Cerita Rumah Tantri: Balada Pengajuan KPR Rumah Seken

“Boleh keluar rumah, tapi bukan mengontrak rumah. Keluar rumah harus sudah punya rumah sendiri.”
Cerita Rumah Tantri: Balada Pengajuan KPR Rumah Seken
Kedua orangtua mereka merasa sayang jika sejumlah uang dikeluarkan hanya untuk mengontrak rumah, bukan untuk mencicil rumah sendiri.

Begitulah kata ibunda dari Pitantri Saraswati waktu itu, sekitar 14 tahun yang lalu saat Tantri baru menikah dengan VV Viddi Gemparayana Elang Nuryayi. Sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya, pasangan Tantri dan Vevi –panggilan dari Vv- saat itu tinggal di rumah orangtua Tantri di daerah Swadharma, Ulujami, Jakarta Selatan.

Jika ada pasangan muda yang segera mengontrak rumah setelah menikah, tidak begitu halnya dengan mereka. Kedua orangtua Tantri, begitu juga dengan orang tua Vevi, merasa sayang jika sejumlah uang dikeluarkan hanya untuk mengontrak rumah, bukan untuk mencicil rumah sendiri.

“Kami di awal pernikahan masih merintis karier. Saat itu kami tinggal di rumah ibu saya, kadang ke Bogor tempat orang tua Vevi. Di rumah orang tua saya ini tak terasa kami tinggal hingga 5 tahun,” cerita Tantri.

Saat itu memang Tantri yang bekerja sebagai environtmentalist di sebuah pabrik sepatu olahraga untuk pasar luar negeri di Serpong, merasa akses dari rumah orang tua cukup mudah untuk ke tempat kerjanya. Bis jemputan yang siap menjemput di pintu tol Kebon Jeruk memberinya opsi yang sangat mudah.

Mau punya rumah di kawasan Tangerang dengan harga di bawah Rp500 jutaan? Cek aneka pilihan huniannya di sini!

Vevi yang seorang arsitek juga sempat bekerja di Meruya sehingga aksesnya mudah dijangkau dari rumah orang tua Tantri. Dan dalam 5 tahun awal menikah tersebut, Tantri sempat harus membantu mengawasi anak-anak dari kakaknya yang sempat tinggal di rumah orangtua Tantri. Sehingga tak terasa 5 tahun pun berlalu.

Cerita Gerbang Perumahan Bikin Tantri Serius Punya Rumah Sendiri

Cerita Gerbang Perumahan Bikin Tantri Serius Punya Rumah Sendiri

Gerbang perumahannya yang luas dengan tatanan taman yang apik selalu tersimpan dalam memori tanpa perlu dibicarakan.

“Waktu itu awalnya kita berpikir, lucu kali ya punya rumah sendiri, terus main rumah-rumahan. Masa iya ikut orangtua terus,” kata Tantri mengenang saat masih tinggal di rumah orangtuanya. Dalam perjalanannya menuju tempat kerjanya, setiap diantar oleh Vevi mereka melewati jalanan yang sama menuju Serpong.

Sebuah gerbang perumahan yang dilalui entah kenapa selalu membuat Tantri menengok. Gerbang perumahannya yang luas dengan tatanan taman yang apik selalu tersimpan dalam memori tanpa perlu dibicarakan.

Daerah yang dilewati tersebut terletak di antara dua perumahan besar yaitu Alam Sutera dan Graha Raya Bintaro, tepatnya adalah Perumahan Duta Bintaro di area Kunciran, Tangerang. Dalam hati ternyata Vevi pun senang setiap melewati perumahan tersebut. Sehingga momen melewati jalanan tersebut membuat mereka sama-sama berandai-andai dalam hati.

Hingga suatu hari di tahun 2008 ada spanduk dipasang di depan perumahan tersebut yang menampilkan harga rumah baru di perumahan itu. Walau dalam hati Tantri membatin murah sekali harga rumah di situ, namun mereka saat itu belum tergerak untuk punya rumah sendiri.

Kurang dari hitungan satu tahun ada spanduk baru yang dipasang. Tapi angkanya berubah nyaris hampir dua kali lipat. Kenaikan harga yang cepat saat itu memang dipicu pesatnya perkembangan kawasan tersebut. Apalagi juga makin banyak perumahan baru yang mulai dibangun di sekitar kawasan tersebut .

Sebagai kawasan yang menjadi jalan penghubung ke Alam Sutera, pembangunan di kawasan tersebut terasa cepat. Jalan tol mau dibuka, juga sedang dibangun pusat perbelanjaan. Tak heran harga properti otomatis terdongkrak cepat.

“Kami terkejut dengan kenaikan harga yang cepat dalam tempo singkat. Dengan keterbatasan bujet, kami jadi lebih giat menabung agar bisa membeli rumah di tahun itu juga. Karena kalau tidak, harganya naik lagi dan bisa-bisa enggak terbeli rumah nih,” jelas Tantri.

Tentu saja waktu mulai memutuskan serius untuk punya rumah sendiri Tantri dan Vevi langsung masuk ke perumahan yang selalu dilewatinya tersebut. Dan mencari tahu mengenai promo harga yang tertera di spanduk yang terpasang.

100 Rumah Dijual Terpopuler di Indonesia

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

100 Rumah Dijual Terpopuler di Indonesia

Walaupun sudah kepincut dengan perumahan tersebut, namun mereka berdua mencoba mencari pembanding dengan perumahan-perumahan di daerah yang lain. Untuk mencari perumahan pembanding, mereka memanfaatkan listing perumahan yang ada di Rumah.com.

Bintaro, Ciledug, dan Serpong menjadi fokus area pencarian rumah pembanding. Alasannya karena kantor Tantri di Serpong, rumah orangtua di Swadharma, Ulujami, dan akses ke rumah mertua di Bogor mudah dicapai karena ada jalan tol.

“Jadi setiap akhir pekan kami survei keliling area tersebut naik motor dari pagi hingga sore. Tapi entah kenapa balik-baliknya ke kompleks itu lagi hahaha,” papar tantri. Selama 3 bulan mereka mencoba mencari pembanding agar lebih yakin lagi.

Cerita Alasan Pilih Membeli Rumah Seken Ketimbang Rumah Baru

Cerita Alasan Pilih Membeli Rumah Seken Ketimbang Rumah Baru

Tantri dan Vevi mengaku jika saat itu lebih tertarik untuk membeli rumah seken, karena rumah baru yang ditawarkan oleh pengembang posisinya sedikit jauh di dalam.

“Saya dan Vevi itu belum pernah tinggal di rumah kompleks. Jadi lucu juga saat kita melihat rumah-rumah itu bentuknya sama semua. Hanya cat luarnya saja yang beda-beda,” cerita Tantri sambil tertawa.

Perumahan Duta Bintaro ini bukanlah perumahan baru. Perumahan yang selalu membuat Tantri dan Vevi menengok ini terbagi dalam sistem cluster. Ada 8 cluster di dalam perumahannya, dengan masing-masing pintu akses yang terjaga aman.

Konsep yang ditawarkan di perumahan ini sebenarnya adalah RSS. Namun pengembangnya berhasil menciptakan lingkungan yang asri dan nyaman. Dengan fasilitas yang bagus, seperti ada kolam renang umum, setiap cluster memiliki taman-taman kecil yang rindang.

Karena lokasinya hanya 20 menit dari kantor Tantri, ternyata banyak rekan-rekan di kantornya yang tinggal di situ. Bahkan ada yang sudah sejak lama membeli rumah di situ dengan harga yang tentunya jauh lebih murah dibanding saat Tantri akan membeli rumah.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

“Karena banyak rekan yang tinggal di sana, besoknya di kantor saya tanya-tanya ke mereka. Bagaimana situasi disana, dan hal-hal lainnya,” kata Tantri. Ternyata ada salah satu rekannya yang memberi info, bahwa ada dua tetangganya yang mau jual rumah.

Tantri dan Vevi mengaku jika saat itu lebih tertarik untuk membeli rumah seken, karena rumah baru yang ditawarkan oleh pengembang posisinya sedikit jauh di dalam. Tantri berpikir jika suatu saat pas tidak ada kendaraan, jika posisi rumah berada di cluster depan bisa ia tempuh dengan berjalan kaki untuk ke gerbang utamanya. 

Cerita Batal Beli Rumah Seken Pertama Karena Pajak Jual Beli Rumah

Cerita Batal Beli Rumah Seken Pertama Karena Pajak Jual Beli Rumah

Penyelesaian pajak jual beli rumah dari pemilik pertama ke pemilik kedua belum selesai, artinya Tantri harus membayar pajak jual beli rumah dobel. Harga rumah murah, tapi pajaknya dobel, harga rumah pun jadi lebih tinggi.

Ada dua rumah seken yang dijual saat itu. Satu rumah tampak lebih besar dan kondisinya bagus, yang satu lagi lebih sederhana. Mengingat dana yang terbatas, pasangan yang saat itu sudah masuk ke tahun keenam pernikahannya itu memilih datang langsung ke rumah yang sederhana.

Rumah tersebut kepemilikannya sudah jatuh ke tangan kedua. Namun pemilik terakhirnya saat itu tidak menempati rumah tersebut. Hanya membelinya sebagai investasi. Rumah tersebut malah ditinggali oleh pemilik yang pertama atas izin pemilik kedua.

Kondisi rumah tersebut kotor, gelap, dan suram. Tetapi dengan harga yang ditawarkan membuat Tantri dan Vevi setuju, dan sudah membayangkan akan melakukan sedikit renovasi agar rumah tersebut lebih nyaman.

“Kita merasa lebih pede tanya-tanya tentang rumah ini, karena rumahnya lebih sederhana, harganya pasti lebih murah,” kata tantri. Ketika ia meminta dokumen-dokumen rumah untuk diproses, pemilik rumah sulit untuk bekerja sama.

Alih-alih meminjamkan dokumen aslinya untuk diperiksa BPN, mereka malah keberatan dan meminta uang mukanya dibayarkan duluan. Setelah pada akhirnya mereka mau meminjamkan dokumennya, ternyata ada masalah.

Pajak Jual Beli Rumah, Apa Saja?

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Pajak Jual Beli Rumah, Apa Saja?

Penyelesaian pajak jual beli rumah dari pemilik pertama ke pemilik kedua belum selesai, artinya Tantri harus membayar pajak jual beli rumah dobel. Harga rumah murah, tapi pajaknya dobel, harga rumah pun jadi lebih tinggi.

“Dengan berat hati kita batalkan, wah korban perasaan banget. Saya bertanya ke teman yang biasa mengurus dokumen rumah, katanya lebih baik tidak usah. Karena jika dipaksakan, bisa keluar biaya tak terduga lainnya,” papar tantri.

Cerita Jatuh Hati Pada Rumah Seken Kedua, Rumah Depan Taman

Cerita Jatuh Hati Pada Rumah Seken Kedua, Rumah Depan Taman

Posisi rumah seken kedua ini tergolong strategis, karena berada di depan taman sehingga sudut pandangnya yang lebih lapang.

Walaupun kecewa, namun Tantri dan Vevi mencoba terus melakukan pencarian rumah. Opsinya adalah rumah seken kedua yang diinfokan mau dijual, dan sebagai cadangan rumah baru ready stock, di Perumahan Duta Bintaro juga.

“Kami memberanikan diri untuk datang ke rumah seken kedua yang lebih bagus. Opsi rumah baru yang tersedia tidak kami ambil. Selain lokasinya jauh di belakang, di area tersebut tanahnya mengandung lempung, jadi airnya keruh. Saya diberi tahu oleh rekan yang membeli rumah baru di belakang,” jelas Tantri.

Posisi rumah seken kedua ini tergolong strategis, karena berada di depan taman sehingga sudut pandangnya yang lebih lapang. Rumah ini bagi Tantri tampak jauh lebih bagus dari rumah seken sebelumnya, karena sudah ditambah carport, pagar, dan teras. Ya, Tantri langsung jatuh hati pada rumah seken kedua ini.

“Enggak pede waktu mau tanya, takut mahal. Tapi rekan di kantor yang memberi info mendorong saya untuk bertanya, katanya si empunya rumah ini sangat baik. Itu kata kuncinya hahaha,” kata Tantri sambil tertawa.

Saat datang dan masuk ke rumah seken kedua ini Tantri dan Vevi cukup terkejut, walau rumah itu sudah setahun kosong karena pemiliknya pindah ke rumah yang lebih besar, tetapi kondisi rumahnya berbeda 180 derajat dari rumah seken pertama yang batal dibeli.

Rumah ini sangat bersih dan terang. Ternyata pemiliknya datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah ini jadi tidak ada debu sama sekali. Pemiliknya sangat baik, sehingga Tantri dan Vevi langsung merasa sreg dan berpikir harus berhasil membeli rumah ini, diusahakan bagaimana caranya.

“Waktu kita minta izin meminjam dokumen rumah untuk diproses, mereka langsung memberikan surat aslinya tanpa rasa khawatir sama sekali. Wah, kita kaget sekali, kok berbeda ya dari pemilik rumah yang sebelumnya,” kata Tantri yang merasa lega.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Sang pemilik berkata, sudah ada beberapa pihak yang tertarik dengan rumah ini. Ada yang mau dijadikan perluasan lahan sekolah TK, ada yang mau beli untuk dijual lagi. Mereka ternyata memilih siapa pembeli yang tepat, karena ternyata rumah tersebut memiliki nilai sejarah bagi mereka, itu adalah rumah pertama mereka dan mereka ingin wujudnya tidak berubah.

Dan mereka mengizinkan Tantri dan Vevi membeli rumah ini karena mau dipakai sendiri dan menilai ada persamaan lainnya. Mereka adalah pasangan suami istri yang sudah beberapa tahun menikah namun belum dikarunia buah hati. Tantri sendiri saat itu telah menikah dengan Vevi 6 tahun.

Cerita Dibalik Proses Pengajuan KPR dan Bayar DP Rumah Idaman

Cerita Dibalik Proses Pengajuan KPR dan Bayar DP Rumah Idaman

Di tengah masa menunggu dana masuk untuk melunasi DP rumah, tiba-tiba Vevi mendapat pesanan gambar mendadak yang dikirimkan melalui email.

Ketika seluruh dokumen persyaratan jual beli rumah sudah lengkap, maka selanjutnya langsung diproses ke notaris. Proses KPR untuk membeli rumah seken tentunya berbeda dengan membeli rumah baru. Bank akan menaksir harga rumah seken yang akan dibeli.

“Sebenarnya kita tahu kalau dana yang kita punya itu pasti akan kurang untuk membayar DP rumah. Maka dari itu kita mencari bank yang mau memproses KPR rumah seken dengan memberikan pinjaman yang jumlahnya besar,” jelas Tantri.

Sejak mulai berniat membeli rumah, dari pilihan rumah seken pertama, Tantri dan Vevi telah banyak mencari informasi tentang bank yang memberikan KPR untuk rumah seken. Dan akhirnya pengajuan KPR mereka di bank Niaga saat itu disetujui, dengan perhitungan yang terbaik bagi Tantri dan Vevi.

“Bank ini memberikan pinjaman 90% dari harga survei atau harga yang ditaksir pada rumah seken yang kita mau beli. Kita sadar kalau harga survei pasti berbeda dengan harga rumah sebenarnya, jadi kita harus siap untuk nombok selisihnya,” papar Tantri.

Setelah bank mengeluarkan harga taksiran akan rumah seken tersebut, ada selisih sekitar 15 juta dari harga jual rumah sebenarnya. Bank memberikan pinjaman sebesar 90% sehingga total Tantri dan Vevi harus melunasi 10%-nya ditambah selisih Rp15 juta tersebut.

“Dari uang yang kita punya, ternyata masih kurang sekitar Rp10 juta untuk melunasi DP. Waktu itu momennya menjelang Lebaran, kita memohon ke pemilik rumah agar temponya jatuh setelah Lebaran. Kita mau menunggu uang THR. Alhamdulillah pemilik rumahnya itu baik dan mengizinkan, bahkan membiarkan dokumen-dokumen asli yang kita pinjam untuk proses tetap kami pegang,” cerita Tantri.

Syarat Beli Rumah Bekas Lewat KPR dan Langkahnya

Mengajukan KPR dan Mengatur Cicilan

Syarat Beli Rumah Bekas Lewat KPR dan Langkahnya

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Di tengah masa menunggu dana masuk untuk melunasi DP rumah, tiba-tiba Vevi mendapat pesanan gambar mendadak yang dikirimkan melalui email. Sebuah cluster kecil yang berada di Manado membutuhkan jasa gambar 3D dari rancangan yang sudah ada.

“Memang sudah rejeki kalau rumah itu memang berjodoh dengan kita. Order gambar yang datang mendadak itu langsung dibayar dan prosesnya lancar, tidak ada revisi dan lain sebagainya. Jadi kita bisa langsung melunasi DP rumah itu,” ungkap Tantri lega.

Rasa lega pun menyelimuti Tantri dan Vevi. Rumah sudah terbeli, dengan proses KPR yang tidak berbelit-belit. Walaupun saldo tabungan saat itu tersisa tinggal satu juta rupiah, namun rasanya tak sebanding dengan kelegaan yang mereka rasakan. "Sungguh bulan Ramadan yang penuh berkah bagi kami," kenang Tantri.

Cerita Rumah Baru Berisi Barang Bekas, Tak Punya Meja Makan

Cerita Rumah Baru Berisi Barang Bekas, Tak Punya Meja Makan

Barang baru yang mereka miliki saat itu hanyalah kompor dan lemari es hadiah pernikahan yang selama ini tersimpan rapih di dalam boksnya dan belum pernah dibuka.

Dua bulan setelah Lebaran Idul Fitri, Tantri dan Vevi pindah ke rumah baru. Sungguh beruntung bagi mereka, tidak perlu ada renovasi saat itu. Kondisi rumah yang bersih dan rapi membuat rumah yang baru dibelinya bisa langsung ditempati.

Mereka memboyong furnitur yang bisa dibilang bukan milik mereka sendiri. Tempat tidur lama Tantri di rumah orangtuanya mereka bawa, juga sofa lama ibunda Tantri. Dari rumah orang tua Vevi pun mereka membawa beberapa perabotan. Minimnya dana saat itu yang telah habis untuk melunasi DP rumah membuat rumah baru mereka berisi barang bekas.

Barang baru yang mereka miliki saat itu hanyalah kompor dan lemari es hadiah pernikahan yang selama ini tersimpan rapih di dalam boksnya dan belum pernah dibuka. Peralatan masak pun dibawa dari rumah orang tua Vevi. Kedua orangtua mereka turut semangat mempersilakan anaknya untuk membawa apa yang mereka perlukan.

“Namun suatu hari saya dan Vevi kaget mendengar celoteh anak-anak kecil yang sedang bermain di depan rumah mereka sambil mengolok-olok temannya. Katanya, orang miskin lo, orang miskin, enggak punya meja makan! Spontan saya langsung keluar memarahi anak-anak tersebut. Hey, enggak boleh gitu ya sama temannya!” hardik Tantri saat itu.

“Kalau ingat saat itu saya jadi merasa geli. Kenapa saya yang emosi dan merasa tersinggung. Dalam hati saat itu rasanya kok sedih banget ya, karena memang saat itu kami tidak punya meja makan,” sambung Tantri lagi.

Saat itu satu-satunya meja yang dibawa Tantri yaitu meja peninggalan neneknya yang difungsikan sebagai meja serba guna. Hingga tiga tahun lalu mereka merasa tidak memerlukan meja makan karena menurut mereka hanya membuat ruangan jadi terasa sempit.

Tip Rumah
Jika berencana membeli rumah seken penting untuk memperhatikan legalitas dan bersikap lebih cermat. Apalagi jika beli rumah seken lewat pengajuan KPR atau Kredit Pemilikan Rumah.

“Kita beli meja makan itu baru 3 tahun lalu. Karena ruangan malah jadi sempit, awalnya kita letakkan saja meja makan tersebut di teras. Oh iya, bukan karena mau pamer ke anak-anak kecil yang saya marahi waktu itu ya,” kelakar Tantri.

Satu-satunya yang dilakukan oleh Tantri dan Vevi saat baru pindah rumah dengan sisa uang yang sedikit adalah membeli cat. Mengubah warna rumah bagian luar untuk memberi ciri pada rumah baru mereka. Jadi yang awalnya dinding rumahnya berwarna kuning mencolok mereka cat sendiri menjadi warna krem.

Cerita Kehamilan Tantri di Rumah Baru dan Melahirkan Anak Kembar

Cerita Kehamilan Tantri di Rumah Baru dan Melahirkan Anak Kembar

Dan tidak sampai satu tahun mereka menempati rumah barunya, Tantri hamil dan mengandung anak yang telah ditunggu-tunggunya selama 6 tahun.

Di perumahan mereka penghuninya kebanyakan adalah keluarga muda. Tantri dan Vevi merasa nyaman dengan kehidupan baru mereka. Bahkan saat tetangga sebelah rumah melakukan renovasi untuk membuat tingkat, pada tembok yang mereka bangun mereka membuat lubang sebesar 60x60 cm, terletak di antara carport Tantri dan halaman mereka.

Saat Tantri bertanya kenapa ada lubang, sang tetangga hanya menjawab, “Supaya bisa ngobrol dan tukeran masakan.”  Dan tidak sampai satu tahun mereka menempati rumah barunya, Tantri hamil dan mengandung anak yang telah ditunggu-tunggunya selama 6 tahun. Yang mengejutkan, pemilik rumah lama juga akhirnya mengandung anak pertamanya.

“Kami seperti menemukan sarangnya masing-masing di rumah baru kami. Jadinya anak saya dan anak pemilik rumah yang lama usianya sebaya,” cerita Tantri. Berkah besar bagi Tantri karena ternyata janin yang berada di dalam kandungannya itu kembar. Sepasang anak perempuan kembar kemudian lahir dan diberi nama Melba Allisha Terra Nuryayi dan Kalea Allegra Terri Nuryayi.

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Beruntung pemilik yang lama telah mengubah denah ruangan, yang tadinya rumah asli memiliki dua kamar tidur saja, telah diubah menjadi tiga kamar tidur. Sehingga lebih banyak ruang yang bisa dipakai untuk keluarga Tantri yang memiliki anak kembar.

Cerita Rencana Renovasi Rumah dengan Ruang Terbuka

Cerita Rencana Renovasi Rumah dengan Ruang Terbuka

Bayangan akan sebuah rumah impian yang mampu memberi ruang bagi setiap anggota keluarga, tanpa kehilangan ruang utama dimana seluruhnya dapat berkumpul bersama.

Selain mengecat rumah saat awal rumah ditempati, di tahun kedua Tantri dan Vevi juga sempat memberi sentuhan unik dengan mengecat pintu rumah menjadi warna merah. Kegemaran Tantri membaca majalah tentang rumah saat itu memberinya ide.

“Biar enggak bosan sekaligus kasih ciri khas supaya anak-anak waktu itu ingat yang mana rumahnya,” jelas Tantri. Namun beberapa tahun kemudian karena pintu tersebut keropos, Tantri memindahkannya ke dalam dan memesan pintu baru berwarna hitam. Dikatakannya saat itu anak kembarnya kecewa, karena ciri khas pintu merah sudah tertanam di benak mereka.

Kini rumah seluas 78 m2 ini telah 10 tahun dimiliki. Vevi yang adalah seorang arsitek selama ini telah menahan rasa dan keinginan. Keinginan untuk merenovasi rumah dengan desain sendiri serta membuat rumah bertingkat sedang direncanakannya.

“Kami ingin sekali mengubah rumah ini agar lebih modern. Dibuat tipe studio dengan gaya industrial agar ruangan terasa terbuka. Semoga dua tahun lagi bisa terlaksana, sekarang kita sedang menabung dulu,” jelas Tantri.

Bayangan akan sebuah rumah impian yang mampu memberi ruang bagi setiap anggota keluarga, tanpa kehilangan ruang utama dimana seluruhnya dapat berkumpul bersama. Seperti saat ini dimana area di depanTV menjadi ruangan favorit untuk keluarga. 

Bagi Tantri, arti sebuah rumah adalah tempat yang nyaman dan aman bagi keluarga. Apalagi di masa pandemi ini, dimana rumah adalah tempat ‘stay at home’ yang paling aman dan menjadi segala-galanya.

“Semakin anak beranjak remaja, tentunya masing-masing membutuhkan sudut privacy, begitu pula saya dan Vevi. Sekedar untuk time-off. Tapi tentu saja harus ada ruang terbuka di mana seluruh keluarga bisa berkumpul bersama,” ungkap Tantri menutup perbincangan.

Itulah balada perjalanan mewujudkan rumah impian Tantri yang sempat terganjal masalah pajak jual beli rumah sehingga membatalkan pengajuan KPR-nya. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Teks: Meta Oepadi, Foto: Hadi Barong

Baca Selanjutnya

Kalkulator Properti
Repayment Calculator Icon
Ketahui prakiraan uang muka dan cicilan rumah impian Anda dengan Kalkulator KPR Rumah.com.
Rp
Affordability Calculator Icon
Hitung perkiraan besar pinjaman dan cicilan maksimal yang bisa diajukan berdasarkan penghasilan Anda lewat Kalkulator Keterjangkauan Rumah.com
Refinancing Calculator Icon
Ringankan cicilan KPR Anda lewat refinancing. Hitung seberapa besar manfaatnya bagi Anda dengan Kalkulator Refinancing Rumah.com

Perumahan Baru di Tangerang Harga di Bawah Rp500 jutaan

Masukan