Devaluasi adalah Penurunan Nilai Mata Uang. Ini Pengertian, Jenis, dan Penyebabnya

Tim Editorial Rumah.com
Devaluasi adalah Penurunan Nilai Mata Uang. Ini Pengertian, Jenis, dan Penyebabnya
Rumah.com – Pernahkah Anda mendengar istilah ‘devaluasi’? Istilah tersebut merujuk pada suatu kondisi penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang lainnya. Tapi bukan karena dinamika valas ataupun inflasi, devaluasi ini terjadi karena kebijakan moneter yang dibuat oleh pemerintah negara itu sendiri.
Untuk memberikan pemahaman terkait devaluasi, di artikel ini akan diuraikan berbagai sisi dari devaluasi, dengan topik-topik meliputi:
  • Pengertian devaluasi adalah
  • Penyebab devaluasi adalah
  • Tujuan devaluasi adalah
  • Contoh devaluasi di Indonesia

Pengertian Devaluasi Adalah…

Devaluasi adalah penurunan nilai mata uang suatu negara. (Foto: Pixabay – AG Pics)
Devaluasi adalah penurunan nilai mata uang suatu negara oleh pemerintah yang bersangkutan terhadap mata uang negara lain. Devaluasi terjadi akibat kebijakan moneter yang menetapkan suatu patokan kurs terhadap mata uang asing.
Kebijakan devaluasi pada dasarnya dilakukan sebagai langkah untuk memperbaiki kondisi perekonomian suatu negara. Kebijakan ini biasanya dilakukan terutama untuk merespon berbagai kondisi ekonomi yang memberatkan negara, sehingga diperlukan penyesuaian lewat devaluasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), devaluasi adalah penurunan nilai uang yang dilakukan dengan sengaja terhadap uang luar negeri atau emas, misalnya untuk memperbaiki perekonomian. Devaluasi mengurangi biaya ekspor suatu negara, sehingga meningkatkan kompetisi di pasar global dan mengurangi intensitas dan biaya impor.
Devaluasi untuk berpotensi menggenjot ekspor karena barang yang dijual dengan mata uang asing di luar negeri lebih murah dibandingkan dengan menggunakan mata uang dalam negeri yang nilainya merosot. Dengan begitu, permintaan dari luar negeri pun bisa meningkat.
Sementara di sisi lain, karena nilai uang dalam negeri melemah, maka impor berkurang karena harga beli akan menjadi semakin tinggi. Berkurangnya intensitas impor secara tidak langsung akan memacu pertumbuhan ekspor dan membuat belanja produk dalam negeri oleh masyarakat juga meningkat.
Pada intinya, keadaan devaluasi ini akan memberi pengaruh yang luas terhadap perekonomian suatu negara, terutama berkaitan dengan sektor perdagangan internasional. Kondisi ini dapat mempengaruhi suatu negara dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah

Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah

Penyebab Devaluasi Adalah…

Penyebab devaluasi terjadi karena berbagai faktor. (Foto: Pixabay – Alexandra Koch)
Devaluasi terjadi karena berbagai faktor, utamanya terkait defisit neraca pembayaran. Artinya, jumlah pembayaran suatu negara lebih besar dari jumlah penerimaan, sehingga hal ini menimbulkan tekanan perekonomian pada tataran yang luas.
Devaluasi biasanya sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumsi masyarakat di mana. Ketergantungan atau kebutuhan akan produk dari luar negeri begitu tinggi, sehingga semakin tinggi pula tingkat pembayaran ke luar negeri.
Impor yang tinggi itu jika tidak diimbangi dengan aktivitas ekspor yang massif pula, maka akan berdampak pada ketimpangan intensitas atau volume penukaran mata uang dalam negeri ke mata uang asing. Misalnya, penukaran dari rupiah ke dollar AS.
Aktivitas seperti itu pada akhirnya akan membuat kurs beli dollar akan naik, sementara nilai rupiah semakin turun yang bisa berujung kepada keadaan inflasi di dalam negeri. Nah, dalam hal ini, kebijakan devaluasi dihadirkan untuk menanggulangi tekanan tersebut, sebagai upaya untuk memulihkan kestabilan perekonomian suatu negara.
Selain karena tingkat impor yang tinggi, devaluasi juga dimungkinkan karena praktik ekspor yang cenderung terbatas, terpaku pada bahan dasar atau bahan pangan saja, sehingga tak banyak nilai tambah yang didapat dari aktivitas tersebut. Selain itu, devaluasi juga bisa disebabkan oleh memburuknya situasi ekonomi karena angka pengangguran yang tinggi.
Devaluasi biasanya menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperbaiki perekonomian suatu negara. Mau punya rumah namun cicilannya yang tidak memberatkan perekonomian keluarga di area Sawangan, Depok, di bawah Rp500 jutaan? Cek pilihan rumahnya di sini!

Tujuan Devaluasi Adalah…

Devaluasi memiliki berbagai tujuan. (Foto: Pixabay – Viarami)
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, devaluasi adalah suatu skema kebijakan moneter yang diadakan untuk merespon situasi perekonomian suatu negara yang melemah atau memburuk. Dengan menurunkan nilai mata uang, pemerintah suatu negara tengah berusaha untuk mendorong aktivitas ekspor, dan di sisi lainnya, membatasi impor.
Berikut beberapa tujuan dari kebijakan devaluasi:
  • Menguatkan perekonomian dalam negeri dengan menggunakan produk lokal, sehingga dapat bersaing di dalam dan luar negeri. Dengan meningkatnya harga produk impor, maka masyarakat pun akan beralih untuk lebih memilih produk lokal.
  • Dengan begitu, barang lokal di pasaran pun akan semakin mendominasi dan mendorong terciptanya iklim perekonomian yang sehat. Hal ini karena terjadi peningkatan konsumsi atas produk lokal, yang sekaligus akan memacu iklim usaha dalam negeri lebih kompetitif.
  • Mendorong ekspor dan membatasi impor. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki balance of payment atau keseimbangan biaya agar mencapai titik equilibrium atau ideal. Titik ideal ini adalah keadaan di mana perekonomian negara menjadi kembali sehat dengan intensitas dan nilai impor dan ekspor yang seimbang.
  • Tercapainya keseimbangan balance of payment pada akhirnya bisa menciptakan keseimbangan kurs valuta asing, sehingga menjadi lebih stabil. Selain itu, devaluasi juga bisa memicu pertambahan cadangan devisa negara.
Jika dari perspektif ilmu ekonomi devaluasi memiliki tujuan untuk menstabilkan kurs mata uang sekaligus meningkatkan perekonomian dalam negeri, maka dari sisi praktisnya, bagi masyarakat umum serta para pelaku usaha lokal devaluasi akan terasa mempengaruhi banyak hal.
Sebagaimana telah dijelaskan, devaluasi memungkinkan peningkatan ekspor. Jika itu terjadi, artinya aktivitas produksi di dalam negeri semakin tinggi, sehingga membutuhkan semakin banyak sumber daya untuk memproduksi. Karena itulah, banyak kesempatan kerja baru pun terbuka.
Devaluasi dapat meningkatkan output dalam jangka menengah maupun panjang. Peningkatan produksi mengindikasikan pergerakan usaha semakin banyak, sehingga terbuka banyak skema investasi atau penanaman modal baru di dalam negeri.

Tips Rumah.com

Manfaatkan fasilitas deposito dari bank yang menarik uang secara otomatis dari rekening tabungan setiap bulannya. Ini sangat membantu bagi mereka yang masih awam dalam mengatur keuangan

Contoh Devaluasi di Indonesia

Ini contoh-contoh devaluasi di Indonesia. (Foto: Pixabay – Weinstock)
Devaluasi bukanlah kebijakan yang begitu asing bagi Indonesia. Dikutip dari berbagai sumber, pemerintah Indonesia di masa lalu sudah pernah beberapa kali menerapkan kebijakan moneter satu ini. Berikut contoh devaluasi di Indonesia:
Pada Agustus 1971, pemerintah Orde Baru untuk pertama kalinya menerapkan kebijakan devaluasi. Ketika itu, kurs rupiah terhadap dollar AS yang semula Rp378 diturunkan menjadi Rp415. Harga tersebut bertahan hingga tahun 1978.
Kemudian pada November 1978, pemerintah mulai menerapkan devaluasi dengan kebijakan mengambang, di mana pemerintah tidak mematok kurs dalam tingkatan tertentu sehingga pelemahan rupiah terhadap dollar AS terus terjadi. Kala itu menjadi Rp625 per dollar AS. Kebijakan periode ini terutama untuk mendongkrak ekspor ke luar negeri.
Maret 1983, pemerintah kembali mendevaluasi rupiah yang semula Rp702 menjadi Rp970. Kemudian berlanjut pada September 1986, devaluasi rupiah kembali terjadi di mana nilai tukar mencapai angka Rp1.664.
Devaluasi sendiri hampir sama dengan sanering, Sanering umumnya dipahami sebagai kebijakan yang fokus pada pemotongan nilai uang dalam negeri, yang berarti juga penurunan nilai tukar rupiah terhadap uang asing.
Namun sanering biasanya diikuti dengan penarikan uang yang sedang berlaku dan menggantikannya dengan uang baru oleh bank sentral. Kebijakan ini biasanya dilakukan pada saat negara mengalami inflasi yang tinggi (hiperinflasi).
Pada Maret 1950, misalnya, muncul kebijakan yang dikenal dengan istilah ‘Gunting Syafrudin’. Ketika itu, pemerintah memotong nilai mata uang sebesar 50%. Misalnya uang Rp1.000 kemudian turun nilainya menjadi Rp500. Kebijakan sanering kala itu untuk merespon kondisi krisis keuangan Republik Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno dengan Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara.
Tonton video berikut untuk mempelajari nilai jual kena pajak!
Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini