya, sehingga menyebabkan banyak post pengeluaran lainnya yang diperketat, tidak begitu halnya dengan strategi Komang dan pasangannya.
“Saya dan pasangan selain punya pekerjaan tetap sebagai pegawai swasta, kami juga punya sidejob. Penghasilan tiap bulan yang kami dapat dari sidejob ini dimasukkan dalam rekening bersama sebagai tabungan untuk rumah,” ujarnya.
Trik ini terus mereka terapkan untuk pembayaran cicilan KPR dan renovasi jika nantinya diperlukan, sehingga keperluan untuk rumah tidak mengganggu cashflow dari pendapatan tetap mereka masing-masing.
“Saya pilih cara melunasi cicilan KPR dan keperluan rumah dari sidejob supaya tidak mengubah gaya hidup saya sendiri. Saya ingin tetap bisa menikmati hidup dan penghasilan tetap saya meskipun harus membayar cicilan KPR,” ujarnya lagi.
Bagi Komang yang sedari awal bekerja lalu menabung untuk membeli rumah dirasanya telah banyak menahan diri untuk melakukan efisiensi tanpa menikmati hidup. Mengapresiasi diri dengan hasil jerih payahnya selama ini cukup penting baginya.
“Saya adalah generasi sandwich di mana sebagian pengeluaran saya alokasikan untuk membiayai orang tua serta kuliah adik. Namun saya juga perlu untuk memanjakan diri, jangan sampai lupa untuk bahagia,” paparnya.
Hal ini juga yang membuatnya memutuskan agar seluruh biaya rumah ia ambil dari penghasilan pekerjaan sampingannya bersama pasangan. Komang tidak ingin memotong ‘jatah’ untuk orang tua dan biaya kuliah sang adik dari gaji tetapnya setiap bulan.

Cerita Rumah Komang: Cicilan KPR Jalan, Gaya Hidup Juga Tetap Jalan

Cerita Rumah Komang: Pertahankan Gaya Hidup Sambil Cicil Rumah
“Kenapa saya ingin tetap mempertahankan gaya hidup yang sekarang karena dari kecil itu aku sudah susah. Jadi dengan jerih payah yang berhasil dicapai sekarang, saya nggak mau malah downgrade lagi karena ada cicilan rumah ini,” terang Komang.
“Saya tetap ingin traveling, dan bisa membeli barang-barang yang saya suka, ya fashion atau produk beauty. Tapi jujur saya juga boros di makanan, saya itu suka makan enak ha ha ha,” gelak Komang.
Ia pun menambahkannya lagi, “Kenapa saya ingin tetap mempertahankan gaya hidup yang sekarang karena dari kecil itu aku sudah susah. Jadi dengan jerih payah yang berhasil dicapai sekarang, saya nggak mau kalau sudah bekerja tapi malah downgrade lagi karena ada cicilan rumah ini.”
Istilahnya cicilan KPR tetap jalan, kebutuhan gaya hidup juga tetap jalan tanpa perlu dikorbankan, begitu prinsip Komang dan pasangan.

Tanya Rumah.com

Jelajahi Tanya Rumah.com, ambil keputusan dengan percaya diri bersama para pakar kami

Tips dari Cerita Rumah Komang: Strategi Menikmati Hidup Sambil Mencicil Rumah

Tips dari Cerita Rumah Komang: Strategi Menikmati Hidup Sambil Mencicil KPR
  1. Giat mencari pekerjaan sampingan sebagai penghasilan tambahan.
  2. Tidak perlu pekerjaan yang berat. Contohnya, bisa menjalankan bisnis MLM atau memanfaatkan media sosial, karena pekerjaan semacam itu tidak terlalu banyak menyita waktu.
  3. Disiplin dalam pemanfaatan hasil dari pekerjaan sampingan hanya untuk keperluan rumah saja.
  4. Memberi batas pengeluaran ‘senang-senangnya’. Walau menikmati hidup, namun tetap dalam batas bujet yang wajar menurut Komang.
Untuk Komang, ia memilih memanfaatkan media sosial sebagai tambahan penghasilan dari pekerjaan sampingannya. Dari media sosial inilah ia mendapat klien yang secara rutin memberinya penghasilan tambahan.
Yang namanya penghasilan sampingan, tentu saja memiliki risiko jika sewaktu-waktu pemasukannya tidak stabil, misalnya saat ada proyek yang berhenti. Komang tetap memiliki pola pikir bahwa kondisi ‘aman’ ini bisa saja suatu saat berubah.
Komang pun bersiap jika suatu saat tidak menggantungkan sepenuhnya pembayaran cicilan KPR pada penghasilan sampingannya bersama pasangan. Dengan memperhitungkan risiko apabila pendapatan dari penghasilan tambahan ini berkurang, yang pasti dari penghasilan setiap bulan Komang dan pasangan masih sangat aman sebagai safety net.

Cerita Rumah Komang: Rumah untuk Investasi di Masa Depan

Cerita Rumah Komang: Rumah untuk Investasi di Masa Depan
Dari pengalaman masa kecilnya berpindah-pindah rumah kontrakan memang membuat Komang tidak neko-neko soal rumah yang kelak akan dimilikinya.
Ketika ditanya apakah rumah di Cirendeu ini sudah menjadi rumah impian Komang, dengan tegas ia mengiyakannya. Baik Komang maupun pasangannya tidak memiliki kriteria khusus, namun berdasarkan segala keunggulan rumah ini, mereka merasa sangat cocok.
“Ya, ini sudah menjadi rumah impian saya. Rumah ini tidak besar, tapi cukuplah untuk kami berdua nantinya. Dari segi desainnya yang minimalis, ini sangat mengikuti zaman,” ujar Komang.
Dari pengalaman masa kecilnya berpindah-pindah rumah kontrakan memang membuat Komang tidak neko-neko soal rumah yang kelak akan dimilikinya. Baginya, memiliki rumah sendiri itu saja sudah merupakan sebuah impian, impian yang berhasil diwujudkannya.
Memiliki rumah pun dirasa Komang sebagai sebuah investasi properti yang terus meningkat, ia sendiri tidak percaya jika dalam hitungan beberapa bulan saja (dihitung dari awal tahun 2021 hingga bulan Juni 2021), harga rumah Komang telah naik sekitar 17% yaitu sebesar Rp200juta.
“Sekarang saya sedang mulai memindahkan barang-barang, dan mengisi furniturnya sedikit demi sedikit. Rencananya saya akan mulai menempati rumah baru ini mulai di bulan Agustus nanti. Doakan ya,” ujarnya menutup perbincangan.
Itulah cerita perjalanan Komang yang hobi travelingnya terganjal pandemi, yang membuatnya jadi bisa punya rumah sendiri. Rumah dekat stasiun MRT, rumah yang jadi pengobat trauma masa kecilnya. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Primanila Serny, Foto: Zaki Muhammad

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini