Contoh Surat Perjanjian Utang Piutang dengan Jaminan Sertifikat Tanah

Tim Editorial Rumah.com
Contoh Surat Perjanjian Utang Piutang dengan Jaminan Sertifikat Tanah
RumahCom – Proses pinjam meminjamkan uang sering kali dilakukan dengan asas percaya tanpa adanya ikatan perjanjian hitam di atas putih. Apalagi jika pihak peminjam adalah keluarga atau teman, rasanya sungkan untuk membuat surat perjanjian utang piutang.
Padahal, surat perjanjian tersebut sangat penting sebagai bukti adanya proses peminjaman sejumlah uang dari satu pihak pada pihak lainnya sehingga dapat ditagih di waktu yang telah ditentukan. Terlebih jika dana yang dipinjam sangat besar, selain surat perjanjian diperlukan juga jaminan seperti surat kendaraan atau sertifikat rumah.
Nah demi menghindari sengketa akibat mangkir membayar utang, Anda sebaiknya mengetahui bagaimana contoh surat perjanjian utang piutang dengan jaminan sertifikat tanah dan cara membuatnya seperti yang akan dibahas dalam artikel berikut ini:
  • Contoh Surat Perjanjian Utang Piutang dengan Jaminan Sertifikat Tanah
  • Komponen Surat Perjanjian Utang Piutang
  • Tujuan Pembuatan Surat Perjanjian Utang Piutang

Contoh Surat Perjanjian Utang Piutang dengan Jaminan Sertifikat Tanah

Pastikan kedua belah pihak menyetujui isi surat perjanjian utang piutang. (Foto: iStock – Domoyega)
Surat perjanjian utang piutang biasanya dibuat oleh pemberi dana kepada peminjam. Isi surat tersebut wajib dibaca kedua belah pihak agar kesepakatan yang dilakukan dianggap sah. Bagaimana kira-kira contoh surat perjanjian utang piutang dengan jaminan sertifikat tanah? Yuk simak langsung contohnya di bawah ini:
SURAT PERJANJIAN UTANG PIUTANG
Pada (hari/tanggal/tahun), kami yang bertanda tangan dibawah ini setuju mengadakan Perjanjian Utang Piutang, dengan keterangan sebagai berikut:
Nama:
Alamat:
Pekerjaan:
No. KTP/No. HP:
Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.
Nama:
Alamat:
Pekerjaan:
No. KTP/No. HP:
Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.
Melalui surat perjanjian utang piutang yang telah disetujui oleh kedua belah pihak di atas menyatakan bahwa:
1. PIHAK PERTAMA telah meminjam dari PIHAK KEDUA sejumlah uang sebesar Rp100.000.000,- (Seratus juta rupiah).
4. Bahwa mengenai pinjaman uang tersebut PIHAK PERTAMA memberikan jaminan surat tanah berikut dengan bidang tanahnya. Karena itu, kedua belah pihak bermaksud menetapkan dalam suatu perjanjian dengan pasal-pasal sebagai berikut:
Pasal 1
JUMLAH PINJAMAN
PIHAK PERTAMA dengan ini telah meminjam dari PIHAK KEDUA uang sejumlah Rp100.000.000,- (Seratus juta rupiah) dengan pengembalian uang selama 3 bulan.
Pasal 2
PENYERAHAN PINJAMAN
PIHAK KEDUA telah menyerahkan uang sebagai pinjaman sebesar Rp100.000.000,- (Seratus juta rupiah) tersebut secara tunai dan sekaligus kepada PIHAK PERTAMA pada saat perjanjian ini dibuat dan ditandatangani. PIHAK PERTAMA menyatakan telah menerimanya dengan menandatangani bukti penerimaan (kuitansi) yang sah.
Pasal 3
BUNGA
1. Atas utang sejumlah Rp 100.000.000,- (Seratus juta rupiah) tersebut, PIHAK PERTAMA dikenakan bunga setiap bulannya sebesar 2% (sepuluh persen) oleh PIHAK KEDUA.
2. Pihak yang dikenakan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat 1 pasal ini adalah sisa utang yang belum dibayar oleh PIHAK PERTAMA.
Pasal 4
SISTEM PENGEMBALIAN
PIHAK PERTAMA wajib membayar kembali utangnya tersebut kepada PIHAK KEDUA dengan cara pembayaran angsuran sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) setiap tanggal 27 selama dua bulan pada bulan (sebutkan nama bulan) dan (sebutkan nama bulan) dan angsuran ketiga senilai Rp. 40.000.000,- (empat puluh juta rupiah) pada tanggal 27 di bulan (sebutkan bulannya) sampai totalnya Rp 100.000.000,- (Seratus juta rupiah).
Pasal 5
BIAYA PENAGIHAN
1. Apabila untuk pembayaran kembali atas segala sesuatu yang berdasarkan perjanjian ini, diperlukan tindakan-tindakan penagihan oleh PIHAK KEDUA maka segala biaya-biaya penagihan itu baik di hadapan maupun di luar pengadilan menjadi tanggungan dan wajib dibayar oleh PIHAK PERTAMA.
Pasal 6
PENGEMBALIAN SEKALIGUS
1. Apabila PIHAK PERTAMA karena sebab apapun juga lalai atau ingkar dari perjanjian ini, namun masih ada utang yang belum lunas dibayar oleh PIHAK PERTAMA, maka selambat-lambatnya dalam waktu 2 bulan terhitung semenjak tanggal jatuh tempo, PIHAK PERTAMA wajib membayar lunas seluruh tunggakan yang belum dilunasi oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA.
2. Pihak yang digolongkan sebagai kelalaian atau ingkar janji PIHAK PERTAMA. Sebagaimana dimaksud pada ayat 1 pasal ini, apabila PIHAK PERTAMA lalai memenuhi salah satu kewajibannya, yang ditetapkan dalam perjanjian ini.
a. Terhadap PIHAK PERTAMA diajukan permohonan kepada instansi yang berwenang, untuk diletakan dibawah pengakuan atau untuk dinyatakan pailit.
b. Bilamana harta kekayaan dari PIHAK PERTAMA terutama bangunan rumah tinggal berikut dengan bidang tanahnya disita atau bilamana terhadap PIHAK PERTAMA dilakukan tindakan eksekusi untuk pembayaran kepada PIHAK KEDUA.
c. Bilamana PIHAK PERTAMA meninggal dunia.
Pasal 7
KUASA
1. PIHAK PERTAMA dengan ini memberikan kuasa kepada PIHAK KEDUA, untuk mengambil dan menguasai rumah dan tanah serta turutannya sebagaimana disebut pada pasal 7 untuk menjual atau melakukan lelang serta memiliki sendiri atas benda jaminan tersebut dalam rangka melunasi utang PIHAK PERTAMA.
2. Kuasa yang diberikan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA di dalam atau berdasarkan perjanjian ini, adalah bagian yang terpenting dan tidak terpisahkan dari perjanjian ini. Kuasa mana tidak dapat ditarik kembali dan juga tidak akan berakhir, karena meninggal dunianya PIHAK PERTAMA atau karena sebab apapun juga.
Pasal 8
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
1. Apabila ada hal-hal yang tidak atau belum diatur dalam perjanjian ini dan juga jika terjadi perbedaan penafsiran atas seluruh atau sebagian dari perjanjian ini, maka kedua belah pihak telah sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat.
2. Jika penyelesaian secara musyawarah untuk mufakat tidak menyelesaikan perselisihan tersebut, maka perselisihan tersebut akan diselesaikan secara hukum yang berlaku di Indonesia.
Pasal 9
LAIN-LAIN
Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam perjanjian utang piutang ini, akan diatur lebih lanjut dalam bentuk surat menyurat dan atau addendum perjanjian yang ditandatangani oleh para pihak yang merupakan salah satu kesatuan atau bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini.
Pasal 10
PENUTUP
Perjanjian Utang Piutang uang ini dibuat rangkap 2 (dua), di atas kertas bermeterai cukup untuk masing-masing pihak yang mempunyai kekuatan hukum yang sama dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, serta tanpa unsur paksaan dari pihak manapun.
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
(……………………….) ( ………………..)
SAKSI-SAKSI:
(………………………………….)

Komponen Surat Perjanjian Utang Piutang

Identitas peminjam uang sangat penting.
Setelah mengetahui contoh surat perjanjian utang piutang dengan jaminan sertifikat tanah, Anda pasti menyadari ada beberapa komponen penting yang wajib dituliskan di dalamnya. Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Data Diri Kedua Belah Pihak

Hal utama yang harus ada dalam surat perjanjian utang piutang adalah identitas dari kedua belah pihak. Tujuannya untuk menunjukkan kedudukan siapa yang menjadi pemberi pinjaman dan pihak yang meminjam. Selain nama, sertakan juga nomor KTP, alamat, nomor telepon aktif, dan pekerjaan.

Tips Rumah.com

Pastikan menghadirkan saksi dan dokumentasikan proses pemberian utang sebagai bukti kuat jika terjadi sengketa.

2. Nominal Pinjaman

Komponen krusial lainnya yang harus tertera di surat perjanjian utang piutang adalah nominal pinjaman. Tanpa adanya poin ini, pihak peminjam bisa saja berkelit jumlah uang yang ia terima lebih kecil dari sebenarnya. Karena itu tuliskan secara jelas nominal pinjaman dalam bentuk angka dan huruf.

3. Tujuan Pinjaman

Sebagai kesepakatan bersama, tujuan peminjaman dana bisa dituliskan agar kedua belah pihak mendapatkan informasi yang transparan dan adil. Namun poin ini bersifat opsional dan tidak masalah jika tidak dituliskan.

4. Waktu dan Mekanisme Pembayaran Pinjaman

Penyebutan waktu pengembalian dana harus ditulis dengan jelas agar pihak peminjam menyadari tanggung jawabnya membayar tepat waktu. Selain itu, hal ini juga bisa memberi ketenangan bagi pemberi dana karena ada kepastian pengembalian. Tuliskan juga bagaimana mekanismenya apakah langsung lunas atau dengan cicilan. Jika menggunakan skema cicilan, berikan rincian berapa kali utang akan diangsur, waktu pembayaran, dan nilai yang dibayarkan pada tiap cicilan.

5. Jaminan Pinjaman

Ketika berurusan dengan pinjaman uang dalam jumlah besar, Anda tidak bisa hanya mengandalkan kepercayaan saja. Meskipun pihak debitur berjanji akan membayar, sebaiknya minta jaminan seperti sertifikat rumah atau barang berharga lain yang nilainya sama dengan jumlah yang dipinjam. Jadi, jangan lupa tuliskan bentuk jaminan yang diserahkan dan beri keterangan jika gagal bayar agunan akan disita oleh pemberi dana.

6. Kompensasi Pinjaman

Kompensasi pinjaman juga bisa ditambahkan dalam surat perjanjian utang piutang dengan jaminan sertifikat tanah. Contoh kompensasi yang bisa ditulis seperti penerapan jika pihak peminjam tidak mengembalikan dana tepat waktu.

7. Informasi Penyelesaian Perselisihan

Terakhir, Anda harus menyertakan informasi penyelesaian sengketa dalam surat perjanjian utang piutang dengan jaminan sertifikat tanah sebagai langkah berjaga-jaga jika ada konflik di masa mendatang. Tulis dengan jelas agar tidak ada salah penafsiran dari kedua belah pihak sehingga masalah bisa selesai dengan cepat dan adil.
Itulah komponen yang wajib ada di dalam surat perjanjian utang piutang. Sama halnya saat Anda membeli rumah juga wajib ada komponen penting dalam surat perjanjian jual beli rumah. Cek daftar hunian di kawasan Alam Sutera di bawah Rp1 miliar berikut ini!

Tujuan Pembuatan Surat Perjanjian Utang Piutang

Risiko konflik dan kesalahpahaman bisa diminimalisir dengan surat perjanjian utang piutang. (Foto: iStock – Fizkes)
Surat perjanjian utang piutang dengan jaminan sertifikat tanah kini tidak bisa disepelekan lagi karena memiliki landasan hukum yang jelas. Sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Pasal 1338, kesepakatan dalam surat perjanjian utang piutang tidak bisa ditarik kembali dan hanya bisa dikecualikan jika ada persetujuan dari kedua belah pihak. Dengan fakta tersebut, tujuan pembuatan surat perjanjian utang piutang antara lain:

1. Memberikan Ketenangan Bagi Kedua Belah Pihak

Dibuatnya surat perjanjian utang piutang bertujuan untuk memberikan ketenangan bagi kedua belah pihak. Pihak pemberi pinjaman bisa merasa tenang karena uangnya akan dikembalikan sementara bagi peminjam, ada keterangan tertulis bahwa jaminan akan tidak akan disita jika berhasil melunasi utang.

2. Bukti Pihak yang Terlibat Utang Piutang

Tujuan lain dibuatnya surat perjanjian utang piutang adalah untuk mengonfirmasi siapa saja pihak yang terlibat di dalamnya. Dokumen tersebut juga menjelaskan siapa yang jadi peminjam dan pemberi dana. Selain itu identitas masing-masing pihak yang dicantumkan bertujuan untuk menyelesaikan masalah jika peminjam mangkir dari pembayaran utang.

3. Bukti Konfirmasi Besaran Utang dan Waktu Transaksi

Penulisan nominal utang dan waktu transaksi yang jelas membuat surat perjanjian utang piutang bertujuan melindungi kedua belah pihak dari oknum yang ingin melakukan kecurangan dengan mengubah nilai transaksi.

4. Antisipasi Risiko Terburuk

Hal terburuk yang bisa terjadi dalam utang piutang adalah kegagalan debitur membayar kewajibannya. Karena itu, surat perjanjian utang piutang bertujuan melindungi hak pemberi dana dengan memperbolehkan menyita barang yang menjadi jaminan dimana bukti penyerahan agunan sudah tertulis dalam dokumen. Selain itu jika orang yang meminjam uang meninggal, utang bisa ditagihkan [ada ahli waris atau keluarga.

5. Menghindari Perselisihan

Perbedaan penafsiran jika perjanjian utang piutang hanya sebatas lisan sering jadi alasan terjadinya konflik. Apalagi jika masalah tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, peran surat perjanjian utang piutang jadi sangat penting sebagai bukti yang jelas sehingga kedua belah pihak tidak bisa merasa menang sendiri.
Tonton video berikut ini untuk mengetahui hal yang harus diperhatikan dalam surat perjanjian jual beli rumah!
Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini