Cerita Stadion Barombong Terkini, Renovasi Tidak Dilanjutkan Lagi?

Tim Editorial Rumah.com
Cerita Stadion Barombong Terkini, Renovasi Tidak Dilanjutkan Lagi?
Kehadiran Stadion Barombong selalu dinanti-nanti oleh pecinta sepak bola di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berbagai persoalan yang ada membuat pembangunan stadion ini belum juga rampung, bahkan terkesan mangkrak.
Stadion Barombong adalah stadion yang berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Stadion yang diperuntukkan bagi perhelatan sepak bola dan berbagai event lainnya ini tepatnya terletak di pesisir wilayah Barombong, Kecamatan Tamalate.
Lokasinya yang di pinggir pantai memberi keistimewaan tersendiri bagi Stadion Barombong. Tentu saja pemandangan pantai semakin menambah kemegahan dan keindahan stadion kebanggaan masyarakat Sulsel ini.
Untuk melanjutkan pembangunan Stadion Barombong, Pemprov mengaku masih menemui kendala, utamanya soal lahan. Dan bagi Anda yang sedang cari hunian di Makassar, temukan pilihan rumahnya di sini!
Sempat digadang-gadang menjadi salah satu penyelenggaran gelaran Piala Dunia U-20, namun hingga sekarang pun pembangunan Stadion Barombong masih tersendat. Lantas, apa yang membuat hal itu bisa terjadi?

Sejarah Stadion Barombong

Tahun 2011 menjadi awal pembangunan Stadion Barombong namun sampai saat ini masih belum selesai. (Foto: tirto.id)
Sebagai pintu gerbang di kawasan Indonesia Timur, Provinsi Sulawesi Selatan tentu memiliki peran penting di berbagai bidang, tak terkecuali olahraga. Karena itu sudah sepantasnya jika Sulsel memiliki stadion berstandar internasional yang bisa menjadi sarana bagi cabang olahraga yang digemari nyaris seluruh lapisan masyarakat, yakni sepak bola.
Keinginan untuk memiliki stadion kelas dunia sebenarnya mulai terwujud pada tahun 2011 silam. Pada awal tahun tersebut, Pemprov Sulsel di bawah komando Gubernur Syahrul Yasin Limpo ketika itu memulai pembangunan stadion di sebuah kawasan dekat pantai yang masuk wilayah Kelurahan Barombong.
Karena beralamat di wilayah Barombong inilah kemudian dinamakan Stadion Barombong. Soal nama stadion, sempat pula mengemuka untuk mengabadikan nama Syahrul Yasin Limpo yang telah menginisiasi pembangunan stadion. Namun hal itu urung dilakukan demi menghindari kontroversi di tengah masyarakat.
Bicara soal stadion, di Sulsel sebenarnya sudah ada stadion yang cukup besar dan berdiri sejak lama, yakni Stadion Andi Mattalatta Mattoanging di Kota Makassar. Stadion yang dikelola oleh Pemkot Makassar sudah mulai beroperasi pada tahun 1957 dan menjadi markas klub sepakbola kebanggaan warga Makassar, PSM Makassar.
Seiring waktu, Stadion Mattoanging sudah tidak lagi representatif untuk menggelar pertandingan bergengsi. Dengan kapasitas tribun yang hanya mampu menampung 15.000 penonton serta fasilitas lain yang kurang memadai, maka pilihannya adalah melakukan renovasi besar-besaran terhadap stadion ini atau membangun stadion baru lagi.
Pemprov Sulsel kemudian memilih untuk membangun sebuah stadion baru di atas lahan milik PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD). Dengan lahan seluas sekitar 3,35 hektare dan berada di pinggir pantai, masyarakat Sulsel membayangkan sebuah stadion terbesar di Sulsel dengan panorama yang menakjubkan.
Desain Stadion Barombong mengingatkan pada bentuk Stadion Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta. Kapasitas stadion diproyeksikan sanggup untuk menampung hingga 40 ribu penonton. Sementara fasilitas stadion mengacu kepada standar FIFA, organisasi yang mengatur regulasi persepakbolaan di dunia.

Insiden di Stadion Barombong

Tribun Stadion Barombong roboh karena cuaca ekstrem. (Foto: viva.co.id)
Sayangnya, proyek pembangunan Stadion Barombong sempat terhenti dan dimulai lagi pada tahun 2013. Lagi-lagi pembangunan tidak berjalan maksimal. Dan pada Desember 2017, sebuah insiden mewarnai pembangunan stadion yang sudah mulai “berbentu” itu, yakni robohnya lantai dua tribun selatan.
Robohnya tribun stadion diklaim karena cuaca ekstrem yang melanda Kota Makassar selama beberapa hari. Ditambah lagi dengan adanya angin kencang dari arah laut mengingat lokasi stadion yang berada di pinggir pantai. Beruntung tidak ada korban saat peristiwa itu terjadi.
Meski diwarnai insiden robohnya tribun penonton, pembangunan Stadion Barombong tetap jalan terus. Namun pada Juli 2019, Pemprov Sulsel menyatakan bahwa pembangunan stadion yang telah menghabiskan anggaran ratusan miliar tersebut akhirnya terpaksa dihentikan karena sejumlah persoalan yang membelit.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Kondisi Stadion Barombong

Bagian luar Stadion Barombong menjadi tempat penggembalaan hewan ternak. (Foto: detik.com)
Sangat disayangkan memang proses pembangunan Stadion Barombong yang telah mencapai 75% harus distop. Bagian-bagian utama stadion, seperti lapangan, tribun penonton, dan fasilitas lain hampir rampung.
Penghentian pembangunan Stadion Barombong dilakukan setelah pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan audit konstruksi dari Pemprov Sulsel. Artinya, sudah sekitar empat tahun stadion ini terbengkalai dan bisa dibilang mangkrak.
Sejak dihentikan, bukan berarti di Stadion Barombong tidak ada kegiatan. Cukup banyak komunitas masyarakat yang memanfaatkan stadion ini. Mulai dari latihan sepakbola, senam, dan kegiatan fisik lainnya.
Akan tetapi, makin hari kondisi stadion yang kabarnya telah menelan biaya lebih dari 240 miliar rupiah ini makin memprihatinkan. Pantauan terkini dari berbagai sumber mengatakan bahwa di sekeliling stadion nampak rimbun oleh tanaman liar, termasuk alang-alang dan rerumputan.
Area luar yang hijau tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh para pemilik hewan ternak. Kawanan sapi yang merumput di pinggiran Stadion Barombong menjadi pemandangan lumrah setiap harinya. Hal ini pula yang menyebabkan akses jalan menuju stadion dipenuhi kotoran sapi.
Secara umum, tampak luar Stadion Barombong terkesan kumuh dan cukup “angker”. Alih-alih digunakan untuk aktivitas fisik yang bermanfaat, kondisi bangunan tersebut malah digunakan oleh para muda-mudi untuk berpacaran.
Kejelasan status Stadion Barombong sudah banyak disindir berbagai kalangan, tidak terkecuali para anggota DPRD Sulsel. Bahkan ada yang mengibaratkan kondisi stadion ini bak besi tua atau barang ronsokan.
Walaupun terbengkalai bertahun-tahun dan terdapat kerusakan di sana sini, kondisi Stadion Barombong sebenarnya masih cukup aman jika hendak dilanjutkan. Hal itu seperti yang dikatakan oleh tim audit salah satu lembaga. Tentu saja harus dilakukan perbaikan dan penguatan konstruksi di titik-titik tertentu.

Kenapa Stadion Barombong Tidak Dilanjutkan

Sejumlah persoalan membelit pembangunan Stadion Barombong sehingga tak kunjung kelar. (Foto: sulsel.herald.id)
Titik berat dihentikannya pembangunan Stadion Barombong adalah persoalan lahan yang digunakan. Sampai saat ini, status kepemilikan lahan masih atas nama PT GMTD dan belum ada kesepakatan dengan pihak Pemprov Sulsel mengenai mekanisme penyerahannya.
Pihak PT GMTD berniat menyerahkan lahan tersebut dengan status sebagai fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Sementara di pihak Pemprov Sulsel mengusulkan penyerahan lahan melalui skema hibah murni. Komunikasi kedua pihak sejauh ini masih terus diupayakan untuk mencari titik temu demi kepentingan masyarakat.
Tahun 2019 lalu, GMTD dan Pemprov Sulsel sudah meneken Memorandum of Understanding (MoU) terkait penyerahan lahan Stadion Barombong. Namun hingga kini belum ada berita acara serah terima (BAST) untuk lahan seluas 3,35 hektare tersebut.

Di sisi lain, hasil audit tim dari Pemprov Sulsel mendapati konstruksi struktur tribun yang lemah. Jika diteruskan, tentu saja sangat berisiko, baik saat pembangunan sedang berlangsung maupun di kemudian hari.

Klub Bola Tanpa Stadion Kandang

PSM Makassar juara Liga 1 musim 2022/2023 tanpa stadion kandang. (Foto: detik.com)
Penantian yang sudah terlalu lama akan hadirnya stadion yang representatif memancing perhatian masyarakat Sulsel, khususnya warga di Kota Makassar. Bagaimana tidak, ketika klub kebanggaan Kota Makassar, yakni PSM Makassar meraih mahkota juara Liga 1 musim 2022/2023, tidak ada stadion yang bisa dijadikan markasnya.
Atas dasar itulah, Pemerintah Kota Makassar berinisiatif untuk mengambil alih Stadion Barombong. Dengan semangat ingin memajukan dunia olahraga, khususnya sepak bola, Pemkot Makassar sangat bersedia jika diamanahkan untuk melanjutkan pembangunan Stadion Barombong.
Gayung pun bersambut. Keinginan Pemkot Makassar mendapat angin segar dari segenap anggota DPRD Sulsel. Pasalnya, kebutuhan akan stadion menjadi prioritas yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan sebuah kota besar.
Upaya-upaya komunikasi dengan Pemprov Sulsel selaku pengelola Stadion Barombong pun dilakukan oleh Pemkot Makassar. Seiring pengajuan proposal tersebut, sejumlah rencana pendukung pun mulai disusun, seperti pembangunan jalan sebagai akses menuju kawasan Stadion Barombong.
Tidak tanggung-tanggung, Pemkot Makassar bahkan telah menyiapkan anggaran sebesar 100 miliar rupiah dari APBD untuk menyempurnakan Stadion Barombong. Jika kesepakatan dari berbagai pihak dapat terwujud, maka tidak perlu menunggu waktu lagi, pembangunan Stadion Barombong langsung “tancap gas”.
Semoga masyarakat Sulsel dapat segera mewujudkan mimpi memiliki stadion kelas dunia.
Tonton video yang informatif berikut ini untuk mempelajari tips memilih asuransi rumah yang tepat!

Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat AreaInsider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Penyangkalan: Informasi yang disajikan hanya sebagai informasi umum. PropertyGuru Pte Ltd dan PT AllProperty Media atau Rumah.com tidak memberikan pernyataan ataupun jaminan terkait informasi tersebut, termasuk namun tidak terbatas pada pernyataan ataupun jaminan mengenai kesesuaian informasi untuk tujuan tertentu sejauh yang diizinkan oleh hukum yang berlaku. Meskipun kami telah berusaha melakukan yang terbaik untuk memastikan informasi yang kami sajikan di dalam artikel ini akurat, dapat diandalkan, dan lengkap pada saat ditulisnya, informasi yang disajikan di dalam artikel ini tidak dapat dijadikan acuan dalam membuat segala keputusan terkait keuangan, investasi, real esate, maupun hukum. Lebih jauh, informasi yang disajikan bukanlah sebagai pengganti saran dari para profesional yang terlatih, yang dapat mengambil keputusan sesuai dengan kondisi dan situasi Anda secara pribadi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap hasil dari keputusan yang Anda buat dengan mengacu pada informasi yang tersaji dalam artikel ini.