Cerita Rumah Rani: Beli Rumah Pertimbangkan Prospek Investasi dan Manfaatkan Masa Garansi

Wahyu Ardiyanto
Cerita Rumah Rani: Beli Rumah Pertimbangkan Prospek Investasi dan Manfaatkan Masa Garansi
“Rumah itu tempat pulang. Tempat kita tinggal dan paling nyaman buat kita. Kalau sudah di rumah, rasanya nggak pengen ke mana-mana.” – Cerita Rumah Dewi Rani
Sejak menikah, Dewi Rani dan Rizki memutuskan untuk menyewa unit apartemen sebagai tempat bernaung. Apartemen memang menjadi pilihan tepat dan praktis untuk pasangan milenial, terlebih lokasi apartemen umumnya cukup strategis. Saat itu Rani, biasa ia dipanggil, bekerja di Jakarta Barat dan Rizki di Jakarta Selatan. Kenyamanan tinggal di apartemen pula yang mendorong mereka ingin membeli apartemen.
Namun niatan awal untuk membeli unit apartemen kemudian berubah menjadi rumah tapak. Proses pencarian pun berubah arah, kepraktisan tinggal di apartemen tak lagi menarik minat mereka. Selama setahun Rani dan Rizki mencari hunian yang cocok di hati.
“Perbedaan angle dalam mencari rumah pada akhirnya bisa kami cari jalan tengahnya. Saya menginginkan rumah besar, tidak apa rumah seken atau di daerah perkampungan, tetapi suami lebih mementingkan kenyamanan jadi inginnya rumah klaster,” jelas Rani.
Melalui berbagai liku perjalanan mencari rumah hingga ‘membenahi’ rumah yang memberikan kejutan sebelum ditempati, kini Rani dan Rizki, dan 11 ekor kucing kesayangan mereka telah menempati rumah impian mereka dengan luas tanah 105m2 dan luas bangunan 86m2 di kawasan Cibubur, Kota Bekasi.
Cari rumah yang areanya punya fasilitas lengkap, lingkungannya masih adem, dan selangkah ke pusat kota Jakarta seperti rumah milik Dewi Rani di Cibubur, Bekasi? Intip pilihan rumahnya di bawah Rp1 miliar di sini!

Cerita Rumah Rani: Niat Beli Apartemen Berubah, Pertimbangkan Keunggulan Rumah

Cerita Rumah Dewi Rani: Niat Beli Apartemen Berubah, Pertimbangkan Keunggulan Rumah
Rani merasa unit apartemen kurang lapang, apalagi ia sudah terbiasa tinggal di rumah orang tuanya yang berukuran besar.
Setelah menikah pada 2017, Rani dan Rizki langsung menempati unit apartemen sewa. Apartemen Green Palace yang berada di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, memang bikin mereka nyaman, hingga mereka terpikir untuk membeli dan berburu apartemen di area lain.
“Kita sempat naksir unit apartemen di MT Haryono yang sedang dibangun, kita lihat ke sana dan memang bagus. Tetapi setelah kita pikir, kok sayang ya harganya sekian tapi dapatnya hanya segini saja,” kata Rani.
Rani merasa unit apartemen kurang lapang, apalagi ia sudah terbiasa tinggal di rumah orang tuanya yang berukuran besar. Tak hanya itu, Rani juga merasa urung karena status kepemilikan apartemen harus diperpanjang kembali setelah mendekati waktu 20 tahun.
Perlu diketahui bahwa HGB apartemen memiliki masa kepemilikan dengan jangka waktu tertentu, sesuai dengan UU No.5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria yang memuat jangka waktu maksimal HGB adalah 30 tahun. Terkait bangunan apartemen, jika masa kepemilikan berakhir, maka status tanah kembali ke hak milik awal baik pemerintah atau pemilik aslinya dan bangunan harus dibongkar atau dikosongkan dalam waktu satu tahun.
“Selain itu, saya juga takut kalau ada gempa, karena sempat mengalami gempa pas lagi tidur. Wuihh, satu apartemen turun semua ke bawah! Ramai sekali, saya deg-degan karena kita ada di lantai 16 waktu itu. Habis itu kita berpikir jauh deh, dan memutuskan cari rumah tapak saja,” kenang Rani.

Cerita Rumah Rani: Kriteria Rumah Impian Harus Nyaman, Aman, dan Potensi Cuan

Cerita Rumah Rani: Kriteria Rumah Impian Harus Nyaman, Aman, dan Potensi Cuan
Tak hanya sekadar ingin rumah besar, ternyata Rani berkaca pada kedua orang tuanya yang telah lama berinvestasi dibidang properti.
Bagi Rani dan Rizki, ketika ada rezeki yang cukup besar datang, pergunakan untuk investasi. Karena jika didiamkan lambat laun uang pasti akan habis perlahan. Nasib baik datang di awal pernikahan, perusahaan startup yang dibuat Rizki diakuisisi oleh sebuah perusahaan besar. Hasilnya menjadi awal tabungan mereka, yang sebagian kemudian digunakan untuk DP pembelian rumah.
Selama setahun Rani dan Rizki tetap menyewa unit apartemen sambil terus melakukan pencarian rumah yang sesuai kriteria mereka. Kalau sedang di jalan mereka selalu memperhatikan spanduk iklan perumahan yang terpasang, dan jika di rumah pencarian lewat internet tak pernah berhenti. Berbagai situs properti mereka jelajahi, salah satunya listing properti di jual di Rumah.com.
“Kalau kriteria saya itu pengennya rumah besar karena orang tua saya rumahnya besar. Nggak masalah kalau dapatnya di perkampungan, rumah seken pun nggak masalah yang penting besar. Tapi kan rumah tangga isinya dua orang, suami ingin rumah klaster yang aman. Jadilah kita cari rumah klaster supaya kekeluargaannya masih kental,” jelas Rani.
Mau jadi tuan tanah atau juragan kontrakan? Kenali dulu ciri-ciri lokasi investasi yang prospektif berikut ini.
Tak hanya sekadar ingin rumah besar, ternyata Rani berkaca pada kedua orang tuanya yang telah lama berinvestasi dibidang properti. Dengan perbandingan harga yang sama misalkan, antara rumah klaster dengan sebidang tanah atau rumah seken di kawasan perkampungan, dalam beberapa tahun ke depan nilainya akan jauh lebih tinggi tanah yang lebih besar.
“Ibu saya pernah jual rumah seluas 300m2 di Jakarta Timur, belinya tahun 2011 harga Rp500 juta. Waktu dijual tahun 2017 angkanya sudah naik 3,5 kali lipat! Gimana saya nggak ngiler ha ha ha,” gelak Rani. Namun Rani juga tak memungkiri, harga rumah di mana pun dan apa pun konsepnya sejalan waktu akan terus naik. Seperti nilai rumahnya saat ini.

Cerita Rumah Rani: Naksir Rumah di Perbukitan, Tak Bisa Ditingkat, Dibatalkan

Cerita Rumah Rani: Naksir Rumah di Perbukitan, Tak Bisa Ditingkat, Dibatalkan
Rani dan Rizki pernah terpikat oleh banner yang dipasang di tol. Mereka mendatangi dan terkesan karena area perumahannya berada di perbukitan.
Dalam masa pencarian rumah, banyak hal yang dilalui Rani dan Rizki. Ketika mencari lewat internet, kata kunci yang ia masukkan adalah lokasi atau nama area, dan tentu saja kisaran bujet. Walau terfokus di sekitaran Jakarta Timur, karena rumah orang tuanya di sana, tetapi Rani juga melebarkan pencariannya ke wilayah Jabodetabek.
“Ada saja hal-hal unik dan zonk ha ha ha,” ujar Rani. Ia melanjutkan, “Jadi ada yang pasang iklan rumahnya itu besar dan lokasi nggak terlalu jauh, eh pas sampai di daerahnya yah masuk gang kecil banget, nggak sesuai sama deskripsinya,” jelas Rani sambil tertawa.
Rani dan Rizki pun pernah terpikat oleh banner yang dipasang di tol, karena tertarik, mereka segera mendatangi sebuah perumahan baru di Bogor. Sampai di sana Rani dan Rizki sangat terkesan. Area perumahannya seperti berada di perbukitan.
Lagi cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya pada laman AreaInsider
“Cantik rumahnya, dari luar hanya kelihatan satu lantai, tapi pas masuk ternyata dua lantai. Dapurnya ada di bawah tanah, lalu kamarnya juga banyak. Luas tanahnya 160m2, menggoda banget! Kita langsung bayar booking fee,” ujar perempuan periang ini. Walau luas tanah besar, bangunannya sudah dirasa cocok, tetapi kemudian pasangan ini lalu membatalkannya.
“Setelah berpikir satu bulan, kita mundur karena saat kami tanya apakah masih mungkin jika suatu saat kami ingin menambah tingkat, ternyata strukturnya tidak bisa mengakomodir keinginan itu. Karena lokasinya berbukit-bukit, kami khawatir kalau sering hujan bisa longsor. Ya sudah batal saja,” jelas Rani yang merelakan uang tanda jadi sebesar Rp10 juta hangus separuh.

Cerita Rumah Rani: Pilih Rumah Indent Klaster Pertama Produk Pengembang Ternama

Cerita Rumah Rani: Pilih Rumah Inden Klaster Pertama Produk Pengembang Ternama
Klaster yang dipilih Rani merupakan klaster pertama yang dibangun. Klasternya cukup besar, memiliki lima jenis tipe rumah dan terdiri dari 200 unit.
Karena Rani dan Rizki keduanya saat itu bekerja, mereka benar-benar selektif saat memilah rumah incaran yang didapat melalui internet. Tidak semua didatangi karena pertimbangan efisiensi waktu dan biaya.
Akhirnya dari berbagai pilihan yang telah disurvei, Rani dan Rizki pun menjatuhkan pilihan di sebuah klaster baru yang dibangun oleh salah satu pengembang ternama yang berada di Cibubur, Bekasi. Aksesnya mudah karena dekat dengan pintu tol, fasilitas umum lengkap, dari pusat kota tidak terlalu jauh, dan sesuai dengan bujet.
“Tahun 2018 akhir kita putuskan untuk membeli rumah indent di perumahan ini. Lahannya masih tanah, tetapi sudah ada rumah contoh yang kami langsung sreg. Dari awal memang kami sudah ‘berhitung’. Berpegang pada tabungan yang kami miliki, ditambah niatan KPR, maka kami mencari rumah yang harganya tidak boleh lebih dari Rp1,7 miliar. Mau rumah jadi atau jika harus renovasi, pokoknya jangan nambah biaya lagi,” jelas Rani.
Di perumahan ini, klaster yang dipilih Rani merupakan klaster pertama yang dibangun. Klasternya cukup besar, memiliki lima jenis tipe rumah dan terdiri dari 200 unit. Pada perkembangannya, kini telah berdiri tiga klaster baru yang dibangun, walau tidak seluas klaster pertama.
“Yang lucu, saat perumahan ini muncul di pencarian kami lewat internet, saya sedang dinas ke luar kota dan Rizki survei sendiri ke sana. Dia langsung jatuh hati. Lalu minggu depannya kita ke sana bareng, keliling unit, dan langsung booking rumah indent yang dibangun selama 1 tahun,” ujar Rani.

Cerita Rumah Rani: Pembelian Rumah Dapat Banyak Potongan Sekitar Rp50 Jutaan

Cerita Rumah Rani: Pembelian Rumah Dapat Banyak Potongan Sekitar Rp50 Jutaan
Proses pembelian rumah Rani juga berjalan cukup lancar. Harga rumah yang mereka pilih masih di bawah taksiran harga tertinggi Rani dan Rizki.
Dari lima tipe yang ditawarkan, Rani pilih yang paling besar, yang luas tanahnya 105m2. Perumahan ini berkonsep klaster dengan keamanan yang terjaga baik, kemudian aksesnya pun mudah. Ke depannya, dekat perumahannya rencananya akan dibangun jalan tol ke Cibitung.
“Yang juga bikin suka, walau masih berupa tanah tapi infrastruktur perumahan sudah jadi. Jadi ketika masuk ke gerbang perumahan langsung disambut jalan yang besar, walau cuma muat dua mobil tapi sisi kiri kanannya masih banyak space. Jalan masuk ke klaster juga nyaman, rumahnya bagus,” jelas Rani lagi.
Proses pembelian rumah Rani juga berjalan cukup lancar. Harga rumah yang mereka pilih masih di bawah taksiran harga tertinggi Rani dan Rizki. DP rumah yang dibayarkan saat itu sekitar 20 persen dari harga rumahnya dengan tenor KPR selama 15 tahun.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
“Waktu beli rumah, saya lumayan dapat banyak potongan. Jadi saat itu ada promo smart home, tapi saya nggak ambil jadi dikurangi sekitar 20 jutaan. Lalu karena kami pilih DP dibayar cash, bukan diangsur, kita dapat potongan lagi, total potongan jadi sekitar Rp50 jutaan,” kata Rani.
Rani menambahkan, “Untuk proses KPR juga dibantu oleh marketing dari pengembang karena sudah rekanan. Kita dibantu pilihkan yang suku bunganya terbaik untuk kami. Proses pengajuan KPR di bulan Juni, Oktober sudah akad kredit. Prosesnya cukup lancar, waktu itu kami pengajuannya joint income.”

Cerita Rumah Rani: Kendala Saat Rumah Sudah Jadi, Manfaatkan Masa Garansi

Cerita Rumah Rani: Kendala Saat Rumah Sudah Jadi, Manfaatkan Masa Garansi
Pengembang perumahan tersebut memberikan garansi rumah selama 3 bulan. Hal ini dimanfaatkan Rani dan Rizki untuk mengecek setiap sudut rumah.
Tepat satu tahun, rumah mereka pun selesai dibangun. Rani dan Rizki hanya beberapa kali saja menengok semasa pembangunannya. Mereka yakin semuanya akan berjalan lancar karena membeli rumah produk pengembang yang namanya cukup kredibel.
Ketika ditanya apakah ketika rumah sudah jadi lalu ada kendala, “Wah.. waaahhhh, kagetlah! Untung rumah jadi pas musim hujan, jadi waktu saya datang ada yang rembes bocor di beberapa area, dan tembok di belakang ada retakan. Padahal rumah baru kok sudah ada retakan,” ujar Rani.
Untungnya pengembang perumahan tersebut memberikan garansi rumah selama 3 bulan. Hal ini dimanfaatkan Rani dan Rizki untuk mengecek setiap sudut rumah. Kebetulan juga ibunya Rizki paham urusan rumah, kakeknya Rizki juga arsitek, jadi sang ibu pun diajak untuk ikut ngecek rumah.

Tips Rumah.com

Untuk rumah baru, setelah serah terima unit Anda bisa mengecek kerapihan kerja kontraktornya dari plester dinding bagian dalam. Jika terdapat kesalahan pengerjaan biasanya akan muncul retakan serabut pada beberapa sisi, yang bisa makin membesar ketika dinding akan dicat.

“Selain rembes, lantai granit ketika kita injak tanpa alas kaki kerasa betul tajam-tajamnya. Di sepanjang area teras juga lantai kita getok-getok kedengaran kalau kopong. Akhirnya kita minta dibongkar, dan kelihatan bawahnya kopong semua, pasir atau semennya sedikit. Lucunya, mereka berani bongkar, tapi granit yang dipasang belang-belang. Nggak tahunya mereka nggak punya stok yang sama," jelas Rani yang kemudian minta ganti dengan keramik yang paling mirip.
Tepat 30 Desember 2019 Rani dan Rizki akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah barunya. Pada 1 Januari 2020 rumah mereka pun resmi mulai ditempati. Dan berikut adalah tips memeriksa kelayakan rumah baru ala Rani.
  1. Coba berjalan tanpa alas kaki, rasakan permukaan lantai apakah terasa nyaman dan rata atau seperti yang ia alami, tidak rata bahkan tajam.
  2. Getok-getok lantai untuk menghindari pemasangan lantai yang kopong pada bagian bawahnya. Jika dibiarkan lama kelamaan bisa amblas.
  3. Cek kelembapan pada dinding, khususnya di area basah seperti kamar mandi dan area cuci piring. Jika terlihat ada noda jamur atau dinding lembab, merupakan tanda kebocoran.
  4. Cek retakan pada dinding bagian dalam juga luar bangunan. Retakan dengan lebar lebih dari 2 mm dapat memicu retakan yang lebih besar.

Cerita Rumah Rani: Tembok Empuk dan Kitchen Set Unik di Bawah Tangga

Cerita Rumah Dewi Rani: Tembok Empuk dan Kitchen Set Unik di Bawah Tangga
Setelah masalah tembok yang rembes selesai, akhirnya Rani membuat kitchen set unik di bawah tangga.
Pada 2021 lalu Rani melakukan renovasi kecil, khususnya untuk area dapur dan teras belakang. Teras belakang dijadikan tempat duduk-duduk bersantai dan tempat kesebelasan kucingnya bermain. Agar tidak terkena hujan, maka dipasang kanopi dan sliding door.
Area teras belakang ini terlihat lapang karena membobok tembok pembatas yang awalnya ada. Agar tambah estetis Rani mempercantiknya dengan deretan kaktus koboi. Untuk dapur, Rani terpaksa merenovasi setelah terus menerus keluar rembesan air dari tembok padahal sudah dipasangi keramik backsplash, kemudian juga dari top table semua basah keluar rembesan air sampe menggenang.
“Saya panggil pihak pengembang lagi, walau sudah lewat masa garansi tapi kami belum ubah sedikit pun area dapur jadi mau minta pertanggungjawaban. Itu bagian bawah udah saya taruh ember semua. Waktu granit di top table dibongkar, nggak ketemu masalahnya,” ujar Rani.
Rani melanjutkan, “Ternyata dari dalam dinding, selang air ada yang bocor. Walau bocornya kecil tapi karena nyaris setahun ya kelamaan backsplash dan top table-ku hancur. Kita bongkar sampai dalam, waktu bobok temboknya ih itu udah empuk banget kayaknya, gampang ancurnya.”
Akhirnya Rani membuat kitchen set unik di bawah tangga setelah masalah tersebut selesai. Bersamaan dengan itu, Rani membuat akun Instagram @omah_rani karena ia melihat banyak bermunculan akun rumah, dan setelah resign dari pekerjaannya Rani pun asik membuat konten seputar rumah.

Cerita Rumah Rani: Rencana Taman Belakang Jadi Ruangan Main Khusus Kucing

uangan Main Khusus Kucing
Rani sangat mensyukuri atas rumah yang kini sudah dimiliki. Ia pun lega karena selain punya hunian sendiri sekaligus juga berinvestasi di properti seperti orang tuanya.
“Lucunya, semenjak saya punya akun rumah, orang di klaster lain perumahan ini banyak yang DM saya. Mereka banyak tanya, tentang air, dan lainnya. Malah ada yang motretin dinding dapurnya pas lagi dibangun, hebel yang dipasang di rumah dia itu hebel patah-patah. Ketahuannya pas mereka lagi nengok ke rumah yang masih dibangun. Wah saya langsung kaget, lhaa rumah saya gimana ya jangan-jangan…. sama juga..,” tawa Rani pasrah.
Terlepas dari itu semua, saat ini Rani sangat mensyukuri atas rumah yang kini sudah dimiliki. Ia pun lega karena selain punya hunian sendiri sekaligus juga berinvestasi di properti seperti orang tuanya. “Jadi kalau ada pikiran orang nggak mau punya tanah banyak karena takut jualnya susah, bisa aja kok sertifikatnya saja yang digadai jika perlu modal usaha,” ujarnya.
Bahkan nilai rumahnya pun dalam jangka waktu 4 tahun sudah mengalami kenaikan sekitar hampir 30 persen. Lalu apalagi sih yang ingin ditambahkan Rani di rumahnya nanti? “Mungkin taman belakang diubah jadi ruangan khusus kucing sekaligus tempat mainnya ha ha ha,” ujarnya menutup obrolan.
Jadi jangan patah semangat walau mungkin sulit menemukan rumah impian dengan cepat. Percayalah, pasti ada pilihan rumah yang cocok di hati dan juga pundi. seperti halnya Rani dan Rizki yang telah menemukan hunian impiannya, yang juga menjadi tempat bermain bagi kesebelas kucingnya.
Itulah cerita pengalaman Rani yang beli rumah berdasarkan pertimbangkan matang. Selain kenyamanan pertimbangkan prospek investasi, ketika terjadi kendala manfaatkan masa garansi. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Erin Metasari, Foto: Adiansa Rachman

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini